MUI: Teror Bom Gereja Skenario Jahat untuk Menyudutkan Islam - Jurnal Ummah
Load more

MUI: Teror Bom Gereja Skenario Jahat untuk Menyudutkan Islam

Shares ShareTweet

Aparat kepolisian masih menjaga gereja yang menjadi lokasi terjadinya aksi teror bom yang dilakukan seorang remaja. Menanggapi peristiwa ini, MUI pusat mendesak kepolisian menyelidiki dengan tuntas kejadian tersebut. MUI juga mencurigai adanya sebuah skenario jahat untuk menyalahkan atau menyudutkan Islam dalam kasus ini. (Foto: Twitter)
“Kita harus mencari penjelasan apa dan kenapa motif pelaku ini. Ada sejumlah pihak yang Ingin merusak nama dan citra Islam di mata masyarakat,”
JAKARTA -- Menanggapi kasus terjadinya penyerangan Pastor Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Jalan Dr Mansyur Kota Medan, Sumatera Utara, Ahad (28/8), Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta dan mendesak aparat kepolisian mengusut kasus tersebut secara tuntas, terbuka dan adil. 

MUI ingin mengetahui apa motif dari penyerangan tersebut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman baru di tengah masyarakat.

MUI Meyakini, ada motif berbeda yang ingin dilakukan pelaku dalam aksi teror tersebut. Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin mengatakan pihaknya belum mendapatkan informasi pasti apa motif pelaku ini. 


“Kita harus mencari penjelasan apa dan kenapa motif pelaku ini,” kata dia seperti dilansir Republika.co.id, Ahad (28/8).

Sebab selama ini menurut MUI, pihaknya dengan sejumlah lembaga, organisasi Islam dan berbagai elemen Muslim lainnya, terus berupaya melakukan upaya pencegahan dan radikalisme di tengah masyarakat. Dan pihaknya sudah seringkali menghimbau bahwa kekerasan dan pengeboman rumah ibadah bukanlah bagian Islam.


Namun Kiai Ma’ruf mencurigai bisa jadi ada pihak lain yang bertujuan lain, “Ingin merusak nama dan citra Islam di mata masyarakat,” ujarnya.  Karena itu MUI berharap aparat keamanan bisa menelusuri kemungkinan motif ini. “Aparat harus menyelidiki secara tuntas apa motif pelaku dan orang dibalik pelaku ini,” ujarnya.

Sedangkan Walikota Medan Dzulmi Eldin langsung turun menemui para pengurus Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Jalan Dr Mansyur Medan, tempat terjadinya percobaan bom bunuh diri, Minggu (28/8). Eldin terlihat langsung berdiskusi bersama para pengurus gereja tersebut pada halaman gereja yang sebelumnya disisir oleh tim Gegana Brimob Polda Sumatera Utara.

Remaja yang menjadi pelaku aksi teror bom di gereja, babak belur dihakimi oleh para jemaat gereja. (foto: Twitter)
“Kami himbau agar tidak simpang siur, jangan terlalu mendengarkan media sosial (medsos) yang belum tahu duduk persoalannya, kami hibau warga Medan tetap satukan persepsi bahwa ini sedang ditangani polisi, kita bersama-sama menunggu kajian dari polisi,” katanya kepada wartawan di lokasi.

Dzulmi Eldin mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi kinerja dari Polri dalam menangani persoalan tersebut. Sembari menunggu hasil penyelidikan dari polisi, ia meminta agar seluruh warga Kota Medan tetap menyatukan persepsi untuk menjaga stabilitas keamanan di Medan.

Sebelumnya terjadi teror bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Jalan Dr Mansur Nomor 75 Medan, Sumatera Utara, Ahad (28/8). Pelaku yang telah diketahui bernama Ivan ini berhasil melukai seorang Pastor bernama Albert S Pandiangan yang sedang melakukan khotbah. Pihak kepolisian hingga kini belum bersedia mengaitkan aksi teror tersebut dengan kelompok tertentu.

Media Massa dan Pemerintah Citrakan Islam Sebagai Teroris

Menanggapi adanya pencitraan buruk yang diberikan terhadap umat Islam setiap terjadi aksi teror di Indonesia, Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai, dalam isu terorisme, rakyat Indonesia selama ini dalam kerangkeng sudut pandang yang tendensius dan stigmatis.


Begitu mendengar teroris maka tergambar sosok pelakunya seorang Muslim, berjenggot, jidat hitam, celana cingkrang, keluarganya bercadar, memandang Barat (AS) sebagai musuh.

Salah satu contoh menurutnya seperti kejadian aksi teror bom di mall Alam Sutera, Serpong menjadi TKP, dan kasus ini adalah yang kedua kalinya terjadi, Harits meyakini terorisme sudah menjadi bingkai opini untuk membaca kasus bom Alam Sutera. Di lapangan, aparat dengan cepat bisa menangkap pelakunya dan hasil penyidikannya dibuka ke publik.

Namun, publik akhirnya dikejutkan oleh realitas aktual baru bahwa ternyata pelakunya adalah Leopard Wisnu Kumala (29) alias Leo dari etnis Cina dan beragama Katolik.

Leopard Wisnu Kumala (29) alias Leo, pelaku aksi teror bom di mall Alam Sutera, yang berasal dari etnis Cina dan beragama Katolik. (Foto: merdeka)
Menurut dia media akhirnya seperti gagap untuk menata ulang opini, bahkan sebagian pengamat yang sebagian besar memegang pakem metode cultural analysis framework juga kelu lidahnya.

"Sejak kejadian kali pertama (bom di toilet) di mal Alam Sutera, pihak kepolisian, para pengamat, BNPT dan media bernafsu untuk menggiring kasus ini masuk pada isu terorisme. Bahkan dicoba narasi keterkaitan dengan kelompok atau jaringan terorisme tertentu di Indonesia," kata Harits, Jumat (30/10).

Bisa jadi, kata dia, BNPT juga mules perutnya karena teori terorisme yang diusung selama ini kesandung di Alam Sutera. Maka, Harits meyakini hadirnya sosok Leopard dalam kasus bom mal Alam Sutera seperti titik balik yang bisa meruntuhkan stigmatisasi terhadap Islam selama ini dalam isu terorisme.

"Bagaimana tidak? Leopard seorang dari etnis Cina, beragama Katolik, pandai meracik bom dengan bahan peledak high explossive jenis Triaceton Triperoxide (TATP) kali pertama di Indonesia terjadi," katanya melanjutkan.


Bukan tidak mungkin kejadian aksi teror bom yang terjadi baru-baru ini di Medan juga akan langsung dilekatkan kepada Islam sebagai agama teror, ditambah lagi media massa nasional yang umumnya saham dan kepemilikannya dikuasai konglomerat China dan non-Islam biasanya akan langsung men-setting berita dengan menyudutkan Islam dan tendensius. [*JU]

Sumber: Republika

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER