Akun Penista Agama Dipelihara, Facebook Dituding Anti-Islam - Jurnal Ummah
Load more

Akun Penista Agama Dipelihara, Facebook Dituding Anti-Islam

Shares ShareTweet

Banyaknya akun-akun palsu di jejaring media sosial Facebook yang menghina dan melecehkan Islam, menimbulkan kemarahan kaum muslimin. Namun, anehnya akun-akun palsu tersebut yang umumnya pendukung rezim pemerintahan Joko Widodo, tidak diblokir oleh Facebook. Sebaliknya, akun-akun asli yang mengkritisi Jokowi langsung diblokir.
"Maaf, Facebook tidak malu punya Sri Widowati? Apa memang Sudah menjadi kebijakan Facebook yang tidak netral?"
JAKARTA -- Warganet terutama kalangan umat Islam di Indonesia dalam beberapa bulan ini diresahkan dengan maraknya pemblokiran akun-akun, fanspage, maupun laman-laman Islam di media sosial Facebook. 

Keresahan terjadi karena pemblokiran ditengarai hanya menyasar akun, fanspage dan laman milik organisasi Islam yang kritis terhadap pemerintahan rezim Jokowi, terutama dari kalangan umat Islam aktivis gerakan 212.

Setidaknya pada pertengahan Agustus 2017 dan pertengahan November 2017, pihak Facebook melakukan penutupan secara besar-besaran seluruh fanspage Islam khususnya yang terkait dengan Front Pembela Islam (FPI) dan Habib Muhammad Rizieq Shihab.

Bahkan fanspage yang konten isinya hanya berita-berita sosial kemanusiaan FPI termasuk untuk membantu para pengungsi Rohingya dan rakyat Palestina, serta fanspage proses Bedah Rumah warga-warga miskin yang dilakukan oleh FPI seluruhnya juga dihapus.


Tidak hanya itu, selain menutup fanspage resmi Habib Rizieq Shihab, sekedar mengirim foto HRS pun diposisikan di Facebook kini sebagai mengirim konten terlarang, setara dengan foto Porno. Para netizen pun menyatakan bahwa Ini merupakan pembunuhan karakter dan operasi delegitimasi yang tentu sangat sarat dengan kepentingan politik.

Penutupan besar-besaran akun-akun Islam oleh media sosial terbesar di dunia itu kini memancing kemarahan umat Islam, Facebook dianggap melakukan aksi keberpihakan. Pasalnya, disatu sisi memblokir akun-akun Islam, tetapi disisi lain mendiamkan akun-akun palsu yang mencatut atau menyerang umat Islam.


Diantaranya kini banyak bermunculan fanspage palsu yang mencatut nama Habib Rizieq lalu menggunakan akun tersebut justru untuk menyerang Habib Rizieq, serta menebar kebencian, memfitnah, mengolok-olok Ulama dan agama Islam serta mengadu domba justru dibiarkan. Padahal sejak lama akun tersebut sebagian besar sudah dilaporkan oleh umat Islam kepada pihak Facebook, namun tetap tidak ada tindakan.
Sebuah fanspage di Facebook yang mempropagandakan dan menyebarkan kebencian kepada umat Islam tetapi tetap aktif dan tidak diblokir oleh pihak Facebook.
Selain itu, umumnya akun-akun yang menghina ulama dan umat Islam tersebut sebagian besar adalah pendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo dan para pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, buntut dari pilkada DKI Jakarta sebelumnya.

Setidaknya hingga kini terdapat ribuan akun yang tersebar di media sosial Facebook dengan konten negatif menghina ulama dan Islam, namun tetap tidak ada tindakan baik dari pihak Facebook maupun aparat kepolisian untuk menutup maupun mempidanakan para pelaku ke meja hukum.


Sebaliknya, akun-akun yang mengkritisi rezim Jokowi dengan sangat mudahnya dilacak, diblokir, bahkan sebagian sudah diseret ke penjara dengan tuduhan ujaran kebencian kepada rezim Jokowi. Fakta yang bertolak belakang ini kini berkembang menjadi kecurigaan bahwa Facebook memiliki agenda politik yang bersifat otoriter dan anti demokrasi.

"Kenapa video HRS selalu dihapus pihak FB? Sudah 16 video HRS yg saya upload dihapus FB. Ada apa gerangan?" Komentar Sayyid Amoutino EL-Attose, seorang netizen Facebook.

Siapa Tokoh Di belakang Perubahan Kebijakan Facebook Indonesia?

Sebagai bukti dari komitmen Facebook untuk berinvestasi di Indonesia, situs jejaring sosial terbesar di dunia itu resmi membuka kantor barunya di Indonesia, Senin (14/8), dan berjanji kantor tersebut akan menjadi tempat untuk melakukan kegiatan operasional perusahaan, bukan sekedar kantor perwakilan.

Dari data Facebook hingga kuartal kedua 2017, jumlah pengguna Facebook di Indonesia setiap bulannya mencapai 115 juta, sementara pengguna hariannya mencapai 65 juta. Angka tersebut merupakan salah satu yang terbesar di dunia, di mana Facebook telah memiliki dua miliar pengguna setiap bulan.

Dari jumlah pengguna Facebook di Indonesia tersebut, mayoritasnya mengakses platform ini melalui ponsel. Bahkan persentasenya mencapai 97 persen.


Berkantor gedung Capital Place lantai 49, Jakarta, perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg dan berpusat di Menlo Park, California, Amerika Serikat (AS), tersebut mengangkat Sri Widowati (Wido), seorang lulusan Master of Science Finance, University of Colorado Denver, AS, sebagai Country Director Facebook Indonesia.

Sri Widowati memimpin Facebook di Indonesia sejak Maret 2016. Itu artinya, Sri ‘memimpin’ sekitar 115 juta orang pengguna Facebook di Tanah Air. Dengan jumlah pengguna global pada Juni lalu mencapai 2 miliar, Sri Widowati kini mengendalikan Facebook Indonesia yang merupakan salah satu negara penyumbang pengguna terbanyak Facebook.

Country Director Facebook Indonesia, Sri Widowati. (Foto: Kompas.com)
"Dalam setahun, pertumbuhan pengguna Facebook di Indonesia hampir mencapai 40 persen. Ketika saya ditunjuk sebagai Country Director di Indonesia pada Maret 2016, saat itu jumlah penggunanya hanya 82 juta setiap bulan. Saat ini, penggunanya sudah mencapai 115 juta," ungkap Sri Widowati, di kantor Facebook, di gedung Capital Park, Jakarta, seperti dilansir Beritasatu.com, Senin (14/8).

Kenneth Bishop, Managing Director Facebook untuk kawasan Asia Tenggara, mengatakan kalau Asia Tenggara merupakan pusat pertumbuhan dari Facebook pengangkatan Wido menunjukkan bahwa Facebook terus melanjutkan komitmennya untuk Indonesia.

“Pengalaman Wido di kawasan ini akan membantu memperkuat dukungan kami terhadap pelaku bisnis di Indonesia,” ujar Kenneth, Selasa, 22 Maret 2016.

Pemblokiran Akun Mengikuti Aturan Pemerintah

Dalam press release yang dilansir Tech in Asia, penunjukan Sri Widowati merupakan pesanan atas keinginan rezim Jokowi melalui Menkominfo Rudiantara. Seperti diketahui bahwa sebelumnya pemerintah sempat mengancam akan menutup usaha Facebook di Indonesia jika tidak mengikuti dan mentaati regulasi yang dibuat oleh rezim pemerintah, diantaranya harus membuka perwakilan resmi dan membayar pajak.

Pasca pelantikan, salah satu komitmen Sri Widowati sebagai Pimpinan Facebook di Indonesia adalah ikut memerangi konten-konten negatif yang banyak berseliweran di media sosia, termasuk di platform mereka.

"Kami memiliki mesin pintar untuk mendeteksi aktivitas sebuah akun atau sebuah informasi yang menyebarkan konten negatif. Geo Blocking juga merupakan salah satu alat yang kami gunakan. Tidak hanya untuk Indonesia, tapi untuk semua negara," kata Sri Widowati, di kantor baru Facebook, Jakarta, Senin (14/8).


Tidak hanya mengandalkan mesin, Facebook secara global juga akan menambah jumlah tim moderator penyaring konten negatif hingga 3.000 orang. Menurut Widowati, tim tersebut telah mewakili keragaman pengguna Facebook di seluruh dunia, termasuk penggunanya di Indonesia.

Sedangkan menurut keterangan Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Samuel Abrijani Pangerapan, melalui geo blocking, atau blokir berdasarkan lokasi, Facebook dapat menutup akses terhadap konten-konten negatif hanya di negara yang melarang.

Salah satu konten negatif yang berisi penghinaan dan kebencian di media sosial Facebook.
Dengan demikian, maka konten-konten yang tidak sesuai peraturan di Indonesia dapat diblokir khusus di regional Indonesia, sehingga akan ada konten yang tidak bisa diakses di Indonesia. Facebook juga menggunakan machine learning, yaitu sebuah mesin pintar yang bisa mendeteksi adanya konten negatif.

“Di Indonesia rigid sekali, nah mereka harus menyesuaikan peraturan Indonesia karena itu dilarang. Mungkin di negara lain konten itu tidak dilarang sehingga bisa diakses, sementara di Indonesia tidak bisa diakses,” pungkas Samuel.

Facebook Indonesia Tidak Netral?

Keresahan warganet terutama dari kalangan umat Islam mengenai kebijakan Facebook Indonesia kini menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, Facebook yang dulu sangat menjunjung tinggi netralitas, sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang mereka anut, kini menjadi lebih partisan. 


Selama ini Pihak Facebook juga mengklaim bahwa sesuai prinsip-prinsip demokrasi, maka seluruh pihak, apapun agama, suku dan latar belakangnya bebas dan diperbolehkan menggunakan Facebook selama tidak menggunakannya untuk Terorisme, Pornografi, Penipuan dan berbagai kejahatan lainnya.

Namun kini fakta yang berkembang justru sebaliknya. warganet menduga, sejak Facebook membuka kantor cabang di Indonesia dan menunjuk Sri Widowati sebagai pimpinan Facebook Indonesia, media sosial terpopuler tersebut sudah ditunggangi oleh kepentingan politik rezim pemerintah.


 "Maaf, Facebook tidak malu punya Sri Widowati? Apa memang Sudah menjadi kebijakan Facebook yang tidak netral?" komentar Mulyadi Sutikno seorang netizen Facebook.


"Ada apa dengan Facebook Indonesia? Mencari "FPI" yang muncul GRUP PENGHINA FPI dan Halaman FPI yang tidak aktif sejak 2013. sedangkan akun FPI resmi maupun simpatisan yang tidak aktif diblokir sepihak tanpa alasan. Mencari "Habib Rizieq" yang muncul berbagai macam FANPAGE PENGHINA HABIB RIZIEQ, parahnya ada yang memakai foto kotoran manusia di atas Al-Qur'an.

Akun FPI yang diblokir Facebook, semua kontennya lebih banyak menyiarkan mengenai aktivitas bantuan kemanusiaan yang dilakukan Ormas Islam tersebut, tetapi tetap diblokir oleh Facebook.
Mengapa akun resmi diblokir, akun palsu dibiarkan merajalela? Padahal FPI Ormas yang diakui negara dan Habib Rizieq adalah bangsa Indonesia? Ternyata FB Indonesia menjadi anti demokrasi sejak dipimpin Sri Widowati," komentar Falaq Januar Al Falaq, seorang netizen Facebook lainnya.

Setidaknya dalam beberapa hari ini muncul berbagai macam keluhan dari warganet dalam bentuk meme yang mengkritik ketidaknetralan Facebook. Bahkan, sebagian umat Islam menyerukan untuk melakukan aksi demonstrasi mendatangi kantor Facebook Indonesia untuk dimintai keterangan dan pertanggungjawaban. 


Sejauh ini, belum ada tanggapan apapun dari pihak Facebook mengenai keluhan para netizen tersebut.(*JU)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER