Jika Ingin Menang, Jokowi Disarankan Sowan ke Tokoh Islam Garis Keras - Jurnal Ummah
Load more

Jika Ingin Menang, Jokowi Disarankan Sowan ke Tokoh Islam Garis Keras

Shares ShareTweet

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Syihab saat mengomandoai aksi unjuk rasa 212, menuntut penegakan hukum terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang dianggap telah melakukan penistaan agama Islam. (Foto: istimewa)
"Karena pertama ukurannya mayoritas rakyat kita adalah muslim. Yang kedua, dalam ideologi muslim itu pasti akan lebih percaya pada kiai dan ulamanya,"
JAKARTA -- Ketua DPP Partai Golkar Andi Budi Sulistijanto memberikan masukan kepada Joko Widodo agar bisa menang di Pemilihan Presiden 2019 mendatang. Andi menyarankan Jokowi mulai sowan kepada seluruh kiai dan ulama dari semua organisasi, termasuk tokoh-tokoh Islam garis keras.

"Jadi untuk itu tidak harus ke NU saja tidak harus ke Muhammadiyah saja tapi justru harus berani menyeberang sampai ke tokoh-tokoh Islam yang keras, yang garis keras," kata Andi, seperti dilansir Merdeka.com, Jumat (9/3).

Ada dua faktor yang menurut Andi harus dipikirkan Jokowi dalam usulannya, yaitu, pertama mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Faktor kedua karena umat muslim biasanya akan mengikuti masukan dari para kiai dan ulama.

"Karena pertama ukurannya mayoritas rakyat kita adalah muslim. Yang kedua, dalam ideologi muslim itu pasti akan lebih percaya pada kiai dan ulamanya," terangnya.

"Untuk itu Pak Jokowi harus selalu berusaha disetiap kesempatan kunjungan-kunjungan ke daerah menyempatkan mampir ke tokoh-tokoh agama, ke pondok, kiai dan sebagainya," sambung Andi.


Andi tidak secara terang menjelaskan siapa yang dimaksud sebagai tokoh Islam garis keras, namun jika mengaca pada sejumlah catatan peristiwa, sejumlah ulama yang memiliki massa pengikut besar tapi berseberangan dengan rezim pemerintahan Jokowi, berada dalam kubu yang biasa dikenal sebagai Alumni Gerakan 212, yang dikomandoi oleh Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Syihab.
Presiden Joko Widodo saat mendatangi panggung aksi unjuk rasa damai 212. (foto: istimewa)
Sejumlah kebijakan pemerintahan Jokowi dianggap banyak yang menyudutkan umat Islam dan puncaknya terjadi saat kasus penistaan agama yang dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Jokowi saat itu dianggap melindungi Ahok, sehingga memancing kemarahan umat Islam.

Setelah terjadinya aksi puncak 212, mulai muncul sejumlah kasus kriminalisasi terhadap ulama. Sebagian ulama yang kritis terhadap pemerintahan Jokowi pun ditangkap. 


Bahkan hingga kini, Habib Rizieq dijatuhkan status tersangka dengan tuduhan telah melakukan percakapan cabul dengan Firza Husein, sesuatu hal yang sangat dibantah keras oleh ulama yang mendapat gelar Imam Besar Umat Islam Indonesia tersebut.(*JU)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER