Hamas Menang, Amerika Menyesal Tidak Curangi Pemilu Palestina - Jurnal Ummah
Load more

Hamas Menang, Amerika Menyesal Tidak Curangi Pemilu Palestina

Shares ShareTweet

Rakyat Palestina memberikan suaranya dalam pelaksanaan pemilu di kota Rafah, bagian selatan dari Jalur Gaza, pada 27 Januari 2005. (Image: Pedro Ugarte/AFP)
”Saya tidak berpikir kita harus mendorong untuk Pemilu di wilayah Palestina. Itu adalah kesalahan besar. Dan jika kami mendorong Pemilu itu, maka kami harus memastikan bahwa kami melakukan sesuatu untuk menentukan siapa yang akan menang,"
NEW YORK -- Informasi rahasia seputar kebijakan luar negeri kandidat calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Hillary Clinton kembali terbongkar. 

Kali ini beredar sebuah rekaman audio mengungkap penyesalan Hillary pada Pemerintah AS yang tidak mencurangi Pemilu Palestina tahun 2006. 

Akibatnya, tidak adanya intervensi AS, membuat faksi Hamas memenangkan Pemilu parlemen pada tahun 2006 tersebut.

Rekaman berisi suara Hillary yang saat itu menjadi Senator New York muncul saat wawancara dengan wartawan Jewish Press, sebuah surat kabar Yahudi yang berbasis di New York. Rekaman yang telah lewat lebih satu dekade itu, kencang beredar menjelang Pemilu AS.

”Saya tidak berpikir kita harus mendorong untuk Pemilu di wilayah Palestina. Itu adalah kesalahan besar. Dan jika kami mendorong Pemilu itu, maka kami harus memastikan bahwa kami melakukan sesuatu untuk menentukan siapa yang akan menang, ” kata Hillary ketika diwawancarai wartawan bernama Eli Chomsky. 

Hillary ingin agar AS mengintervensi Pemilu Palestina 2006. Penyesalan Hillary itu muncul beberapa bulan setelah pemilu Palestina 2006 yang digelar sekitar bulan Januari.

Pada pemilu Palestina 2006, faksi Hamas meraih kemenangan dengan merebut 76 dari 132 kursi parlemen, dan menyingkirkan faksi Fatah. Dengan kemenagan tersebut, faksi Hamas berhak membentuk kabinet baru Pemerintahan Palestina.

Tapi kemenangan Hamas saat itu tidak disukai oleh AS dan Israel. Sebab, Amerika Serikat selama ini selalu menganggap Hamas sebagai organisasi teroris. Bahkan, AS juga menyatakan bahwa mereka tidak akan bekerjasama dengan Otoritas Palestina saat itu, yang dipimpin kelompok Hamas.
Hillary Clinton saat masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. (image: Haaretz)
Menurut Chomsky, wawancara saat itu dilakukan di kantor surat kabar di Brooklyn. Chomsky telah berbagi rekaman audio itu kepada Observer. Rekaman juga telah diunggah di SoundCloud, Sabtu (29/10/2016), dan cepat menyebar di dunia maya.

Berbicara kepada wartawan, Chomsky masih ingat bahwa saat itu, dia bingung dengan ide Hillary yang menjadi fakta bahwa AS bermain dalam Pemilu negara lain

Rekaman itu juga ikut disebarkan situs nirlaba WikiLeaks melalui Twitter, dan dijadikan senjata propaganda untuk menjatuhkan kredibilitas Hillary dalam pemilu, oleh kubu pesaingnya Donald Trump. (*JU)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER