Warga Etnis China Sudah Lama Lecehkan Muslim Tanjung Balai - Jurnal Ummah
Load more

Warga Etnis China Sudah Lama Lecehkan Muslim Tanjung Balai

Shares ShareTweet

Ketentraman warga Tanjung Balai terusik saat seorang warga Cina melakukan tindakan intoleran terhadap warga muslim setempat. Merasa dilecehkan, warga Tanjung Balai pu marah dengan membakar sejumlah Wihara di kota tersebut.
“Adzan itu sesuai aturan memang boleh disuarakan keluar dari masjid. Umat non-muslim juga harus paham aturan itu. Suara adzan itu indah, tidak mungkin bikin telinga pekak,”
TANJUNG BALAI -- Pasca kerusuhan bernuansa SARA yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara, banyak pertanyaan yang timbul di tengah masyarakat tentang siapa sebenarnya yang harus disalahkan dalam kasus tersebut. 

Hingga saat ini pihak kepolisian seakan hanya mengkambinghitamkan jejaring media sosial yang begitu cepat menyebarkan peristiwa tersebut, sehingga membangkitkan reaksi umat Islam dari berbagai daerah.

Namun hipotesa seperti itu dikritisi oleh salah seorang warga asli Tanjung Balai yang juga seorang ustadz. Bagi beliau kerusuhan bernuansa SARA di Tanjung Balai Jumat malam lalu hanyalah puncak dari kemarahan warga.

“Jangan selalu warga disalahkan tanpa melihat apa masalah sebenarnya. Insiden Jumat malam lalu, saya menilai merupakan puncak kekesalan warga yang sudah dipendam selama bertahun-tahun terhadap sikap warga keturunan non Muslim,” ungkap Dr Daud Rasyid Sitorus seperti dilansir dari laman Islampos.com (31/7/2016).

Sebagai putra daerah asli Tanjung Balai, Daud Rasyid sangat memahami tindakan anarkis warga dengan melakukan pembakaran rumah ibadah. Menurutnya bukan hanya sekali ini, warga keturunan yang non Muslim melakukan pelecehan terhadap mayoritas Muslim di Tanjung Balai.

Meskipun Tanjung Balai daerah yang multietnis, namun Muslim sampai sekarang merupakan warga mayoritas di sana, jadi setiap ada upaya yang dianggap menyentuh keberagamaan mereka, hal itu bisa memantik kemarahan, ungkap Daud Rasyid yang merupakan putra dari seorang Ustadzah terkemuka di wilayah itu.

Intinya kasus di Tanjung Balai ini jangan dilihat secara sepihak saja yaitu warga Muslim membakar vihara atau kelenteng, tapi lihat juga akar permasalahnnya,” terang beliau.
Dr Daud Rasyid Sitorus. (Foto: Hidayatullah.com)
Diakui oleh Daud Rasyid, masyarakat Muslim Tanjung Balai sangat toleran dan tidak bermasalah dengan etnis lain ataupun dengan agama lain. Dari dulu kehidupan di Tanjung Balai berlangsung dengan harmonis. 

Namun kearoganan sikap warga keturunan Cina kepada pribumi karena mereka menguasai perekonomian menjadi api dalam sekam. Ditambah lagi kearoganan itu mulai menyerempet ke wilayah keyakinan umat Islam mayoritas di sana.

“Sebelumnya warga Muslim pernah menggelar aksi protes terkait berdirinya patung Buddha besar di Tanjung Balai. Menurut mereka, patung itu melecehkan mayoritas Muslim di Tanjung Balai. Mereka mengadu ke aparat terkait, malah warga Cina yang dimenangkan bahkan persoalan ini sempat dibawa ke Jakarta. Sampe ada seloroh mereka, sekarang Muslim Tanjung Balai shalatnya sudah menghadap patung karena posisi dibangunnya patung Buddha pas di sebelah Barat arah mata angin,” papar mantan anggota dewan Syariah Partai Keadilan Sejahtera ini.

Daud Rasyid juga memperingatkan terkait makin bertambahnya vihara di Tanjung Balai di tengah mayoritas umat Muslim serta bertambahnya pendatang gelap asal Cina di wilayah tersebut.

“Pertambahan vihara mencolok kali di sana ditambah lagi masuknya pendatang gelap asal Cina lewat jalur Tanjung Balai yang sempat heboh beberapa waktu yang lalu. Jadi bak kata pepatah, api dalam sekam begitulah Tanjung Balai sekarang. Sedikit pemantik bisa jadi kerusuhan SARA,” pungkas pria yang sekarang menjadi Imam Besar Masjid Al-Hikmah New York ini.

MPR: Warga Cina yang Melarang Suara Adzan Juga Harus Diproses


Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) meminta aparat kepolisian di Sumatera Utara mengusut secara tuntas kasus kerusuhan yang dipicu masalah intoleransi kehidupan beragama di Tanjungbalai.

Namun, politikus senior PKS itu juga berharap agar warga non-muslim tetap bisa menjaga prinsip-prinsip toleransi antarumat beragama.
Merliana dan suaminya. Warga etnis Cina yang menjadi sumber pemicu terjadinya kerusuhan di Tanjung Balai. (Foto: istimewa)
“Adzan itu sesuai aturan memang boleh disuarakan keluar dari masjid. Umat non-muslim juga harus paham aturan itu. Suara adzan itu indah, tidak mungkin bikin telinga pekak,” ujar HNW, Minggu (317).

Di sisi lain, dia mengimbau agar umat Islam jangan mudah terporvokasi ketika mendengar informasi yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Agama Islam, ditekankan HNW, juga melarang umatnya membakar tempat ibadah agama lain.

Berulang kali HNW mendorong kepolisian melakukan proses penegakan hukum secara fair, proporsional, dan adil. Jika yang mempersoalkan suara adzan memenuhi unsur sebagai provokator, HNW meminta polisi juga memprosesnya secara hukum.

“Yang mempersoalkan suara adzan juga perlu diproses karena juga menjadi bagian dari masalah,” pungkasnya.

Ketenangan warga Tanjung Balai terusik, setelah salah seorang warga keturunan tidak terima dengan suara pengeras suara dari masjid (ada versi, perempuan warga keturunan itu masuk ke dalam masjid dan marah-marah) memicu terjadinya  kerusuhan bernuansa SARA.

Beberapa vihara dan kelenteng diserang dan dibakar warga yang terprovokasi oleh berita yang beredar. Tanjung Balai menjadi seperti lautan api akibat pembakaran tersebut.

Banyak pihak menyalahkan aksi anarki warga yang melakukan pembakaran rumah-rumah ibadah. Warga Muslim dianggap tidak toleran terhadap pemeluk agama lain.[*JU]

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER