Mahfud MD: Bung Karno Justru Perintahkan Umat Islam Memilih Berdasarkan Agama - Jurnal Ummah
Load more

Mahfud MD: Bung Karno Justru Perintahkan Umat Islam Memilih Berdasarkan Agama

Shares ShareTweet

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. DR. Mahfud MD. (image: Viva.co.id)
"Memilih pemimpin berdasarkan agama tidak melanggar konstitusi. Boleh memilih berdasarkan agama, juga boleh memilih bukan berdasarkan agama. Banyak orang mengaku Soekarnoisme, tapi tidak paham ajaran Bung Karno. Bung Karno juga tidak masalah memilih berdasarkan agama, malah menyuruh memilih berdasarkan agama,"
JAKARTA -- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, mengkritik dengan keras pihak-pihak yang menganggap aksi demonstrasi umat Islam yang terjadi belakangan ini sebagai bentuk gerakan anti pluralisme. 

Bahkan, Mahfud MD menyatakan bahwa mereka yang melontarkan tuduhan tersebut adalah orang-orang yang tidak memahami sejarah dengan benar, namun berani mengeluarkan pernyataan sesat dan ngawur, dengan menyebut bahwa memilih pemimpin berdasarkan agama adalah melanggar konstitusi.

"Siapa yang bilang bangsa ini bermasalah dengan pluralisme. Masalah bangsa ini hanya satu yaitu ketidakkadilan. Tidak ada masalah dengan toleransi, perbedaan, rasis dan sebagainya. Hanya masalah keadilan sajalah yang diperjuangkan saat ini.

Saat ini banyak orang yang gagah-gagahan merasa paling pluralisme. Menganggap orang lain anti plural dan anti kebhinekaan. Padahal itu semua omong kosong. Ndak ada itu..!" kata Mahfud MD dalam sebuah diskusi 'Merekatkan Bangsa' di Hotel Four Season, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, bertema Penyambung Suara Rakyat, Selasa 14/2/17.

"Dan sekarang masalah memilih sesuai agama, itu sama sekali tidak melanggar konstitusi. Kita harus tahu, hal tersebut sudah diatur dalam konstitusi. Bung Karno tidak masalah memilih berdasarkan agama, malah menyuruh memilih berdasarkan agama!" kata Mahfud MD dengan lantang.

"Bahkan kalau mau, coba nanti semuanya baca lagi isi pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945. Di situ beliau berkata:

‘Hai orang Islam. Jika ingin di Indonesia ini diterapkan hukum-hukum Islam, maka mari rebutlah kursi-kursi di pemerintahan agar kalian bisa menerapkan hukum-hukum yang mendukung syariat Islam.
Sebaliknya, hai kamu orang Kristen semua. Kalau kamu ingin di Indonesia ini ada letter-letter Kristen di dalam pembuatan hukum, rebutlah kursi kepemimpinan agar pemimpin itu di Dewan Perwakilan Rakyat mengarahkan nilai-nilai Kristen.'

Saudara kalau bicara pluralisme itu, kalau memang pengikut Bung Karno, inilah Pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Mari tegakkan hukum. Dan ingat, sekali lagi saya tekankan ini bukan masalah pluralisme, ini adalah masalah menuntut keadilan...!" tegas Mahfud MD.

"Persoalan pluralisme sudah selesai. Kegaduhan belakangan ini bukan soal pluralisme, tapi soal keadilan. Sekarang orang banyak yang takut bicara keadilan karena takut dituduh anti pluralisme. Takut berhadapan dengan hukum. Ada yang menuntut keadilan langsung dituduh anti pluralisme.


Memilih pemimpin berdasarkan agama tidak melanggar konstitusi. Boleh memilih berdasarkan agama, juga boleh memilih bukan berdasarkan agama. Banyak orang mengaku Soekarnoisme, tapi tidak paham ajaran Bung Karno. Bung Karno juga tidak masalah memilih berdasarkan agama, malah menyuruh memilih berdasarkan agama," jelas Mahfud MD dengan lantang.
Prof. DR. Mahfud MD menjelaskan mengenai toleransi dan pluralisme, menjawab argumentasi sejumlah pihak.
Penjelasan tegas dari Mahfud MD tersebut menjawab argumentasi dan pernyataan Letjen TNI (Purn) Agum Gumelar dan Rizal Ramli yang berbicara soal pluralisme, bahwa seolah-olah Islam di Indonesia anti pluralisme. Bahkan Agum Gumelar ketika menyatakan pendapatnya, secara langsung jelas menunjuk Habib Rizieq dan pengikutnya sebagai pihak yang anti Toleransi.

"Saya jalan-jalan di kota Doha. Masuk ke mall waktu itu tahun 2006. Saya masuk mall, apa yang saya dengar, lagu yang dikumandangkan di mall itu, eeh lagu-lagu Natal, Christmas. Ini negeri Arab. Saya ambil kesimpulan Islam itu identik dengan toleransi. Saya ingin mengajak semua deh ya, juga kepada saudara Rizieq ini dengan para pengikutnya, Islam itu, seperti itu. Islam itu bersih dan Islam itu toleran..! Itu yang ingin saya simpulkan," kata Agum Gumelar.

Rizal Ramli langsung cepat-cepat meninggalkan ruangan begitu selesai melontarkan pendapatnya.


Berikut kutipan asli pidato Presiden Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang dijelaskan Mahfud MD tersebut:

“Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, sayapun, adalah orang Islam. Maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna, tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan, hati Islam. Dan hati Islam Bung karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan.

Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat. Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan,inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Disinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan.

Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar-supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini.

Ibaratnya badan perwakilan Rakyat 100 orang anggautanya, marilah kita bekerja. Bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula. Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat. Sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam.

Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, hiduplah Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya diatas bibir saja. Kita berkata, 90% dari pada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa persen yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat.


Oleh karena itu, saya minta kepada saudara-saudara sekalian, baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam, setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan. Dalam perwakilan nanti ada perjoangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup, jikalau di dalam badan-perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candradimuka, kalau tidak ada perjoangan faham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjoangan selamanya ada.

Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat! Di dalam perwakilan rakyat saudara-saudara islam dan saudara-saudara Kristen bekerjalah sehebat- hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter didalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar suapaya sebagian besar dari pada utusan-utusan yang masuk badan perwakilan Indonesia ialah orang Kristen, itu adil, fair play!
Tidak ada satu negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjoangan di dalamnya.

Jangan kira di Turki tidak ada perjoangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah, supaya keluar dari padanya beras, dan beras akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya.“
Untuk lebih lengkapnya, anda dapat membaca melalui link di bawah ini:

https://id.scribd.com/doc/101551396/Pidato-Soekarno-1-Juni-1945


Dalam diskusi tersebut, Mahfud MD juga menghimbau kepada semua pihak untuk kembali membuka sejarah bagaimana negara ini sebenarnya didirikan. Serta tidak dengan mudahnya menuduh pihak-pihak lain dengan pernyataan yang tidak benar, dan justru dapat memecah belah keutuhan NKRI.(*)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER