Terbukti Hina Al-Quran, MUI Laporkan Ahok ke Polisi - Jurnal Ummah
Load more

Terbukti Hina Al-Quran, MUI Laporkan Ahok ke Polisi

Shares ShareTweet

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menciptakan keresahan baru, dengan menghina ayat Al-quran. Komentar Ahok yang terekam dalam sebuah video tersebut langsung menyulut kemarahan umat Islam di seluruh Indonesia.
"Mestinya, dia (Ahok) tidak perlu menyinggung soal Alquran. Dia tidak paham dan tidak mengimani. Itu kan hak umat Muslim. Kalau dia mengajak agamanya sendiri, ya tidak apa-apa, dan tidak ada masalah,"
JAKARTA -- Gubernur keturunan Cina, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali membuat umat Islam DKI Jakarta dan seluruh Indonesia murka. Ahok dalam sebuah pernyataannya dianggap telah menghina dan menistaan isi Al-quran sebagai kitab suci agama Islam. 

Gubernur Ahok menyebutkan bahwa isi Al-quran yang melarangmemilih pemimpin dan kalangan non-muslim adalah sebuah kebohongan.

Ahok juga menyebutkan bahwa surat al-Maidah hanya menakut-nakuti umat Islam agar tidak memilih pemimpin non-muslim atau kafir. Komentar Ahok ini terekam dalam sebuah video dan telah menyebar di dunia maya. Kontan saja, komentar Ahok yang merendahkan ajaran Islam tersebut langsung menyebar dengan cepat dan membuat marah umat Islam di seluruh Indonesia.

"Bapak ibu ga bisa pilih saya....Dibohongin dengan surat Al Maidah 51...macem-macem itu...itu hak bapak ibu, kalau bapak ibu merasa ga milih neh karena saya takut neraka, dibodohin gitu ya..gapapa...," kata Ahok di dalam video tersebut.

Menanggapi pelecehan yang dilakukan Ahok tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melaporkan Gubernur Ahok ke Polda Sumatera Selatan Kamis 6 Oktober 2016. Ahok dilaporkan, lantaran dinilai telah melakukan penistaan terhadap agama Islam.

Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Sumsel, Yogi Vitagora mengatakan, mereka baru mengetahui, jika Ahok telah melakukan pelecehan terhadap ayat suci Alquran, setelah melihat video berbagi Youtube. Di video itu, Ahok tampak mengarahkan warga untuk memilihnya dengan membantah penafsiran surat Al Maidah.

"Mestinya, dia (Ahok) tidak perlu menyinggung soal Alquran. Dia tidak paham dan tidak mengimani. Itu kan hak umat Muslim. Kalau dia mengajak agamanya sendiri, ya tidak apa-apa, dan tidak ada masalah," ujar Yogi.

Atas pernyataan Ahok itu, MUI Sumsel bersama organisasi Islam akan melakukan aksi dengan turun ke jalan, agar Ahok meminta maaf kepada umat Islam.
Video yang merekam pernyataan Gubernur Ahok melecehkan ayat Al-quran di hadapan sejumlah aparat pemerintah dan masyarakat DKI Jakarta.
"Kami laporkan pasal 156 KUHP jo pasal 27-28 ITE tentang Penistaan Agama dan Pencemaran Nama Baik Agama pasal 310-311 KUHP. Rencananya, dalam waktu dekat kami akan turun ke jalan, meminta Ahok meminta maaf dan proses hukumnya berlangsung," ujar Yogi.

Lalu, seperti apa sebenarnya penjelasan ayat tersebut. Islam adalah agama yang sangat disiplin mengatur hampir semua tata cara kehidupan umat manusia, baik masalah sosial, politik, hukum dan lain-lain. Salah satunya adalah Islam memberikan kriteria mengenai kriteria seorang pemimpin yang baik dan harus dipilih.

Islam melarang umatnya untuk memilih seorang pemimpin dari golongan non-muslim, hal ini dijelaskan dalam surat al-Maidah sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya (pemimpin/wali) bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim,” (QS. Al Maidah: 51).
Mayoritas ahli tafsir menyebutkan bahwa larangan tersebut bersifat tegas dan tidak perlu adanya penafsiran lainnya dalam memahami isi dan makna dari ayat tersebut. Namun, sayangnya umat Islam di Indonesia yang kurang memahami ajaran agamanya sendiri justru ingin memberikan penafsiran tersendiri dan bahkan ingin mempelintir ayat tersebut demi kepentingan diri dan golongannya sendiri.

Hal inilah yang membuat masalah larangan memilih pemimpin non-muslim menjadi perdebatan saat ini, yakni ketika Ahok yang non-muslim, menjadikan isu SARA sebagai senjata menarik suara warga DKI Jakarta. 

Sebagian pengamat berpendapat, Ahok ingin memposisikan dirinya sebagai calon yang tertindas isu masalah rasial dan SARA, sehingga bisa menciptakan sebuah drama demi menarik rasa kasihan dan simpati warga.[*JU]

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER