Donald Trump Berkuasa, Islamophobia Meningkat Tajam di Amerika - Jurnal Ummah
Load more

Donald Trump Berkuasa, Islamophobia Meningkat Tajam di Amerika

Shares ShareTweet

Seorang demonstran membentangkan spanduk menentang kebijakan Islamophobia Donald Trump di kota Oklahoma, saat pengusaha properti itu melakukan kampanye pemilihan presiden AS, February 26, 2016. (Foto: Sue Ogrocki/AP)
"Tidak hanya Muslim AS yang merasa cemas. Kami telah melihat kaum kulit putih memamerkan supremasinya di bawah kepemimpinan Presiden Trump,"
NEW YORK -- Perilaku fanatik berlebih (bigotry) dan Islamofobia semakin meningkat di Amerika Serikat (AS) sejak Donald Trump terpilih menjadi orang nomor satu di negara adidaya tersebut. Sejak Trump berkuasa, Kaum Muslim di AS kini semakin rentan terhadap serangan kebencian terhadap Islam (Islamofobia). Aktivis Muslim Ibrahim Hooper bahkan menilai Islamofobia di bawah Trump lebih parah daripada pascaserangan 9/11.

Menandai setahun kepemimpinan Trump, Hooper menyatakan para Muslim merasa lebih khawatir dan takut menunjukkan keyakinannya. Sejumlah wanita Muslim ada yang memutuskan menanggalkan jilbab saat keluar rumah.

Hooper mengatakan Trump, sebagai presiden, telah gagal menentang supremasi dan ekstremisme kulit putih. Ini memungkinkan kekerasan terhadap kulit hitam dianggap wajar. Beberapa kebijakan yang menimbulkan kekhawatiran di antaranya larangan perjalanan bagi Muslim dan tindakan kekerasan kepada migran gelap.

"Tidak hanya Muslim AS yang merasa cemas. Kami telah melihat kaum kulit putih memamerkan supremasinya di bawah kepemimpinan Presiden Trump," kata pendiri The Council on American-Islamic Relations dikutip dari The Independent, Rabu (27/12).

Ia menyatakan kaum kulit berwarna dan minoritas banyak disudutkan oleh tindakan Trump. Termasuk di antaranya kebijakan larangan masuk AS bagi penduduk negara Islam. "Keadaan ini lebih buruk daripada pascatragedi 9/11. Trump menggunakan kekuatan dan pengaruhnya untuk menggerakan supremasi kulit putih dan fanatisme," ujar Hooper.

Menurutnya usai serangan WTC pada 11 September 2001 orang-orang fanatik masih tersembunyi. Namun ketika konglomerat properti tersebut duduk di kursi presiden, mereka secara terang-terangan menampakkan diri dan bangga dengan fanatismenya.

Hooper menambahkan, beberapa insiden kekerasan anti-Muslim menjadi berita utama media-media internasional. Ia mencontohkan peristiwa yang terjadi pada Mei ketika dua orang terbunuh dan tiga lainnya terluka parah.

Tindakan vandalisme dan kebencian terhadap Islam menurut US Customs and Border Protection (CBP) meningkat hingga 1,000% sejak Donald Trump terpilih jadi presiden AS. (Foto: AP)
Mereka menolong dua Muslimah yang diteriaki seorang pria dengan kata-kata penghinaan anti-Muslim. Kejadian lain juga terjadi di Quebec, Kanada. Enam orang terbunuh dan 10 lainnya luka-luka setelah seorang pria bersenjata melepaskan tembakan. Kasus lain juga terjadi meski tak masuk dalam pemberitaan internasional.

Antara periode Januari hingga September 2017, Dewan Hubungan Amerika-Islam mencatat ada 1.656 "insiden bias" dan 195 kejahatan rasial. Jumlah insiden bias meningkat sebanyak sembilan persen dan kejahatan rasial naik 20 persen dari tahun sebelumnya. Koordinator Penelitian dan Advokasi Zainab Arain mengatakan, sejak pendataan awal, 2017 merupakan tahun terburuk dalam catatan insiden bias anti-Muslim di Amerika.

Trump, kata dia, sering berbicara tentang Muslim dengan nada menghina baik selama masa kampanye 2016 maupun setelah menjabat. Pada akhir 2015, Trump bahkan mengatakan akan melarang Muslim memasuki Amerika.

Pernyataan ini muncul setelah terjadi penembakan massal di San Bernardino, California, yang menewaskan 14 orang. Serangan itu dilakukan oleh pasangan suami istri, Syed Rizwan Farook dan Tashfeen Malik. Farook merupakan warga keturunan Pakistan yang tinggal di AS, sementara Malik adalah penduduk tetap sah yang lahir di Pakistan.

Seminggu setelah dilantik, Trump menandatangani tiga perintah eksekutif pertama yang dirancang untuk melarang warga dari beberapa negara mayoritas Muslim masuk ke AS. 


Perintah itu pada awalnya diblokir oleh pengadilan dan Gedung Putih bergegas mengatakan bahwa itu bukan larangan bagi umat Islam. Namun, sekutu Trump Rudy Giuliani mengatakan bahwa Presiden menginginkan sebuah "larangan Muslim" dan telah menanyakan kepadanya bagaimana cara memberlakukannya.

Trump baru-baru dituntut karena dianggap memicu Islamofobia. Di akun Twitter resminya, ia mengunggah kembali (retweet) tiga video yang awalnya diunggah oleh kelompok sayap kanan Inggris First Britain. 


Video-video tersebut menggambarkan beberapa Muslim menyerang orang lain. Dalam salah satu video, Muslim digambarkan menghancurkan patung Perawan Maria. Gedung Putih menolak untuk menanggapi hal ini.(*JU)

Sumber: The Independent/Republika.co.id

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER