Pembakar Masjid Diundang ke Istana, Pembakar Vihara Masuk Penjara - Jurnal Ummah
Load more

Pembakar Masjid Diundang ke Istana, Pembakar Vihara Masuk Penjara

Shares ShareTweet

Rakyat mengkritisi perbedaan perlakukan dan tindakan hukum terhadap para pelaku pembakaran Masjid di Tolikara dan pembakar Vihara di Tanjung Balai, Sumut. Rakyat meyakini ada ketidakadilan hukum yang dilakukan rezim Joko Widodo dalam menyikapi kerusuhan tersebut. (Foto: istimewa)
“Anak saya sepertinya dipukuli, mukanya lebam. Disini, di pipinya. Kita diminta membuat permohonan maaf kepada pihak Vihara dan umat Vihara dan diposting di media sosial,”
TANJUNG BALAI -- Kerusuhan bernuansa SARA di Tanjung Balai, Sumatera Utara, yang sempat menjadi pemberitaan nasional, kini sudah kembali kondusif. Namun, sejumlah pihak khususnya dari kalangan umat Islam meminta pihak kepolisian berlaku adil dalam menindak dan menyidik siapakah aktor intelektual yang menjadi pemicu kerusuhan tersebut.

Saat ini, polisi masih menjadikan media sosial sebagai pemicu kerusuhan itu. Sejumlah orang (beragama Islam) yang dianggap menyebarkan kebencian di dunia maya dalam kerusuhan itu kini sudah ditangkap, namun bagaimana dengan warga etnis Cina yang menjadi pemicu kerusuhan itu, apakah diperlakukan dengan hal yang sama juga? Pertanyaan itulah yang banyak menghinggapi benak umat Islam di Indonesia.

Hingga saat ini, belasan orang ditahan pihak Polres Tanjungbalai pasca insiden kerusuhan yang menyebabkan pembakaran dan pengrusakan sejumlah rumah ibadah. Diantara yang ditahan, sebagian masih usia sekolah.


Edi Lubis, ayah dari salah seorang anak yang ditahan bernama Muhammad Hidayat Lubis, mengeluhkan sulitnya keluarga untuk menemui anaknya. “Orang tua mau menjenguk saja payah sekali. Tadi ingin antar nasi saja sulit,” ujarnya sebagai dilansir dari laman hidayatullah.com, Senin sore (01/08/2016).

Namun, terang Edi, saat para keluarga yang anggota familinya ditahan tersebut diundang pihak Polres, ia sempat bertemu dengan anaknya. Akan tetapi, ia mengaku mengeluhkan adanya luka lebam yang didapat anaknya saat ditahan di Polres Tanjungbalai.

“Anak saya sepertinya dipukuli, mukanya lebam. Disini, di pipinya,” katanya sambil menunjukkan area luka yang diderita anaknya.

Warga etnis Cina yang menjadi 'biang kerok' terjadinya kerusuhan di Tanjung Balai. (Foto: istimewa)
Sementara itu, Fadli, kakak dari Zulkifli Panjaitan yang juga ikut ditahan pihak Polres atas dugaan pengrusakan, menyatakan keberatan dengan hasil keputusan pertemuan yang digelar Polres Tanjungbalai. “Kita diminta membuat permohonan maaf kepada pihak Vihara dan umat Vihara dan diposting di media sosial,” jelasnya dengan nada heran.

Ia mengatakan, jika syarat itu sudah dipenuhi, pihak Polres berjanji akan segera membebaskan adiknya yang ditahan tersebut. Fadli juga menambahkan, pada pertemuan yang diikutinya, jumlah yang ditahan oleh Polres Tanjungbalai bertambah dari sebelumnya 12 menjadi 14 orang.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Tanjungbalai, AKP Yayang Riski Pratama menegaskan, berdasarkan arahan pimpinan, bahwa belasan orang yang ditahan belum diperbolehkan untuk ditemui guna proses pengembangan lebih lanjut.

“Untuk sekarang belum bisa karena masih dalam pendalaman pemeriksaan,” katanya saat bertemu Forum Umat Islam (FUI) di Polres Tanjungbalai di hari yang sama.

Bakar Masjid Diundang ke Istana, Bakar Wihara Dipenjara


Perlakuan berbeda diterima pihak-pihak yang membenci Islam, saat sejumlah penganut Kristen GIDI di Tolikara, Papua membakar sebuah masjid dan mengusir umat Islam sedang melaksanakan sholat. Anehnya, pasca kerusuhan itu, Presiden Joko Widodo mengundang perwakilan kelompok GIDI (yang dinilai bertanggung jawab atas penyerangan kepada umat Muslim pada shalat Idul Fitri 2015) ke istana.

"Kita tunggu saja, apakah warga yang membakar kelenteng (dan Vihara) ini akan diundang ke istana Presiden sebagaimana pembakar mushalla di Tolikara", ujar seorang netizen bernama (Ustadz) Anshari Taslim.

Warga Tanjung Balai membakar sebuah kendaraan milik etnis Cina, aksi dipicu oleh sikap penghinaan yang dilakukan warga etnis Cina kepada umat Islam setempat. (Foto: istimewa)
Ustadz Anshari menilai penyerangan tempat ibadah oleh massa di Tanjung Balai adalah tindakan yang salah, namun ia berharap adanya sikap pemerintah pusat yang sama seperti kasus Tolikara (dalam meredam konflik SARA).

"Iya jelas ini salah (perusakan Vihara dan Kelenteng), sama dengan salahnya yang membakar (mushala) di Tolikara, cuma pengen lihat apakah ada perbedaan perlakuan apa tidak", katanya.

Dr Daud Rasyid Sitorus, seorang tokoh asli Tanjung Balai berpendapat, kerusuhan bernuansa SARA di Tanjung Balai Jumat malam lalu hanyalah puncak dari kemarahan warga.

“Jangan selalu warga disalahkan tanpa melihat apa masalah sebenarnya. Insiden Jumat malam lalu, saya menilai merupakan puncak kekesalan warga yang sudah dipendam selama bertahun-tahun terhadap sikap warga keturunan non Muslim,” ungkap Dr Daud Rasyid Sitorus, seperti dilansir dari laman Islampos.com, Ahad (31/7/16).

Diakui oleh Daud Rasyid, Dari dulu kehidupan di Tanjung Balai berlangsung dengan harmonis, namun kearoganan sikap warga keturunan Cina kepada pribumi karena mereka menguasai perekonomian menjadi api dalam sekam.


“Sebelumnya warga Muslim pernah menggelar aksi protes terkait berdirinya patung Buddha besar di Tanjung Balai. Menurut mereka, patung itu melecehkan mayoritas Muslim di Tanjung Balai. Mereka mengadu ke aparat terkait, malah warga Cina yang dimenangkan bahkan persoalan ini sempat dibawa ke Jakarta. 

Sampai ada seloroh mereka, sekarang Muslim Tanjung Balai shalatnya sudah menghadap patung karena posisi dibangunnya patung Buddha pas di sebelah Barat arah mata angin,” paparnya.
Presiden Joko Widodo saat mengundang ke Istana Negara para pendeta GIDI dan para pelaku yang melakukan pembakaran sebuah Masjid di Tolikara, Papua. (Foto: istimewa)
Daud Rasyid juga memperingatkan terkait makin bertambahnya vihara di Tanjung Balai di tengah mayoritas umat Muslim serta bertambahnya pendatang gelap asal Cina di wilayah tersebut.

MPR: Tirani Minoritas Merusak Kebhinekaan Bangsa


Menanggapi kerusuhan di Tanjung Balai, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan, sikap toleransi merupakan sebuah keniscayaan di negeri ini. Hanya dengan cara seperti itu tirani minoritas dengan mayoritas bisa hidup damai berdampingan.


Menurutnya, kejadian di Tanjung Balai adalah bentuk lain dari tirani minoritas. Etnis Cina yang merasa lebih superior dalam kehidupan sosial dan ekonomi, menganggap rendah rakyat pribumi yang dianggap lebih rendah darinya. Akibatnya, pribumi yang mayoritas Islam merasa dilecehkan, dan itu menjadi akumulasi karena terjadi dalam rentang waktu lama.

"Hanya toleransi yang bisa menghapus tirani minoritas dengan mayoritas. Kalau toleransi tetap terjaga, selesai semua masalah kebhinekaan bangsa ini," kata Hidayat, di Gedung DPR, Senayan Jakarta, Senin (1/8).


Dia tegaskan, di dalam Agama Islam itu tidak boleh merusak atau membakar rumah ibadah. Perilaku ini bisa terjadi, menurut Hidayat, karena terprovokasi, bukan karena emosi.

Menyinggung penggunaan pengeras suara di masjid-masjid, Hidayat menyatakan sudah ada aturannya. "Jadi jangan mudah terprovokasi dan jangan mudah memprovokasi," imbuhnya,
seperti dilansir dari laman jpnn.com.


Perusakan berbagai tempat ibadah di Tanjung Balai berawal dari ketersinggungan warga Muslim terhadap seorang oknum penganut agama tertentu yang memprotes kegiatan keagamaan di sebuah Masjid Tanjung Balai.

Masjid yang dibakar kelompok Kristen GIDI di Tolikara, Papua. (Foto: istimewa)
Perkara SARA dimulai ketika Meliana/Erlina, seorang perempuan keturunan etnis Cina, memprotes kegiatan di Masjid al-Maksum pada Jum'at malam, yaitu penggunaan pengeras suara Masjid untuk adzan dan sebagainya.

Atas protes tersebut, pengurus Masjid lalu mendatangi rumah Meliana untuk menanyakan alasan perempuan itu terganggu. Namun, warga Cina itu malah marah dan memaki para pengurus masjid tersebut. Saat itu keadaan sudah mulai tegang dengan kemarahan penduduk setempat.

Masalah tersebut kemudian difasilitasi oleh aparat kelurahan setempat untuk diselesaikan, namun tidak ada kesepakatan dari kedua pihak, warga Cina tidak bersedia meminta maaf, bahkan malah menantang umat Islam setempat. 


Warga Tanjung Balai yang mengetahui adanya penghinaan terhadap umat Islam, langsung marah dan mendatangi kediaman warga Cina itu dan membakarnya. Seakan tidak mampu menahan amarah yang bergejolak, warga kemudian juga membakar sejumlah wihara yang terdapat di kota itu.[*AIS]

Sumber: Hidayatullah/islampos/jpnn

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER