Etnis Cina Larang Adzan dan Hina Imam, Warga Tanjung Balai Bakar Wihara - Jurnal Ummah
Load more

Etnis Cina Larang Adzan dan Hina Imam, Warga Tanjung Balai Bakar Wihara

Shares ShareTweet

Ribuan warga di Tanjung Balai meluapkan kemarahannya dengan membakar sejumlah Wihara di kota tersebut. Kemarahan warga dipicu oleh pelarangan adzan dan penghinaan terhadap imam masjid yang dilakukan seorang warga etnis Cina. (Foto: Istimewa)
“Dari keterangan masyarakat bahwa warga Cina tersebut membuat keributan di mesjid dan memaki imam yang sedang adzan di masjid karena tidak senang akan adanya adzan di mesjid hingga menyebabkan umat Islam menjadi marah,”
TANJUNG BALAI --- Sumatera Utara selama ini adalah kota yang kondusif bagi warganya dalam menjalankan ibadah, namun kali ini kerukunan beragama di Kota ini tiba-tiba terusik oleh warga keturunan Cina yang merasa terganggu dengan suara adzan pada Jum’at malam (29/7).

Kericuhan tersebut bermula saat seorang warga etnis Tionghoa tersebut yang identitasnya belum diketahui, warga Jalan Karya Tanjungbalai, mengamuk saat mendengar suara adzan di masjid Al Maksum Jl.Karya Tanjungbalai tepatnya di depan rumahnya sendiri.


Warga yang tidak terima dengan sikap warga etnis Cina tersebut akhirnya marah. melampiaskan kemarahannya dengan merusak  rumah  warga Cina yang keberatan dengan suara azan tersebut  dan beberapa vihara di Kota Tanjungbalai. Pihak Polres Tanjungbalai tidak dapat berbuat banyak karena jumlah massa yang terus bertambah.

“Dari keterangan masyarakat bahwa warga tersebut membuat keributan di mesjid dan memaki imam yang sedang adzan di masjid karena tidak senang akan adanya adzan di mesjid hingga menyebabkan umat Islam menjadi marah,” bunyi status yang beredar di media sosial, dikutip dari dnaberita.com.

Sedangkan menurut saksi mata, Yan Marpaung, 42, Warga menurut Yan sempat membubarkan diri, namun entah komando dari siapa, massa kemudian bergerak ke kelenteng di belakang masjid, di Jl Juanda.

Sedikitnya tiga vihara dan enam kelenteng yang dibakar massa di Kecamatan Tanjungbalai Selatan. Peristiwa ini terjadi antara pukul 1-3 dini hari tadi. Kelenteng itu menjadi sasaran pelembaran batu. Beberapa vihara dan kelenteng yang terpaut hanya beberapa kilometer kemudian menjadi sasaran amuk massa.

Mobil-mobil di sekitar vihara digulingkan dan dibakar, di antaranya adalah dua vihara terbesar di Tanjungbalai. Menurut Yan, gerombolan massa terbagi menjadi beberapa kelompok. Pasalnya, vihara dan kelenteng itu terbakar di waktu yang hampir bersamaan.
Masjid Al Maksum Jl.Karya Tanjung Balai. (Foto: Istimewa)
Belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian hingga saat ini. Tidak diketahui juga apakah ada korban dalam peristiwa tersebut.

Etnis Cina Sudah Lama Meresehkan Warga Sekitar

Sekretaris Forum Umat Islam (FUI) Tanjung Balai, Ustaz Luthfi Ananda Hasibuan mengatakan peristiwa tersebut menjadi puncak kemarahan warga akibat sikap warga etnis Cina yang selama ini arogan. 


"Mereka suka menyepelekan, suka semena-mena, jika kesenggol sedikit langsung marah dan tak segan-segan mengajak berkelahi," ujarnya saat dihubungi Suara Islam Online, Sabtu (30/7/2016).

"Dan sudah menjadi rahasia umum, sekitar Vihara sering terjadi prostitusi, mereka menjual anak-anak kita dari kaum muslimin," tambah Ustaz Luthfi.

Karena itulah, kata dia, warga sudah lama geram. "Selama ini kita sudah bersikap sabar, namun karena sudah keterlaluan dan kemarahan warga tak terbendung jadi sekarang ini puncaknya," ungkapnya.
 

Sebenarnya, lanjut Ustaz Luthfi, jika masyarakat dari golongan manapun bisa saling menghormati dan menghargai itu tidak akan ada masalah. "Kalau kita gak diganggu, agama kita gak diusik, itu gak akan ada masalah," jelasnya.

"Karena itu kita berharap kedepannya mereka tidak bersikap semena-semena lagi, dan jangan mengusik agama kita," harap Ustaz Luthfi.

Hingga Kini Suasana Masih Mencekam

Dilaporkan situasi di Tanjungbalai, Sumatra Utara, masih mencekam usai kerusuhan massa yang menyebabkan beberapa rumah ibadah umat Buddha dibakar. Satuan gabungan polisi dan TNI diturunkan ke lokasi untuk mengamankan keadaan.

Sejumlah aparat keamanan berusaha menenangkan warga Tanjung Balai yang marah. (Foto: Istimewa)
Camat Tanjungbalai Selatan, Pahala Zulfikar, mengatakan ada sembilan rumah ibadah dibakar, terdiri dari tiga vihara dan enam kelenteng, dan sebuah rumah kemalangan sosial Buddha.

“Pagi ini masih mencekam. Pengamanan ditambah satu kompi dari Brimob Tebing Tinggi, kemudian juga pihak Angkatan Laut dan TNI sudah ada di sini,” kata Zulfikar saat dihubungi CNN Indonesia, Sabtu (30/7).

Zulfikar mengatakan, ketakutan merebak di kalangan warga Tionghoa di daerah itu. Tidak ada yang berani keluar rumah, “bahkan kabarnya sudah ada yang keluar kota,” kata Zulfikar.

Dia mengatakan, ini adalah kali pertama insiden antar etnis pecah di daerah itu sejak kerusuhan nasional tahun 1998. Sebelumnya warga hidup rukun tanpa ada gesekan sosial apa pun.


“Baru kali ini terjadi lagi kerusuhan pasca 98. Tadinya warga rukun, namun gara-gara masalah kecil, jadi timbul kerusuhan,” lanjut Zulfikar.

Pembakaran terjadi sejak Jumat malam dan berakhir pada Sabtu dini hari. Selain rumah ibadah, beberapa mobil juga dilaporkan menjadi sasaran amuk massa.

Belum ada pernyataan resmi dari kepolisian terkait peristiwa ini. Belum juga diketahui adanya korban luka. “Namun polisi telah menahan beberapa provokator dan pelaku penjarahan rumah ibadah,” kata zulfikar.


Polri Himbau Masyarakat Untuk Tenang

Kepolisian Republik Indonesia mengimbau masyarakat di seluruh Indonesia agar mengutamakan musyawarah dalam mengatasi masalah demi mencegah meluasnya kerusuhan di Tanjungbalai, Sumatera Utara, dan meminta masyarakat tidak main hakim sendiri dengan membiarkan polisi menangani masalah itu.

Seluruh warga di Kota Tanjung Balai keluar dari rumah masing-masing mendengar adanya penghinaan terhadap umat Islam yang dilakukan seorang warga etnis Cina. (Foto: Istimewa)
"Dalam menyikapi suatu kabar permasalahan, masyarakat dan kita semua harus mengutamakan dialog dan musyawarah apalagi kabar tersebut terkait isu SARA agar tidak berkembang menjadi kerusuhan dan dendam berkepanjangan," kata Kadiv Humas Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar dalam pesan singkat, Sabtu.

Boy melanjutkan dalam melakukan tindakan juga, terutama yang berkaitan dengan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan), masyarakat tidak boleh main hakim sendiri.

"Penindakannya serahkan saja pada pihak berwajib, karena main hakim sendiri sama saja dengan tindakan melawan hukum," ujar Boy.

Saat ini, Polres Tanjungbalai dan TNI, tokoh masyarakat dan agama setempat telah mampu mengendalikan situasi keamanan di kota itu. (*JU)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER