Ekstrimis Budha Serang Umat Islam Secara Brutal di Sri Lanka - Jurnal Ummah
Load more

Ekstrimis Budha Serang Umat Islam Secara Brutal di Sri Lanka

Shares ShareTweet

Kelompok ekstrimis agama Budha di Sri Lanka menyerang dan melakukan pembunuhan secara sporadis terhadap komunitas muslim di negara itu. Jam malam sudah diberlakukan untuk mencegah konflik meluas, namun tetap tidak bisa menghentikan penyerangan yang sudah membunuh ratusan umat Islam tersebut.
"Serangan ini terorganisasi, terencana. Dan ada alasan bagus untuk percaya mereka sebagian dirancang untuk memancing tanggapan Muslim, yang kemudian akan membenarkan lebih banyak kekerasan terhadap umat Islam,"
AMBATENNA -- Setelah di Myanmar, penyerangan terhadap umat Islam yang dilakukan penganut agama Budha, kini juga terjadi di Sri Lanka. Presiden Sri Lanka mengumumkan keadaan darurat di tengah kekhawatiran serangan anti-Muslim di beberapa kota yang berpotensi dapat menyebar, Rabu (7/3).

Ratusan umat Buddha Sinhala, kebanyakan orang luar, menuju Kandy dan menyerang dan membakar puluhan bisnis Muslim, rumah dan masjid.

Ratusan warga Buddha itu datang sambil berteriak-teriak sambil membawa tongkat, batu dan bom molotov saat tiba di kota bukit Ambatenna, Sri Lanka. 


Dilansir Aljazeera pada Kamis (8/3), penduduk setempat menyaksikan massa juga merusak dan membakar rumah dan bisnis warga Muslim di Welikada, daerah pinggiran Kolombo, Sri Lanka.

Sembari memeluk erat bayinya yang berusia tiga minggu, Fathima Zameer menceritakan kekerasan yang terjadi di lingkungan tempatnya pada Rabu pagi. 


"Kami tidak punya tempat untuk pergi, mereka memecahkan semua jendela di rumah saya, seluruh rumah kami terbakar, Kami sangat takut," ujar dia.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata, massa Budha yang berjumlah sekitar 200 hingga 500-an orang datang, menyergap Welikada, menentang jam malam dan keadaan darurat yang diberlakukan oleh Presiden Maithiripala Sirisena sehari sebelumnya.


Kebijakan itu bertujuan memadamkan kerusuhan anti-Muslim yang dimulai di distrik dataran tinggi Kandy, selama akhir pekan lalu.
Tentara Sri Lanka berdiri di dekat sebuah rumah yang terbakar setelah terjadi penyerangan terhadap komunitas muslim di Digana, distrik pusat Kandy, Sri Lanka, 6 Maret 2018. (Foto: Reuters)
Di Welikada, setidaknya massa merusak 15 rumah milik minoritas Muslim Sri Lanka dan sebuah masjid. Sebanyak empat bangunan dan beberapa kendaraan dibakar. Keesokan harinya, lebih dari sepuluh mayat warga muslim ditemukan bergelimpangan dalam kondisi hancur mengenaskan di sejumlah bangunan yang hancur dibakar.

Puluhan polisi dan tentara yang berasa di lokasi, hanya melihat tanpa daya, saat massa Budha merusak dan membakar rumah dan toko bisnis Muslim di kota Welekada tersebut.


Menanggapi peristiwa brutal ini, Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) mendesak pemerintah Srilanka bertindak cepat terhadap para pelaku, melindungi hak-hak minoritas agama, dan mengakhiri keadaan darurat dengan cepat. AS juga mendesak untuk melindungi hak asasi manusia dan kebebasan dasar untuk semua orang.

Sedangkan Kelompok hak asasi manusia Amnesty International mengatakan, keadaan darurat seharusnya tidak menjadi dalih untuk pelanggaran hak asasi manusia lebih lanjut.

Serangan Brutal yang Terencana

Penyerangan yang dilakukan penganut Budha terhadap umat Islam Sri Lanka bermula saat, ketika seorang pria dari mayoritas Sinhala yang beragama Buddha, meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas di Kota Teledeniya, Kandy. Distrik Kandy merupakan daerah yang terkenal dengan situs agama Buddha.

Namun, kemudian beredar kabar bahwa kematiaan pria Budha itu akibat dibunuh dan dipukuli oleh sekelompok warga Muslim. Informasi tersebut langsung tersebar cepat ke berbagai daerah dan kota-kota di negara tersebut.


Berdasarkan keterangan penduduk distrik Kandy, keesokan harinya, ratusan umat Buddha Sinhala datang ke Kandy, menyerang dan membakar puluhan  toko milik penduduk Muslim, rumah, dan masjid. Sejumlah mayat warga muslim ditemukan di sebuah bangunan yang terbakar.
Seorang wanita Muslim berdiri di luar rumah yang dibakar, setelah terjadi penyerangan oleh kelompok Budha terhadap komunitas muslim di kota Aluthgama di ibu kota Sri Lanka, Senin. (Foto: Dinuka Liyanawatte / Reuters)
Setelah kerusuhan meletus, pejabat pemerintahan distrik Kandy pada Selasa (6/3), mengumumkan keadaan darurat dan memberlakukan jam malam, dengan mengerahkan tentara dan polisi berpatroli di jalanan. Kepolisian menetapkan jam malam di seluruh wilayah selama tiga hari penuh untuk meredam situasi.

Pemerintah pun memerintahkan pemblokiran semua jaringan media sosial agar informasi kekerasan tidak tersebar. Seorang pejabat mengatakan, pemerintah mengajukan permintaan tersebut pada Facebook, Instagram, Viber dan Whatsapp. Pemblokiran dilakukan di Kolombo, dan wilayah lain yang memiliki pergerakan sporadis.

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena dalam akun Twitter-nya mengatakan, sejumlah keputusan yang diambil tersebut akan memperbaiki situasi keamanan di beberapa bagian negara itu. 


Diinformasikan juga, para pasukan keamanan diberi wewenang yang sesuai dalam menangani elemen kriminal di masyarakat dan segera memulihkan kondisi.

Namun, walau jam malam telah diberlakukan, kekerasan terus berlanjut. Juru bicara kepolisian Ruwan Gunasekara mengatakan, sepanjang malam pada Rabu (7/3), sejumlah insiden terjadi di empat kota.


Sebanyak tiga petugas polisi terluka dalam bentrokan di Menikhinna. Pada hari itu, Ambatenna diserang dan seorang pria Sinhala terbunuh karena sebuah granat tangan yang ia bawa, meledak.

"Bermalam pada Rabu, beberapa insiden dilaporkan terjadi di empat kota," ujar Ruwan Gunasekara. Gunasekara mengatakan, pasukan keamanan telah menangkap sekitar 35 orang sejak kerusuhan tersebut dimulai.

Desa Mullegama di Kandy, Sri Lanka, hanya tinggal puing-puing, setelah dibakar oleh kelompok penganut Budha pada Rabu, 7 Maret, 2018 . (Foto: AP / Bharatha Mallawarachchi)
Sementara peneliti di International Crisis Group, Alan Keenan, mengatakan, serangan yang dilakukan oleh para penganut Budha terhadap umat Islam dilakukan secara sistematis dan terencana. 

Hal ini dibuktikan dengan diamnya aparat keamanan setempat saat kerusuhan terjadi dan cepatnya pola serangan yang dilakukan.

Dia mengatakan, komunitas Muslim telah ditahan dengan sangat baik sejauh ini. Namun, jika minoritas muslim membalas dengan menyerang komunitas Sinhala, orang Sinhala lainnya kemudian mengaku terancam, dan menyerang dengan cara yang lebih sadis dan brutal, yang belum pernah dilakukan umat Islam sebelumnya.

"Serangan ini terorganisasi, terencana. Dan ada alasan bagus untuk percaya mereka sebagian dirancang untuk memancing tanggapan Muslim, yang kemudian akan membenarkan lebih banyak kekerasan terhadap umat Islam," kata Alan.


Bangkitnya Ekstrimis Budha

Sri Lanka telah lama terbagi antara etnis Sinhala, yang mayoritas beragama Budha dan minoritas Tamil yang beragama Hindu, Muslim, dan Kristen. Negara ini masih sangat rentan karena perang sipil pada 1983-2009. Saat itu pemberontak Tamil berjuang menciptakan sebuah tanah air yang mandiri, tetapi akhirnya hancur.

Ketegangan umat Budha-Muslim berkobar dalam beberapa tahun terakhir, dan dipicu akibat pesatnya pertumbuhan organisasi ekstremis Buddhis di negara itu. 


Kelompok garis keras Budha Sinhala selalu menuduh Muslim memaksakan orang pindah kepercayaan dan menghancurkan situs suci Budha.

Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah setempat secara khusus tidak menyebutkan ekstremis Budha, tetapi banyak komentar muncul ditujukan untuk mereka.
Umat Muslim Sri Lanka berunjuk rasa setelah shalat Jumat di luar sebuah masjid di Kolombo, Sri Lanka, menuntut perlindungan hukum dan keadilan untuk kelompok muslim di negara itu. (Foto: colombotelegraph.com)
Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa kelompok ekstremis Budha tersebut mendapat perlakukan khusus dan secara diam-diam dilindungi oleh rezim Sri Lanka.

Serangan terbaru yang dilakukan para ekstrimis Budha di Ambatenna, telah menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya konflik dan ketidakstabilan di Sri Lanka, kurang dari satu dekade setelah negara kepulauan Asia Selatan ini mengakhiri perang saudara berdarah dengan separatis Tamil.


Rezim pemerintahan Sri Lanka mengaku sudah melakukan pencegahan terbaik dalam mengatasi konflik. Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan, pemerintah mengutuk tindakan rasial dan kekerasan di Sri Lanka.

"Sebagai bangsa yang mengalami perang brutal, kita semua sadar akan nilai-nilai perdamaian, rasa hormat, persatuan dan kebebasan. Pemerintah bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok yang menghasut kebencian religius," tulisnya di akun Twitter pribadinya.

Direktur Grup Asia Selatan Biraj Patnaik mengatakan, kendati pemerintah memiliki niat positif mencegah kekerasan, tetapi setiap langkah harus memenuhi kewajiban Sri Lanka berdasarkan hukum hak asasi manusia internasional, termasuk larangan mutlak melakukan penyiksaan, pengadilan yang tidak adil, dan penahanan sewenang-wenang. (*JU)

Sumber: Aljazeera/AP/Time

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER