Amerika Tutupi Keterlibatan Arab Saudi dalam Serangan 9/11 - Jurnal Ummah
Load more

Amerika Tutupi Keterlibatan Arab Saudi dalam Serangan 9/11

Shares ShareTweet

Laporan hasil penyelidikan membuktikan keterlibatan Arab Saudi dalam peristiwa pembajakan pesawat atau yang lebih dikenal dengan peristiwa 9/11 di Amerika Serikat. Namun, demi menjaga hubungan baik antara AS dengan sekutu setianya itu di Timur Tengah, Pemerintah AS berusaha menutup-nutupi laporan.
"Hal ini akan meningkatkan pertanyaan pada peran Saudi dalam 'mendukung para pembajak,"
WASHINTON DC -- Setelah berjalan lebih dari satu dekade dan mulai dilupakan masyarakat dunia, peristiwa pemboman 9/11 mulai terkuak kebenarannya. Penyelidikan terbaru membuktikan adanya keterlibatan Arab Saudi dalam peristiwa tersebut. 

Namun, pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dianggap berusaha untuk menutup-nutupi laporan itu demi mempertahankan hubungan dengan sekutu setia AS di Timur Tengah tersebut.

"Ketika berada di Amerika Serikat, beberapa pembajak pesawat 11 September memiliki kontak, dan menerima dukungan atau bantuan, dari individu yang dapat dihubungkan dengan Pemerintah Saudi," tulis laporan yang dirilis pada hari Jumat (15/7).

"Ada informasi, terutama dari sumber-sumber FBI, bahwa setidaknya dua orang dari sejumlah tersangka memiliki hubungan dengan perwira intelijen Saudi."

Joint Inquiry juga mengisyaratkan dukungan Arab Saudi untuk kegiatan teroris di AS dan negara-negara lain, tapi gagal untuk menunjukkan luasnya.

"Dalam kesaksian mereka, baik saksi CIA atau FBI mampu mengidentifikasi secara definitif sejauh mana dukungan Arab Saudi dalam kegiatan teroris global atau didalam AS."

Laporan ini juga memberikan informasi yang menunjukkan bahwa "Pejabat pemerintah Saudi di Amerika Serikat memiliki hubungan dengan al-Qaeda dan kelompok teroris lainnya."

Sementara itu, Arab Saudi telah menyambut terbitnya laporan itu, mengatakan bahwa tidak ada bukti keterlibatan Saudi dalam serangan.
Dua pesawat komersial yang berhasil dibajak kelompok teror saat terbang dan menabrakkannya ke dua Menara Kembar World Trade Center di New York City. Kedua menara runtuh dalam kurun waktu dua jam. Pembajak juga menabrakkan pesawat ketiga ke Pentagon di Arlington, Virginia. Peristiwa ini biasa disebut sebagai Serangan 11 September, September 11th atau 9/11).
"Sejak tahun 2002, Komisi 9/11 dan beberapa instansi pemerintah, termasuk CIA dan FBI, telah menyelidiki isi dari (laporan) '28 halaman' dan telah dikonfirmasikan bahwa pemerintah Saudi, atau pejabat senior Saudi, maupun orang yang bekerja atas nama pemerintah Saudi tidak memberikan dukungan atau dorongan bagi serangan-serangan ini," Kedutaan Saudi di Washington mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Takut Sekutu Setia Marah, AS Berusaha Tutupi Laporan

Presiden Barack Obama, di bawah tekanan dari Kongres dan publik, pada bulan April mengumumkan bahwa laporan rahasia, yang telah dirahasiakan sejak tahun 2002, akan diterbitkan segera. Obama dianggap berusaha menutupi laporan demi untuk mempertahankan hubungan dengan sekutu setia AS di Timur Tengah tersebut.

Mantan Presiden George W. Bush dan wakil presidennya, Dick Cheney, dilaporkan mengatakan kepada komisi bahwa mereka tidak secara resmi diwawancarai dalam kaitannya dengan serangan 9/11, yang menewaskan hampir 3.000 orang dan menyebabkan kerugian properti dan infrastruktur sekitar $ 10 milyar.

Dikenal sebagai dokumen rahasia "28 halaman," itu merupakan bagian dari penyelidikan kongres 2002 terhadap serangan 11 September dan telah dirahasiakan sejak selesainya laporan ini. Ternyata sebenarnya ada 29 halaman, kata sumber tersebut.

Sumber itu mengatakan masih ada beberapa langkah prosedural yang harus diambil sebelum rilis, yaitu anggota dari kedua belah pihak di Kongres dan anggota keluarga korban telah mencarinya selama bertahun-tahun.

Mantan Senator Bob Graham, yang memimpin komite yang dilakukan penyelidikan itu telah mendorong Gedung Putih untuk merilis laporan itu, hari ini dia mengatakan bahwa dirinya "sangat senang" dengan berita itu.

"Hal ini akan meningkatkan pertanyaan pada peran Saudi dalam 'mendukung para pembajak," kata Graham pada CNN.

"Saya pikir ini laporan 28 halaman hampir sama (dengan laporan 29) semacam gabus dalam botol anggur. Dan setelah itu keluar, mudah-mudahan anggur yang ada didalamnya itu sendiri akan mulai dituang."

Saudi Sumber Kehancuran Dunia Islam 

Menanggapi laporan keterlibatan Arab Saudi, salah satu ulama terkemuka Iran, Ayatullah Mohammad Emami Kashani mengatakan dalam khotbah Shalat Jumatnya di Tehran, bahwa rezim Al Saud mengikuti kebijakan dari Barat dan rezim Zionis.
Gedung WTC hancur saat ditabrak sebuah pesawat komersial yang berhasil dibajak kelompok teror di Amerika Serikat
"[Al Saud] ini bersamaan dengan kejahatan Wahhabi mereka menyebut dirinya sebagai Muslim di Suriah, Irak, Yaman dan berbagai lokasi, serta melakukan kejahatan atas nama memerangi terorisme," tambah Emami Kashani.

Dia mengatakan bahwa “rezim Saudi mendanai kejahatan Wahhabi di seluruh dunia, menambahkan bahwa Wahhabi, yang mengaku sebagai Muslim, mendukung kebijakan Zionis dan Amerika Serikat dan melaksanakan kejahatan dengan mudah untuk menunjukkan Islam dan orang Muslim sebagai teroris. "

Wahhabisme, ideologi radikal yang mendominasi Arab Saudi, secara bebas diajarkan oleh ulama di negara Arab.

Ini adalah bahan bakar mesin ideologis organisasi teror seperti kelompok teroris Daesh dan al-Qaeda Front al-Nusra, yang mendatangkan malapetaka di Suriah dan Irak.

"Al Saud yang selama ini mensponsori teroris internasional, adalah pembunuh wanita dan anak-anak di Yaman dan mengklaim ini adalah program yang [tindakan] benar dan mengatakan kepada orang-orang Yaman bahwa kita (Saudi) yang menentukan nasib Anda," kata Emami Kashani.

Laporan Dibuka, Saudi Ancam Amerika Serikat 

Pemerintah Arab Saudi mengancam akan menjual ratusan miliar dolar senilai aset Amerika jika kongres Amerika Serikat meloloskan rancangan undang-undang yang bisa mengungkap tanggung jawab setiap peran dalam serangan 9 September 2011. Kabar ini dilansir New York Times pada Jumat (15/4).

Koran tersebut melaporkan Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan kepada anggota parlemen Abang Sam bulan lalu bahwa “Saudi akan terpaksa menjual US$ 750 miliar atau setara Rp9,868 triliun dalam bentuk sekuritas dan aset lain di AS sebelum aset itu dibekukan oleh pengadilan Amerika.”

Rancangan undang-undang yang sudah diloloskan Komite Kehakiman Senat pada awal tahun ini akan mengambil kekebalan dari pemerintah luar negeri dalam kasus-kasus “yang timbul dari serangan teroris yang menewaskan orang Amerika di tanah Amerika.”

Kedekatan hubungan mantan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush dengan raja Arab Saudi.
New York Times yang mengutip pejabat pemerintah dan kongres menyebut “Ancaman Saudi telah menjadi pokok pembicaraan hangat dalam beberapa pekan antara anggota kongres dan pejabat Departemen Luar Negeri AS dan Pentagon.”

Dalam laporannya, Times mengatakan bahwa pemerintahan Obama telah melobi kongres untuk menghadang rancangan undang-undang itu menjadi undang-undang. Departemen Luar Negeri AS mengatakan akan berdiri “tegak dengan para korban aksi kekerasan dan bagi orang-orang yang dicintai.”


“Kami tetap berkomitmen menghadirkan keadilan bagi para teroris dan siapa-siapa yang menggunakan terorisme untuk memajukan ideologi bejat mereka,” kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS John Kirby, seperti diberitakan Reuters, Ahad (17/4).

Pada September 2015, seorang hakim Amerika Serikat membantah klaim melawan Arab Saudi terhadap korban serangan 9/11, mengatakan bahwa kerajaan memiliki kekebalan berdaulat dari klaim kerusakan oleh keluarga dan dari penjamin asuransi yang menutupi kerugian yang diderita oleh pemilik bangunan dan usaha.(*JU)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER