Laskar Kristen di Bitung Terus Meneror Umat Islam, Media Massa Nasional Bungkam - Jurnal Ummah
Load more

Laskar Kristen di Bitung Terus Meneror Umat Islam, Media Massa Nasional Bungkam

Shares ShareTweet

Para pemuda gerombolan laskar Kristen di Bitung Sulawesi Utara, saat menyerang umat Islam dan melarang pembangunan masjid di wilayah tersebut. Umat Islam di Sulawesi Utara hingga kini terus saja mendapat teror, intimidasi dan diskriminasi dari penganut Kristen. Walau kejadian sudah terjadi berulang-ulang, tapi peristiwa ini seakan luput dari pandangan pemerintah dan bahkan banyaknya muncul laskar-laskar Kristen di Sulawesi Utara yang terus saja menyerang umat Islam seakan-akan mendapat perlindungan dari Pemda Sulut. (Foto: Istimewa)
"Mereka sangat brutal dan membawa senjata tajam, masjid dihancurkan, madrasah juga dibakar, kami kekurangan jumlah, dan juga karena banyak wanita dan anak-anak, kami hanya terpaksa bersembunyi melindungi keluarga masing-masing, percuma lapor polisi, karena laskar Kristen itu dilindungi Pemda,"
Bitung - Indonesia walau selalu digembar-gemborkan sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, namun perkembangan sejarah mencatat kekuatan mayoritas tersebut ternyata tidak mampu melindungi umat Islam dari penindasan, diskriminasi, teror dan ancaman yang dilakukan oleh penganut agama lain. 

Di Indonesia umat Islam yang mayoritas justru mengalami tekanan dari kaum minoritas, atau biasa dikenal dengan istilah 'tirani minoritas' terhadap golongan mayoritas.

Beberapa peristiwa kekerasan dan pembantaian yang dialami umat Islam sebut saja diantaranya seperti konflik Ambon, Poso, Sambas, dan Sampit. Dalam konflik Ambon contohnya, ribuan umat Islam tewas dibantai oleh umat Kristen tanpa adanya pembelaan dari rezim pemerintah saat itu. 

Di Sampit, selain membunuh ribuan umat Islam, masjid, pesantren, madrasah dan bangunan Islam lainnya juga dihancurkan oleh gerombolan laskar Kristen saat itu, yang mana media massa nasional juga bungkam.

Kini, kejadian yang sama kembali terjadi di daerah yang berbeda. Di Bitung, salah satu wilayah di Sulawesi Utara, sudah sejak lama umat Islam mendapat ketidakadilan, teror dan intimidasi dari laskar-laskar Kristen yang banyak muncul di daerah tersebut. 

Dengan alasan bahwa mayoritas rakyat di wilayah Sulut adalah penganut Kristen, pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Utara seakan menutup mata dan bahkan terkesan melindungi para gerombolan laskar Kristen itu.
Para pemuda gerombolan laskar Kristen di Bitung Sulawesi Utara, saat menyerang umat Islam dan melarang pembangunan masjid di wilayah tersebut. (Foto: Istimewa)
Seperti dilaporkan beberapa media massa independen setempat, aksi terorisme dan provokasi kembali dilakukan gerombolan Kristen radikal di Sulawesi Utara. Sejak Senin (9/11/15), kelompok teroris Kristen yang mengatas namakan dirinya Brigade Manguni dan Pasukan Waranai menyerang pembangunan Masjid Asy-Syuhada di Kompleks Aer Ujang, kelurahan Girian Permai, kecamatan Girian, Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Informasi terbaru, pada Selasa (11/11), rumah Bapak Karmin Mayau, ketua panitia pembangunan masjid tersebut mendapat teror dari gerombolan Kristen radikal, mereka menghancurkan pagar, jendela, rumah beserta isinya. Selain itu, beberapa rumah muslim lainnya juga ikut menjadi korban aksi vandalisme ini.


"Mereka sangat brutal dan membawa senjata tajam, masjid dihancurkan, madrasah juga dibakar, kami kekurangan jumlah, dan juga karena banyak wanita dan anak-anak, kami hanya terpaksa bersembunyi melindungi keluarga masing-masing, percuma lapor polisi, karena laskar Kristen itu dilindungi Pemda," kata seorang saksi mata yang tak ingin namanya disebutkan.

Saat ini, gerombolan teroris Kristen yang beratribut baju hitam-hitam ini masih terus mengepung kota Bitung. Mereka berada stanby di markaznya di Danau Wudu. Jarak antara Danau Wudu dengan pemukiman umat Islam hanya sekitar 200 sampai 300 meter.

Sehari sebelumnya, telah dilakukan upaya perdamaian kedua belah pihak yang difasilitasi oleh pemerintah dan para ulama setempat. Namun sayang, perdamaian ini dikhianati pihak teroris Kristen. Mereka kembali menyerang dan merusak rumah-rumah kaum Muslimin tadi malam.

Umat muslim terus berjaga-jaga dan bersiaga mengantisipasi serangan kembali teroris Kristen. Mereka juga telah membuat dapur umum, dan berbagai keperluan lainnya. Informasi yang disampaikan Ustad Sugianto Panglima Laskar Pembela Islam (FPI) Poso, bahwa aparat TNI Polri yang siaga di lokasi sangat sedikit, tidak lebih dari 100 orang.
Para anggota salah satu laskar Kristen di Bitung, saat melakukan latihan baris-berbaris dan latihan ala militer lainnya. Keberadaan laskar-laskar Kristen ini diyakini sebagian kalangan dilindungi oleh pemerintah daerah setempat, karena hampir semua aksi terorisme yang mereka lakukan terhadap umat Islam selalu tak tersentuh hukum dan bahkan seakan berusaha menutup mata. (Foto: istimewa)
Aksi terorisme yang dilakukan para laskar Kristen terhadap umat Islam di bitung dan Sulawesi Utara tersebut, seakan luput dari pemberitaan media massa nasional. Tercatat, tidak ada satupun media massa televisi nasional yang memberitakan atau menyiarkan kejadian ini, begitupun dengan media cetak. Hanya terdapat beberapa media online independen yang mengangkat peristiwa ini.

Intimidasi dan diskriminasi yang dialami umat Islam di Bitung dan Sulawesi Utara pada umumnya masih terjadi hingga kini. Meski setiap penyerangan yang dilakukan pihak Kristen berakhir begitu saja tanpa ada proses hukum, karena adanya sikap mengalah yang ditunjukkan Umat Islam di Bitung. 

Namun masyarakat setempat meyakini bahwa kedamaian yang sesaat itu hanya terlihat dipermukaan saja, dan akan sangat mudah terpancing menjadi pertikaian berdarah jika pemerintah daerah setempat tidak bisa bersikap adil terhadap umat Islam di daerah tersebut.

Sedikit melihat catatan sejarah, yakni konflik Ambon yang merupakan konflik terbesar yang terjadi antara Umat Islam dengan penganut Kristen sejak kemerdekaan RI juga dipicu oleh adanya sikap diskriminasi yang dialami umat Islam di Ambon. Konflik berdarah yang terjadi pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2000 tersebut, memiliki kemiripan dengan apa yang saat ini terjadi di Bitung dan di Sulawesi utara pada umumnya.

Yakni adanya pembelaan dari para tokoh-tokoh pemerintah daerah, diamnya pemerintah, terbatas dan tertutupnya akses informasi dari dan keluar kota Ambon sehingga peristiwa tersebut tidak diketahui oleh umat Islam lainnya di seluruh Indonesia. 

Kemiripan lainnya adalah peristiwa tersebut terjadi secara berulang-ulang hingga terjadi akumulasi permusuhan antara kedua kubu yang menimbulkan terjadinya pembantaian berdarah umat Islam di Ambon kala itu.
Salah satu simbol dan alamat markas Laskar Kristen di Sulawesi Utara. Saat ini banyak muncul laskar-laskar Kristen di Sulut yang umumnya bersikap radikal dan kasar terhadap umat Islam. (Gambar: Istimewa)
Di luar masalah agama, kemiripan peristiwa antara tragedi Ambon dengan apa yang terjadi saat ini di Bitung dan Sulawesi Utara adalah masalah kesenjangan sosial dan ekonomi.

Yakni para warga Muslim baik pribumi maupun pendatang, yang perekonomiannya dianggap relatif baik karena pekerjaannya sebagai pedagang dan lebih banyak berperan dalam pemerintahan menyebabkan kelompok Kristen merasa termarjinalisasi oleh keadaan tersebut.

Akankah dengan bungkamnya media massa nasional, dan diamnya pemerintah provinsi Sulawesi Utara dengan aksi teror yang dilakukan para anggota laskar Kristen tersebut kepada umat Islam, bisa menimbulkan tragedi Ambon jilid II? 

Dan, akankah karena sikap tak peduli antara sesama umat Islam, peristiwa pembantaian umat Islam seperti yang terjadi di Ambon, Sampit dan daerah lainnya di masa lalu, akan kembali terulang? Dan sampai kapan umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini hanya akan diam saja saat sang minoritas bersikap sebagai penguasa yang tiran? (*JU)

*Dari berbagai sumber

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER