Perjuangan Indonesia Membuka Kantor Diplomatik di Palestina - Jurnal Ummah
Load more

Perjuangan Indonesia Membuka Kantor Diplomatik di Palestina

Shares ShareTweet

Dengan dukungan mayoritas rakyat Indonesia, saat ini Indonesia sudah memulai langkah nyata mendukung kemerdekaan bangsa Palestina dari penjajahan Israel. Indonesia membuka Konsul Kehormatan RI di Ramallah untuk mempererat hubungan kedua negara (Foto ilustrasi: istimewa)
"Ketika kesepakatan sudah dicapai antara negara yang punya hubungan rahasia dan kemudian dilanggar maka jangan heran kalau kemudian Anda tidak bisa memasuki Palestina,"
YERUSALEM -- Setelah melalui proses yang sangat panjang dan melelahkan, serta desakan dari mayoritas umat Islam di Indonesia, saat ini Indonesia akhirnya berhasil membuka Konsulat Kehormatan Republik Indonesia di kota Ramallah, Palestina.

Tetapi dalam proses pembentukannya Indonesia tentu saja menjumpai sejumlah kendala dan peristiwa yang kurang diketahui oleh rakyat Indonesia. Berikut beberapa kisah perjalanan pendirian Konsul RI di Kota Ramallah rangkuman dari beberapa sumber;

Menlu Retno Dilarang Masuk Palestina

Salah satu peristiwa paling mendebarkan adalah pada Minggu (13/4) siang waktu Amman, Yordania. Ketika Menteri Luar Negeri Retno L.P Marsudi, disertai tim Kedutaan Besar Republik Indonesia hendak melawat ke Kota Ramallah, Tepi Barat, Palestina.

Keberangkatan gagal dilakukan karena beberapa jam sebelum Helikopter yang disediakan Angkatan Udara Yordania tidak mendapatkan izin melintas (over flight) dari Israel.

Israel saat ini menguasai jalur udara antara Yordania-Ramallah, dan setiap armada udara yang tidak mendapatkan izin dari otoritas Israel akan langsung ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Israel.

"Saya tidak tahu penyebab tidak diberikan clearance flight. Namun, kami sudah bisa menduga hal itu sebelumnya," kata Menlu.

Tujuan keberangkatan Menlu saat itu adalah untuk melantik Konsul Kehormatan Maha Abu Shusheh, yang akan mewakili kepentingan RI di Palestina di masa mendatang. Kendati rencana harus diubah, pelantikan berjalan lancar.

Sebagai jalan tengah, akhirnya Shusheh - tokoh pengusaha perempuan asli Ramallah - yang berangkat ke Amman. Pelantikan digelar bersahaja di aula KBRI.

Surat kabar Haaretz memperoleh sumber dari Tel Aviv yang mengetahui kronologi penolakan itu.

Israel Ungkap Perjanjian Rahasia

Wakil Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Hotovely mengatakan alasan Israel melarang Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengunjungi Ramallah adalah karena kesepakatan rahasia antara Israel dan Indonesia telah dilanggar.
Maha Abu Shuseh (baju merah) bersama rombongan RI, setelah dilakukannya pelantikan menjadi Konsul RI di Ramallah (Foto: istimewa)
Menurut perjanjian sebelumnya, ketika Direktur Kementerian Luar Negeri Israel untuk Wilayah Asia, Mark Sofer diam-diam mengunjungi Jakarta, kedua pihak sudah sepakat bahwa Menlu Retno juga akan mengunjungi Yerusalem dan bertemu pejabat Israel.

Jika kesepakatan itu diwujudkan maka Menlu Retno akan menjadi menteri luar negeri Indonesia pertama yang melawat ke wilayah Israel.

"Sudah ada kesepakatan jelas bahwa Marsudi akan mengunjungi Ramallah, termasuk ke Israel dan menemui pejabat senior di Yerusalem," kata Hotovely, seperti dilansir koran Haaretz, Rabu (16/3).

Namun kemudian Hotovely mengatakan Menlu Retno melanggar kesepakatan itu dengan membatalkan kunjungan ke Yerusalem.

"Ketika kesepakatan sudah dicapai antara negara yang punya hubungan rahasia dan kemudian dilanggar maka jangan heran kalau kemudian Anda tidak bisa memasuki Palestina," kata Hotovely menambahkan.

Sedangkan alasan Indonesia untuk tidak mengunjungi Israel adalah karena kedua negara tidak pernah memiliki hubungan diplomatik.

Siapa Sebenarnya Maha Abu Shusheh?

Pasti banyak yang bertanya siapa orang yang dilantik Menlu Retno, untuk mempererat hubungan Indonesia - Palestina.

Sosok itu bernama Maha Abu Shusheh, seorang perempuan Palestina 55 tahun. Shusheh, dikenal sebagai seorang pengusaha wanita sukses di Tepi Barat.
Iron Dome, sebuah sistem pertahanan udara yang akan menembak benda apapun yangh terbang di langit Palestina tanpa seizin pihak Israel (Foto: istimewa)
Dia pernah pula berkarir sebagai manajer di perusahaan kontraktor milik keluarganya Abu-Shusheh Contracting Co. sejak 1988.

Dia juga terjun ke bisnis keluarganya yang bermain sebagai agen tunggal mobil pabrikan Perancis Peugeot di Palestina. Perempuan ini pernah menjabat sebagai Presiden Direktur Riwaq (Asosiasi Pelestarian Warisan Arsitektur Palestina).

Tumbuh di keluarga yang berkecukupan, Shusheh tinggal di Tepi Barat, Palestina. Shusheh jarang bepergian ke luar negeri. Alasannya, dia tidak menyukai prosedur keamanan yang sulit di Tepi Barat.

Bisa saja dia bisa keluar namun sulit untuk masuk lagi ke kampung halamannya. Sebagian besar waktunya dewasa ini dipakai untuk mengembangkan bisnis, dengan bekerja di perusahaan pemborong jalan raya milik ayahnya.

Susheh memajukan bisnis keluarganya. Hingga saat ini, Shusheh masih menjabat sebagai ketua Palestinian Shippers Council (Asosiasi Eksportir dan Importir Palestina), serta Palestinian Business Women Forum (Asosiasi Pengusaha Wanita Palestina). (*JU)

Sumber: Antara/Merdeka/Haaretz

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER