Femen Sebar Propaganda Lawan Syariah Islam di Seluruh Dunia - Jurnal Ummah
Load more

Femen Sebar Propaganda Lawan Syariah Islam di Seluruh Dunia

Shares ShareTweet

Organisasi Femen melakukan demonstrasi anti Islam di Perancis. (Foto: Istimewa)
“Kami melakukan protes telanjang karena payudara adalah senjata kami, tubuhku adalah milikku, bukan untuk kehormatan orang lain, jangan ada syariah di Mesir dan di dunia!”
TEHERAN -- Organisasi Femen, mungkin di Indonesia tidak banyak masyarakat yang tahu mengenai nama tersebut. Tapi di luar negeri, Femen merupakan salah satu organisasi yang sangat dibenci oleh sejumlah negara, terutama di negara-negara Asia dan negara dengan penganut mayoritas Islam.

Bukan tanpa alasan, Femen adalah organisasi wanita internasional yang setiap melakukan aksinya selalu disertai dengan unjuk rasa bugil atau melepaskan pakaian mereka di depan khalayak umum. 


Salah satunya seperti yang terjadi di Negara Islam Iran, saat anggota Partai Komunis Iran dan Organisasi Anti Kekerasan Perempuan asal Iran protes Anti-Hijab memperingati Hari Perempuan Internasional tanggal 8 Maret 2015 lalu.

Aktivis-aktivis perempuan asal Iran melakukan protes terhadap diberlakukannya pakaian penutup aurat untuk muslimah, hijab.

Aksi yang sama juga dilakukan kelompok Femen asal Mesir. Para aktivis perempuan juga meniru aktivis telanjang asal Mesir, Alia al-Mahdy dengan menyuarakan slogan-slogan yang sama, seperti “Ketelanjangan saya adalah bentuk protes saya” dan “Tolak Hijab”.

Begitupun dengan yang terjadi di Paris, Perancis. Para aktivis wanita telanjang dada menganggu konferensi Muslim di Pontoise, Paris, Prancis. Dua aktivis Femen naik ke panggung untuk mengusir dua pemuka agama Islam.
Kelompok Femen melakukan demonstrasi menentang pemberlakuan hukum Syariat Islam di Iran.
Kedua wanita itu juga meneriakkan sejumlah slogan sampai akhirnya mereka diseret keluar oleh petugas keamanan.

”Tidak ada yang membuat saya menyerah,” bunyi tulisan cat di dada aktvis Femen itu. Aksi para aktivis itu direkam, di mana mereka ditendang seorang pria ketika berbaring di lantai, seperti dilansir Russia Today, semalam.

Aksi protes ini juga mereka lakukan di kota Stockholm Swedia, dengan cara menanggalkan pakaian mereka dan menuliskan slogan-slogan anti-hijab di badan mereka. Daily News melaporkan, aktivis feminisme kembali menggelar protes telanjang dada di dalam masjid di Stockholm, Swedia, pada Sabtu, tanggal 29 Juni 2013, saat hari suci umat Islam.

Ketiga orang perempuan yang menggelar aksi protesnya itu menerobos masuk ke dalam masjid dengan memakai burka atau cadar yang hanya memperlihatkan mata mereka. Namun ketika mereka berada di dalam masjid, ketiga wanita ini langsung membuka burkanya tanpa sehelai benang pun menutupi dadanya.

Di tubuh mereka juga terdapat tulisan, "Tubuhku adalah milikku, bukan untuk kehormatan orang lain” serta “Jangan ada syariah di Mesir dan di dunia.” Ketiga perempuan yang dilaporkan berasal dari Mesir, Tunisia, dan Swedia, juga meneriakkan “Bebaskan Perempuan”, “Jangan ada Syariah di Mesir, jangan ada penindasan.”

Aksi protes ini mengacu pada protes di Mesir atas hukum Syariah, yang melarang perempuan untuk mengekspos rambut mereka dan seluruh tubuh mereka kecuali muka dan telapak tangan.
Para aktivis wanita telanjang dada (Femen) menganggu konferensi Muslim di Pontoise, Paris, Prancis. (Foto: Istimewa)
Pegawai masjid kemudian melapor polisi dan mereka pun akhirnya ditangkap. Mereka tidak menjelaskan kenapa mereka menggelar aksi itu di masjid yang kosong. “Mereka telah melakukan penyimpangan tata tertib dan juga pelecehan,” kata komandan polisi Stockholm, Jonas Svalin.

Femen Membenci Islam

Dalam website FEMEN, para aktivis itu menuliskan pesan yang sangat anti-Islam, “Dalam sejarah pertempuran antara perempuan VS Islam, perempuan-lah yang akan menang!” Aktivis asal Mesir yang Anti-Islam, Alia al-Mahdi sempat membuat marah masyarakat Mesir saat Desember 2012 lalu dirinya melakukan protest telanjang melawan draft konstitusi negara itu.

Alia mengambil bagian dalam protes yang dilakukan FEMEN di Stockholm dengan menyerukan kepada masyarakat untuk menolak Konstitusi Syariah di Mesir. Alia muncul dengan memegang bendera Mesir dengan tulisan-tulisan di tubuhnya yang berbunyi “Syariah bukan untuk konstitusi!”

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Al-Arabiya via telepon, Alia berkata “Saya memilih cara protes seperti ini karena ide bahwa tubuh kita bukanlah pemilik dari tubuh kita dan bahwa diri kita adalah milik publik, sebagaimana orang-orang yang memutuskan apa saja yang ingin mereka lakukan terhadap tubuh kita,” kata Alia.

Organisasi ini juga melakukan protes kontroversial di Olimpiade London 2012 menentang "rezim Islam berdarah", yang mereka tuduh mendukung IOC. Protes termasuk perempuan dalam pakaian pria Muslim serta tanda-tanda yang menyatakan "Tidak untuk Syariah”

Sejarah Organisasi 'Telanjang' Femen

Femen (Ukraina: Фемен) adalah kelompok aktivis feminis Ukraina berbasis di Kiev, didirikan pada tahun 2008. Organisasi ini menjadi dikenal secara internasional karena dikelola secara kontroversial dalam melakukan aksi protesnya terhadap seks turis, lembaga keagamaan, lembaga pernikahan internasional, seksisme dan topik sosial, nasional dan internasional lainnya.
Kelompok Femen melakukan demonstrasi bugil, menentang pemberlakuan hukum Syariat Islam di Mesir.
Kelompok FEMEN, yang didirikan oleh Anna Hutsol, di Ukraina dan bermarkas di Paris ini, telah berkembang sejak 2010. Mereka selalu melakukan unjuk rasa dengan bertelanjang dada terkait berbagai isu perlakuan buruk terhadap perempuan dan kediktatoran.

Pemicu kelahiran Femen adalah maraknya prostitusi dan perdagangan perempuan di negara bekas Soviet itu. Menurut Alexandra Shevchenko, salah satu pendiri femen, sebagian besar perempuan Ukraina yang tinggal di kota besar punya hubungan dengan tempat prostitusi atau bisnis prostitusi. 

Penyebabnya, kata Alexandra, adalah biaya pendidikan dan biaya hidup yang terlalu tinggi. Akibatnya, supaya bisa hidup normal, banyak perempuan Ukraina menopang hidup dari prostitusi dan bisnis seks lainnya.

Lebih parah lagi, kata Alexandra, Presiden juga kerap mempromosikan prostitusi saat kunjungan keluar negeri. Di pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Presiden menganjurkan orang-orang untuk mengunjungi Ukraina saat musim semi, dimana perempuan mengurangi pakaiannya.

Aktivis Femen pernah menggelar protes di kampus. Mereka mengecam maraknya pelecehan seksual oleh para pengajar. Para dosen sering mengiming-imingkan nilai bagus dengan dua jalan: seks dan uang. Karena sebagian besar mahasiswi itu miskin, maka mereka memberikan seks.

Organisasi ini menggambarkan dirinya sebagai "pertempuran patriarki dalam tiga manifestasinya - eksploitasi seksual terhadap perempuan, kediktatoran dan agama" dan telah menyatakan bahwa tujuannya adalah "untuk mengembangkan kepemimpinan, intelektual dan kualitas moral dari perempuan.
Organisasi Femen melakukan demonstrasi anti Islam di Berlin, Jerman.
Awalnya Femen mendapat perhatian dengan menunjukkan dalam pakaian minim atau erotis. Misalnya pada tanggal 21 September 2008, di depan kedutaan Turki selusin anggota Femen berpakaian seperti perawat seksi dengan riasan tercoreng dan sepatu pink tinggi. Karena pendekatan ini memperoleh publisitas besar, hal seperti itu cepat menjadi pendekatan merek dagang Femen. 

Pada bulan April 2010 organisasi ini mempertimbangkan diri menjadi sebuah partai politik untuk mencalonkan menduduki kursi di pemilihan parlemen Ukraina Oktober 2012. Namun, tidak mengambil bagian dalam pemilu. Organisasi ini berencana untuk menjadi terbesar dan gerakan paling berpengaruh di Eropa.

Dalam sebuah wawancara Anna Hutsol mengklaim bahwa gerakan itu memiliki 150 ribu pendukung. "Kami bekerja lebih baik daripada kantor berita apapun. Kami memiliki seorang fotografer, sinematografer, desainer dan manajer konten," kata Anna.

Mahasiswa wanita berusia antara 18 dan 20 tahun menjadi tulang punggung gerakan ini. Namun ada juga beberapa anggota laki-laki. Halaman Facebook Femen awalnya diblokir karena dicurigai itu pornografi. Selain itu, Femen telah menunjukkan beberapa gambar provokatif pada halaman Facebook-nya.

Metode Perjuangan

Para aktivis FEMEN dikenal sering mengorganisir unjuk rasa dengan bertelanjang ria di berbagai negara untuk melawan wisata seks, institusi keagamaan, lembaga internasional yang mengatur urusan pernikahan dan seksisme.

Metode perjuangan Femen sering dianggap kontroversial. Para aktivis Femen menggunakan tubuhnya sebagai senjata yang ampuh.

“Kami melakukan protes telanjang karena payudara adalah senjata kami,” kata Evgenia, 23 tahun, seorang artis yang menjadi aktivis Femen.
Kelompok Femen melakukan demonstrasi bugil, menentang pemberlakuan hukum Syariat Islam. (Foto: Istimewa)
Aktivis Femen sering menulis tuntutan mereka di payudara. Metode itu cukup menarik perhatian dan tuntutan mereka terdengar.

Menurut Alexandra, yang membedakan Femen dengan kebanyakan feminis Eropa adalah metode perjuanganya.

“Mereka tidak menggunakan tubuh dan seksualitasnya sebagai senjata untuk mencapai tujuan dan tuntutan kaum perempuan,” katanya.

Femen punya anggota inti sebanyak 300 orang. Tetapi, tidak semua anggotanya dipaksa melakukan aksi semi-telanjang itu. Anggota-anggota tersebut dilibatkan pada aktivitas yang lain.

Femen Organisasi Bayaran?

Femen dibiayai oleh aktivis Femen melalui penjualan produk bantalan patung Femen melalui beberapa bab.

Femen juga menerima sumbangan dari individu seperti Helmut Geier (juga dikenal sebagai DJ di bawah alias DJ Neraka), pengusaha Jerman Beate Schober (yang saat ini berada di Ukraina),  pengusaha Amerika Jed Sunden (pendiri KP Media Ukraina dan mantan pemilik koran The Kyiv Post) dan Kanada Ukraina. Ada juga spekulasi kelompok ini menerima dukungan dari sumber-sumber rahasia.

Pada bulan Maret 2012, majalah Focus Ukraina mengklaim bahwa aktivis Femen menerima royalti untuk wawancara asing dan di tabloid. Dalam majalah Anna Hutsol menegaskan bahwa unjuk rasa di Istanbul disponsori oleh perusahaan yang memproduksi pakaian Turki.
Organisasi Femen melakukan demonstrasi anti Islam di London, Inggris. (Foto: Istimewa)
Seorang wartawan Ukraina 1 +1 yang mengaku menyusupi (pada September 2012) kantor Femen di ibukota Ukraina, Kiev, untuk meneliti Femen menyatakan, diduga biaya gerakan lebih $ 2500 per bulan dan gaji masing-masing anggota adalah sekitar $ 1.000. Wartawan juga menyatakan bahwa perjalanan ke Perancis biaya organisasi € 1.000 per hari per aktivis. 

1 +1 juga mengklaim pada September 2012 bahwa "seorang agen yang bekerja dengan mereka" telah memberitahu mereka aktivis Femen bisa disewa "dari 40 ribu hingga ratusan hryvnia Ukraina (mata uang nasional Ukraina)" dan bahwa sementara di Femen Perancis kunci aktivis Inna Shevchenko telah membeli sepatu senilai € 800.

Pada Maret 2013, Radio Svoboda mengaku memiliki informasi bahwa aktivis Femen dibayar € 2.500 sebulan dan demonstran € 1.000. Kedua gaji ini lebih baik dibandingkan dengan rata-rata gaji sebesar € 500 di Kiev. 

Laporan tersebut mengklaim bahwa anggota yang berbasis di Paris bisa mendapatkan hingga € 1000 per hari. Hal ini juga diklaim organisasi tersebut didanai oleh Jed Sunden.[*JU]

Sumber: wikipedia.org / FEMEN / nydailynews.com / globalmuslim.web.id

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER