Penyebab Kerusuhan Tanjung Balai, Polri Salahkan Media Sosial - Jurnal Ummah
Load more

Penyebab Kerusuhan Tanjung Balai, Polri Salahkan Media Sosial

Shares ShareTweet

Sebuah Wihara dibakar oleh warga Tanjung Balai, yang marah akibat penghinaan yang dilakukan seorang warga dari etnis Cina terhadap umat Islam di kota tersebut. (Foto: Istimewa)
"Semua masih dalam penyelidikan, kami belum mendapat data konkrit mengenai pemicu atau oknum yang memprovokasi terjadinya pembakaran dan perusakan,"
TANJUNG BALAI --- Kerusuhan bernuansa SARA yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara yang dipicu oleh sikap intoleransi seorang warga dari etnis Cina yang menghina umat Islam setempat, kini sudah mulai kembali kondusif. Kerusuhan yang berlangsung cepat tersebut sebelumnya sempat dikhawatirkan akan menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Namun, alih-alih berusaha menjabarkan dan menjelaskan detail pokok masalah kepada seluruh rakyat Indonesia terutama umat Islam, pihak Polri sudah langsung menjatuhkan telunjuk dengan menyalahkan media sosial, yang terlanjur cepat memberitakan dan menyebarkan peristiwa tersebut.

Ini disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, terkait kerusuhan di Tanjungbalai, Sumut yang terjadi, Jumat (29/7) malam hingga Sabtu (30/7) dini hari. Mantan Kapolda Metro Jaya itu mengatakan, pihaknya menemukan indikasi adanya isu-isu provokatif di medsos terkait insiden yang terjadi di Tanjungbalai tadi malam.

"Ada macam-macam gambar (di medsos) itu jangan sampai terpengaruh. Situasi di Sumut sudah tenang. Yang di Tanjungbalai sudah ditangani juga, sudah dilokalisasi. Tidak ada masalah," ujar Tito.

Ia pun menegaskan, kepolisian akan mengusut orang yang melakukan tindakan provokatif tersebut. "Nanti akan kita cari kalau memang ada yang mengirimkan ke media sosial yang berbau provokatif," kata dia.

Tito juga bersumpah untuk mencari orang yang menyebarkan isu negatif melalui medsos yang diduga menjadi pemicu kerusuhan di Tanjungbalai.

Polri Belum Miliki Data Konkrit

Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Raden Budi Winarso meninjau vihara, klenteng, dan gedung Yayasan Sosial Kemalangan yang dirusak massa saat terjadi kerusuhan di Kota Tanjungbalai, Sabtu.

Kapolda mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan mengenai puncak masalah yang mengakibatkan terjadinya aksi arnarkis gerombolan massa terhadap fasilitas ibadah tersebut.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian. (Foto: Istimewa)
"Semua masih dalam penyelidikan, kami belum mendapat data konkrit mengenai pemicu atau oknum yang memprovokasi terjadinya pembakaran dan perusakan," ujar Kapolda.

Menurut dia, jika terungkap dan terbukti melakukan provokasi, semua pelaku akan mendapat konsekwensi hukum sesuai peraturan dan UU yang ada. "Sabar ya, kami (Polisi) pasti mendalami dan mengusut kasus ini hingga tuntas," ujarnya di sela-sela meninjau tempat kejadian perkara.

Hingga saat ini, Polres Tanjungbalai telah mengamankan warga Cina yang memprotes penggunaan pengeras suara di rumah ibadah, yang diduga sebagai pemicu kerusuhan dan tujuh remaja yang diduga terlibat penjarahan saat aksi pengrusakan berlangsung.

Ketujuh remaja yang diamankan yakni FR (15), HK (18), AA (18), MAR (16), MRM (17), AJ (21) dan MIL (10). Sedangkan barang bukti yang diamankan di antaranya velg mobil, tabung gas elpiji, dan tape.

DPR: Kerusuhan di Tanjung Balai, Polri Harus Evaluasi Diri

Dua kerusuhan terjadi di Sumatera Utara. Pertama, penyerangan Polres Karo yang dipicu masalah relokasi pengungsi erupsi Gunung Sinabung. Kedua, kerusuhan bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan di Tanjungbalai, Asahan, Sumut.

"Hal ini harus mendapat perhatian serius dari Polda Sumut," kata anggota Komisi III DPR Aboe Bakar Al Habsy, Sabtu (30/7).

Aboe mengatakan, dalam menghadapi pengungsi Sinabung, aparat seharusnya mengedepankan pendekatan persuasif. "Sehingga tidak sampai terjadi penyerangan seperti ini," katanya.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu menambahkan, pola komunikasi yang dilakukan Polres ke masyarakat harus dievaluasi. "Perlu ditelusuri pula apa sebenarnya penyebab yang menjadikan letupan kerusuhan tersebut," ujarnya.
Kendaraan milik warga etnis Cina yang dibakar oleh warga Tanjung Balai. Aksi massa tersebut dipicu oleh sikap penghinaan yang dilakukan seorang warga Cina terhadap umat Islam setempat. (Foto: Istimewa)
Dia meminta aparat juga mendalami kerusuhan di Tanjungbalai. Dia mengingatkan, jangan sampai ada yang sengaja memancing saat air keruh. "Oleh karenanya Polda perlu melakukan pendalaman terhadap persoalan ini," pungkasnya.

BIN: Kerusuhan Tanjung Balai, Aksi Spontanitas Massa yang Marah

Kerusuhan berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di Tanjung Balai, Sumut disebut merupakan bentuk spontanitas warga. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso saat mengunjungi Danau Toba di Parapat, Simalungun, Sumut, Sabtu (30/7).

Menurut Sutiyoso, tidak ada perencanaan atau niat atas terjadinya insiden tersebut. Warga, lanjutnya, melakukan aksi tersebut secara spontan. "Itu kan spontanitas, perbuatan yang tidak direncanakan. Salah satu merasa tidak nyaman dengan suara adzan lalu secara spontan mendatangi (masjid) dan marah-marah, kan itu masalahnya. Itu terjadi juga reaksi yang spontan dari masyarakat yang mayoritas islam," kata Sutiyoso.

Sutiyoso mengatakan, saat ini, situasi di Tanjung Balai sudah kondusif. Personel Polri dibantu TNI, lanjutnya, sudah bisa mengendalikan kondisi di kota tersebut.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini pun berharap, kericuhan yang terjadi di Tanjung Balai dapat menjadi pelajaran untuk masyarakat dalam menjaga kerukunan umat beragama. "Ini pelajaran lagi ya, karena ini masalah sensitif, masalah agama. Seharusnya ketidaknyamanan disampaikan baik-baik dan diselesaikan dengan cara mufakat," ujar dia.

Sebelumnya, kerusuhan yang dipicu persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan terjadi di kota Tanjung Balai, Sumut, Jumat (29/7) pukul 23.30 WIB. Akibat kejadian itu, sejumlah wihara dan klenteng serta sejumlah kendaraan rusak akibat amukan massa.

Menurut polisi, kerusuhan tersebut dipicu adanya keberatan dari seorang warga etnis Tionghoa atas volume azan yang dikumandangan di salah satu masjid di Jalan Karya, Tanjung Balai. Nada bicara perempuan berinisial M tersebut saat menegur dinilai kasar dan menyinggung jamaah di dalam masjid.
Rumah milik warga etnis Cina yang dibakar oleh warga Tanjung Balai. Aksi massa tersebut dipicu oleh sikap penghinaan yang dilakukan seorang warga Cina terhadap umat Islam setempat. (Foto: Istimewa)
Informasi itu pun cepat menyebar dan memancing emosi warga. Kericuhan berbau SARA tak terhindarkan. Sejumlah tempat beribadah umat Buddha pun dibakar massa yang emosi.

Berdasarkan catatan, rumah ibadah yang dibakar dan dirusak terdiri dari enam vihara dan kelenteng yakni, Vihara Tri Ratna, Vihara Avalokitesvera, Klenteng Dewi Ratna, Klenteng Dewi Samudera, Klenteng Tio Hai Bio di Jalan Asahan, Klenteng Lyoung Jalan Sudirman.

Sedangkan yang dirusak yakni Vihara Vimalakirty, Klenteng Hien Tien Siong, Klenteng Macho, Klenteng Lin Kioe Ing Tong Jalan A Yani, Klenteng Huat Cu Keng Jalan Juanda.

Massa juga merusak dua gedung Yayasan Sosial Kemalangan dan Yayasan Putra Esa. Selain itu, enam unit mobil dibakar dan dirusak termasuk tiga sepeda motor dan satu unit becak bermotor. (*JU)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER