Dukung Pembantaian Muslim Rohingya, Nobel Suu Kyi Terancam Dicabut - Jurnal Ummah
Load more

Dukung Pembantaian Muslim Rohingya, Nobel Suu Kyi Terancam Dicabut

Shares ShareTweet

Penerima Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi mendapat kecaman masyarakat dunia setelah bersikap mendukung terjadinya pembantaian terhadap muslim Rohingya di Myanmar. Kini muncul gerakan petisi yang dilakukan para aktifis HAM dari sejumlah negara untuk mendesak dicabutnya penghargaan Nobel Perdamaian yang diterima Suu Kyi. (Foto: Istimewa)
"Apa yang salah dengan seorang muslim, Suu Kyi? Bukankah demokrasi dan hak asasi mengajarkan untuk menghormati perbedaan agama dan menghormati persaudaraan? Apa pun agamanya"
RAKHINE -- Pemenang Nobel Perdamaian dari Myanmar Aung San Suu Kyi kini semakin mendapat celaan dari masyarakat dunia. Hal ini terkait dengan sikap rasis yang ditunjukkan Suu Kyi terhadap umat Islam Rohingya di Myanmar.

Saat itu muncul gerakan Petisi yang berisi desakan agar Ketua Komite Nobel mencabut Nobel Perdamaian kepada politikus Myanmar itu. Sejauh ini sudah 16.263 orang yang menyatakan mendukung penarikan tersebut lewat petisi online di situs Change.org.

Suu Kyi dinilai tidak layak menerima penghargaan Nobel Perdamaian setelah pernyataannya yang bernada rasis diungkap jurnalis, Peter Popham, dalam buku terbarunya berjudul The Lady and the Generals: Aung San Suu Kyi and Burma's Struggle for Freedom. 


Dalam buku tersebut, Peter Popham mengungkapkan kekesalan Suu Kyi setelah diwawancarai presenter acara BBC Today, Mishal Husain, pada tahun Oktober 2013 lalu.

Kekesalan Suu Kyi disebabkan pertanyaan yang diajukan presenter Muslim tersebut mengenai penderitaan yang dialami oleh umat muslim di Myanmar. Suu Kyi juga diminta mengecam mereka yang anti-Muslim dan melakukan berbagai tindak kekerasan sehingga umat Muslim suku Rohingya terpaksa meninggalkan Myanmar, tapi dia menolak.
Aung San Suu Kyi saat menerima pernghargaan Nobel Perdamaian. (Foto: Istimewa)
Setelah wawancara tersebut, Suu Kyi tak bisa menyembunyikan kekesalannya. "Tak ada yang memberi tahu bahwa saya akan diwawancarai oleh seorang muslim," kata Suu Kyi.

Dalam wawancara itu Suu Kyi sempat dicecar dan didesak soal isu pembantaian muslim etnis Rohingya. Dia juga diminta mengutuk kekejian yang dilakukan kelompok Buddha ekstrem terhadap minoritas Rohingya sehingga memaksa mereka mengungsi.

 
Banyak orang terkejut dengan kata-kata yang diucapkan Suu Kyi usai wawancara itu. Bukan apa-apa, sebagai penyandang gelar Nobel Perdamaian pada 1991, rasanya kalimat semacam itu tidak pantas diucapkan oleh Suu Kyi.

Bagi pemrakarsa Petisi tersebut, pernyataan Suu Kyi yang mempermasalahkan seorang jurnalis Muslim pada akhirnya membuat banyak orang kecewa dan marah. Hal ini juga membuka kembali pertanyaan dunia internasional tentang sikap Suu Kyi terhadap kaum minoritas Muslim di Myanmar.

Suu Kyi dinilai tidak mengeluarkan pernyataan apapun terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia yng dialami oleh etnis minoritas muslim Rohingya. "Selama tiga tahun terakhir lebih dari 140 ribu etnis muslim Rohingya hidup sengsara dikamp pengungsi di Myanmar dan di berbagai negara," tegas mereka.

Indonesia Mendukung

Desakan agar penghargaan Nobel Perdamaian yang diterima Aung San Suu Kyi segera dicabut, bukan hanya datang dari Myanmar atau sejumlah negara lainnya, di Indonesia sejumlah aktivis HAM dan LSM juga mengajukan petisi yang sama.


Petisi yang dinamai "Cabut Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi" diprakarsai oleh aktivis ICW Emerson Yuntho dan sejumlah tokoh pegiat HAM dan demokrasi lainnya.
Aksi unjuk rasa yang dilakukan sejumlah aktivis HAM di Jakarta untuk mengecam sikap Aung San Suu Kyi yang dianggap mendukung terjadinya genosida terhadap muslim Rohingya di Myanmar. (Foto: Tribunnews)
Dalam petisi daring, para tokoh Indonesia itu kemudian menyampaikan surat kepada Dewan Panitia Nobel di Swedia yang berisi permohonan pencabutan gelar Nobel Perdamaian Suu Kyi.

"Karena itulah kami menuntut Komite Nobel Perdamaian membatalkan atau mengambil kembali Nobel Perdamaian yang dianugerahkan kepada Aung San Suu Kyi. Hanya mereka yang dengan serius menjaga perdamaian dunia yang layak diganjar dengan hadiah itu," kata pernyataan petisi tersebut.

"Apa yang salah dengan seorang muslim, Suu Kyi? Bukankah demokrasi dan hak asasi mengajarkan untuk menghormati perbedaan agama dan menghormati persaudaraan? Apa pun agamanya, bukankah seharusnya Suu Kyi dan kita saling menghormati dan mendukung tindakan tanpa diskriminasi terhadap orang lain?" lanjut bunyi petisi itu.


Di antara tokoh-tokoh dan aktivis Indonesia yang memprakarsai dan mendukung petisi daring itu adalah Goenawan Mohamad, Emerson Yuntho, Hamid Basyaib, Didik J Rachbini, Wishnutama, Grace Natalie, Isyana Bogoes Oka, dan banyak lagi.

Aung San Suu Kyi selama ini memang sangat bungkam soal penindasan etnis minoritas Rohingya yang terjadi di negaranya. Sejumlah kalangan menilai dia bungkam karena tidak ingin kehilangan dukungan politik dari mayoritas warga Budhha di Myanmar.[*JU]

Sumber: jpnn / Merdeka

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER