Fenomena Jilbobs: Potret Perempuan Berhijab Tapi Telanjang - Jurnal Ummah
Load more

Fenomena Jilbobs: Potret Perempuan Berhijab Tapi Telanjang

Shares ShareTweet

Fenomena jilbob muncul di tengah umat Islam di Indonesia. Jilbobs adalah para wanita yang menggunakan jilbab atau hijab namun masih memperlihatkan lekuk tubuh atau keterbukaan di sebagian anggota tubuhnya. (Foto: istimewa)
“Sudah ada fatwa MUI soal pornografi. Termasuk itu tidak boleh memperlihatkan bentuk-bentuk tubuh, pakai jilbab tapi berpakaian ketat. MUI secara tegas melarang itu,”
Jurnalummah -- Dalam ajaran Islam, setiap perempuan muslim atau muslimah diwajibkan menutup seluruh aurat di tubuhnya kecuali telapak tangan dan wajah. Memakai jilbab atau hijab bagi sebagian muslimah bukanlah perkara mudah. 

Sebagian muslimah masih merasa berat untuk menggunakan hijab walaupun mereka mengerti mengenai kewajiban yang sudah ditentukan dalam Islam.

Penolakan terbesar perempuan umumnya dalam pemakaian hijab adalah, karena jilbab dianggap menganggu, tidak nyaman, tidak modis, merusakpenampilan, kampungan dan lain-lain.

Namun perkembangan kekinian hijab atau jilbab sudah masuk bagian dari fashion busana muslim. Saat ini berjilbab dianggap bukan hanya semata urusan kewajiban agama, tetapi sudah masuk dalam konteks keindahan penampilan atau kecantikan bagi sebagian muslimah.

Akibatnya banyak perempuan saat ini menggunakan hijab namun jauh dari nilai-nilai yang ditentukan dalam agama Islam. Salah satunya adalah dengan tenarnya kata 'Jilbobs." Jilbobs berasal dari kata 'Jil' (jilbab), dan 'Boobs' (Payudara), dari sini lahirlah akronim 'Jilbobs.'

Istilah Jilboobs menjadi perbincangan di sosial media sejak Agustus 2014 hingga kini. Jilboobs adalah sebutan untuk menyindir wanita yang mengenakan jilbab tapi tetap berpakaian ketat hingga bentuk tubuh tercetak jelas menonjolkan bagian-bagian tubuh yang dianggap memiliki kelebihan.

Akibat Maraknya Modifikasi Baju Muslimah

Modifikasi busana muslim akhir-akhir ini membawa banyak nilai positif. Salah satunya adalah semakin dekatnya wanita muslim dengan jilbab. Dari yang semula enggan untuk memakai jilbab, akhirnya bersedia mengenakannya.
Sindiran para netizen untuk perempuan pengguna jilbobs yang dibuat dalam bentuk sebuah meme kreatif. (Gambar: istimewa)
Di era saat ini fashion semakin beragam dan menarik. Apalagi dengan adanya tren fashion para perempuan muslim yang menggunakan jilbab. Di berbagai tempat umum, pengguna hijab saat ini semakin bertambah dan bervariasi dengan tetap menggunakan pakaian muslim yang menutupi seluruh tubuh. Namun, tren fashion para perempuan muslim menjadi buruk karena munculnya fenomena Jilboobs.

Menurut Merie, seorang perancang busana di Samarinda, penggunaan jilboobs dipengaruhi oleh ragam busana masa kini yang kian modern, yang mampu membuat penggemar fashion tergiur untuk mengenakannya.

Lehlie Safitri, salah satu mahasiswi penyuka gaya busana hijab, juga mengatakan hal yang sama, yaitu bahwa jilboobs menunjukkan ketidakcocokan antara gaya busana modern dengan syariat Islam. Kreativitas dalam membuat model-model baru kadang mengarah pada salah kaprah arti menutup aurat bagi muslimah.

Para desainer juga angkat bicara terkait fenomena jilboobs. Beberapa desainer menyayangkan model berpakaian jilboobs yang berusaha tampil modis tapi justru menodai prinsip dasar Islam.

“Fenomena jilboobs itu benar-benar menyalahi aturan dan sebaiknya jangan ditiru,” tutur Yuanita Andiani yang berdiri selaku desainer merk Hijmi.

MUI: Memakai Jilbobs Hukumnya Haram! 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas melarang pemakaian busana bagi muslimah yang masih memperlihatkan lekuk tubuh, karena tidak sesuai dengan apa yang menjadi syariat Islam mengenai cara berpakaian. MUI juga meminta pemakai jilbab agar tidak mengabaikan aturan berjilbab hanya karena fashion.

“Jilbab bukan mengenai tren yang hanya ikut-ikutan tetapi memang kewajiban menutup aurat sesuai ajaran agama,” sambung Yuanita dalam sebuah komentar tanggal 11 Agustus lalu.
Beberapa ketentuan yang benar dalam pemakaian hijab bagi para muslimah.(Gambar: istimewa)
MUI telah mengeluarkan fatwa haram terhadap pemakaian busana muslimah yang masih memperlihatkan lekuk tubuh. Hal ini termasuk bagi wanita pengguna jilbab, namun tetap mengenakan busana seksi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kini dikenal dengan istilah jilboobs.

“Sudah ada fatwa MUI soal pornografi. Termasuk itu tidak boleh memperlihatkan bentuk-bentuk tubuh, pakai jilbab tapi berpakaian ketat. MUI secara tegas melarang itu,” ujar Wakil Ketua MUI KH Ma’ruf Amin di Jakarta, Kamis (7/8/14).

 Menurut Kiai Ma’ruf, pihaknya mengharamkan hal tersebut lantaran aurat yang ditutup oleh muslimah tersebut tidak sesuai dengan apa yang menjadi syariat Islam mengenai cara berpakaian.

“Kalau begitu kan sebagian menutup aurat, sebagian masih memperlihatkan bentuk-bentuk yang sensual, itu yang dilarang,” tegasnya.

Dengan begitu, MUI pun mengimbau agar setiap muslimah yang sudah mengenakan jilbab untuk lebih memperhatikan cara berpakaiannya.

“Pertama kita menghargai mereka sudah mau berjilbab. Tapi kalau sudah pakai jilbab pakaiannya jangan seronok lagi,” pungkas Ma’ruf Amin.

Jilbobs Berbahaya dan Merusak Citra Para Muslimah

Fenomena jilboobs juga menjadi perhatian serius Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yang menyatakan bahwa jilbab dengan pakaian yang ketat atau tembus pandang tidak memenuhi standar kewajiban.
Para muslimah menggunakan busana muslim dan hijab, namun masih memperlihatkan aurat dan ke-telanjangannya. (Foto: istimewa)
KPAI juga meminta para pengusaha garmen dan perancang busana untuk tidak menghasilkan busana jilbab yang mengeksploitasi lekuk tubuh. Hal ini juga diserukan oleh Fahira Idris, aktivis perempuan dan anggota DPD, yang menekankan peran perancang busana, orang tua, guru dan media dalam mengarahkan perempuan untuk memakai jilbab sesuai aturan.

Sedangkan, Wakil Ketua Komunitas Hijabers Depok, Feni, mengaku kesal dengan penggunaan istilah jilboobs sebab menurutnya istilah tersebut merupakan penghinaan bagi perempuan pengguna jilbab. Ia meyakini istilah jilboobs diciptakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mencegah remaja mengenakan hijab.

Feni juga memandang kaum remaja tidak dapat disalahkan sepenuhnya atas penggunaan jilbab yang masih belum memenuhi syari karena masih dalam proses pembelajaran. Pandangan serupa juga disampaikan oleh sosiolog Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Musni, yang menyebut bahwa rata-rata pemakai jilbab seperti ini baru belajar memakai jilbab, sehingga mereka tak bisa terlalu disalahkan karena masih dalam proses berhijab.

Komunitas Jilbobs Hadir di Dunia Maya

Walau mendapat kecaman dan kemarahan dari berbagai kalangan, saat ini para pengguna jilbobs justru semakin berani menunjukkan keberadaan mereka. Tidak jelas apa motivasi mereka dalam hal ini. Apakah semata demi penampilan atau ada unsur untuk melecehkan agama Islam?

Setelah keluarnya fatwa haram 'jilboobs,' seorang pengguna media sosial merilis sebuah fanpage bertajuk jilboobs. Akun itu memuat sejumlah foto wanita mengenakan jilbab yang mini.
Para muslimah menggunakan busana muslim dan hijab, namun masih memperlihatkan aurat dan ke-telanjangannya. (Foto: istimewa)
Selain itu, muncul sebuah akun Facebook bernama Jilboobs Community dengan deskripsi "Indahnya saling berbagi :) nb: di olah dari berbagai sumber." Akun itu memuat sejumlah foto wanita yang mengenakan jilbab dengan pakaian yang ketat. Di Twitter, muncul pula beberapa akun yang menampilkan foto-foto perempuan yang memakai gaya jilboobs.

Sebagian kalangan berpendapat tengah terjadi demonologi Islam (penyetanan Islam-red), terkait hadirnya fenomena jilbobs di tengah Umat Islam. Ia menjadikan Islam tampil dalam bentuk yang nista.

Muslimah disuguhkan sebagai bahan tertawaan sekaligus pelecehan seksual para komentator dan blogwalker yang didominasi pria.(*JU)

*Dari berbagai sumber

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER