ISIS Mutilasi dan Rebus Hidup-hidup Anggotanya yang Berkhianat - Jurnal Ummah
Load more

ISIS Mutilasi dan Rebus Hidup-hidup Anggotanya yang Berkhianat

Shares ShareTweet

Organisasi teroris ISIS membakar hidup-hidup para korban yang menjadi tawanannya. ISIS juga memperlihatkan kekejamannya kepada setiap anggotanya yang membangkang dan berkhianat dengan hukuman dan eksekusi yang sangat kejam dan brutal. (Foto: Istimewa)
"Mereka sangat brutal. Membunuh wanita, orang tua yang tak mau menaati mereka. Mereka melecehkan dan memutilasi jasad korbannnya. Mereka memotong jasad itu, mengikatnya di belakang kendaraan dan menyeret bersamanya,"
BAGHDAD --- Kelompok Islam teroris ISIS kembali memperlihatkan kekejaman dan kebrutalannya ke tengah masyarakat dunia. Berbeda dengan kejadian sebelumnya, yang mana ISIS biasanya bersikap kejam kepada pihak lain yang dianggap musuh, bukan segolongan atau berbeda aliran dengan mereka, kini ISIS justru mempraktekkan kebrutalannya kepada para anggotanya yang dianggap membangkang. 

Sejak kekalahan bertubi-tubi yang dialami organisasi teror yang mendompleng nama Islam ini di bumi Irak dan Suriah, saat ini semakin banyak anggota ISIS yang melarikan diri dari kesatuan dan kelompoknya untuk menyelamatkan diri. 

Pembangkangan para kombatan ISIS tersebut dianggap oleh para petinggi ISIS sebagai sebuah bencana besar, dan jika tak cepat dicegah akan melemahkan kelompok itu dari dalam.

Untuk menimbulkan rasa takut dan efek jera, setiap anggota ISIS yang membangkang dan berkhianat, akan dieksekusi secara sadis dan brutal di depan para anggota ISIS yang lainnya.

Kelompok militan ISIS mengeksekusi tujuh anggotanya dengan direbus hidup-hidup. Hukuman itu diberikan setelah ketujuh orang tersebut melarikan diri dari medan perang di Irak. Hukuman dijatuhkan melalui pengadilan ala ISIS pada Senin 4 Juli 2016.
Seorang anggota ISIS mengeksekusi dua pemuda muslim yang berhasil mereka tangkap, dengan berondongan senapan mesin. (Foto: Istimewa)
Ketujuh orang itu diketahui melarikan diri dari Sarqat, Provinsi Salahuddin, Irak. Eksekusi langsung dilakukan usai putusan dijatuhkan. Sebelum dilempar ke dalam kuali besar berisi air mendidih, ketujuh orang tersebut diikat tangan dan kakinya dengan erat sehingga tidak mungkin melarikan diri.

“Mereka dijatuhi hukuman mati sesuai pengadilan ISIS,” tutur seorang sumber lokal di Irak, sebagaimana Daily Mail, Rabu (6/7/16). Ini bukanlah pertama kalinya ISIS mengeksekusi mati anggotanya sendiri yang melarikan diri dari medan pertempuran.

Pada Juni 2016, ISIS mengeksekusi mati 19 anggotanya yang ketahuan melarikan diri dari pertempuran di Fallujah. Namun, menurut sumber lokal di wilayah tersebut, 19 orang itu tidak dieksekusi dengan air mendidih, melainkan ditembak di kepala oleh satu regu tembak.

Namun, metode air mendidih tersebut bukanlah yang pertama kali juga digunakan ISIS. Menurut pengakuan salah satu perempuan sandera Yazidi, ia beberapa kali dibasuh dengan air mendidih pada bagian pahanya selama sembilan bulan berada di penjara ISIS pada 2014.

Gadis berusia 17 tahun itu diculik pada Agustus 2014 di Sinjar setelah ISIS berhasil menguasai kota tersebut. Gadis yang tidak diketahui namanya tersebut dipaksa menjadi budak seks militan ISIS.
Seorang algojo ISIS memenggal kepala seorang anggota ISIS yang dituduh berkhianat di Aleppo, Suriah. (Foto: Istimewa)
Ia harus rela dibasuh dengan air mendidih jika tidak mau memenuhi permintaan militan ISIS untuk berhubungan badan setiap harinya.

Mutilasi Para Korbannya 

Seorang korban ISIS lainnya yang berhasil selamat dari organisasi teror tersebut di Damaskus, Suriah menceritakan mimpi buruk yang dialaminya ketika bergabung dengan ISIS. Ia menghabiskan waktu setahun di Suriah untuk melindungi salah satu pemimpin ISIS paling dicari. Namun sesuatu mengubah jalan pikirannya dan memilih melarikan diri dari kelompok radikal tersebut.

Berbicara kepada RT, pria tersebut mengungkap bagaimana ia bisa bergabung dengan ISIS. Ia juga membeberkan bagaimana aksi teror yang dilakukan oleh pemberontak. Zurab (bukan nama sebenarnya), mengaku tertarik dengan ISIS lewat propaganda yang disebarkan di internet. 

"Kami melihat video wanita, anak-anak dan orang tua menangis, 'di mana kalian Muslim? Kenapa kalian bersembunyi? Ketika darah Muslim sedang berjatuhan apakah Anda hanya akan diam?'. Kami ke sana bukan karena fakta tapi emosi," katanya menceritakan.

Dengan modal itu, ia lantas melakukan perjalanan panjang ke Suriah dan berharap bisa bergabung dengan kelompok ISIS. Zurab kemudian beli tiket ke Istanbul. Di sana, ia bertemu dengan seorang pria Dagesta yang membawanya ke perbatasan Suriah.

"Pada malam hari kami menyeberang. Mereka menemui dan membawa kami ke 'rumah Syariah' serta melanjutkan ke sebuah kamp. Itu desa Atme," jelasnya. Desa tersebut berada di utara Suriah, dekat dengan perbatasan Turki.

ISIS mencaplok Atme dari Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) pada akhir 2013. Dari sana ia pun dibawa ke kamp pelatihan ISIS. Dua bulan mengikuti pelatihan, Zurab ditempatkan di barisan depan. Hingga pada satu saat Zurab sadar mimpi buruk yang dialaminya saat ini. ISIS, kata dia, lebih buruk dari pasukan tirani pemerintah.
Seorang anggota ISIS sedang memutilasi para korbannya yang sebelumnya mereka bantai. (Foto: Istimewa)
"Mereka sangat brutal. Membunuh wanita, orang tua yang tak mau menaati mereka. Mereka melecehkan dan memutilasi jasad korbannnya. Mereka memotong jasad itu, mengikatnya di belakang kendaraan dan menyeret bersamanya," kata Zurab.

Zurab paham, ia harus melarikan diri dari kelompok horor tersebut. Ia pun akhirnya berupaya meraih simpati dari pemimpin ISIS. Zurab pun berhasil dan menjadi pengawal salah satu pemimpin pemberontak Abu Omar al-Shishani.

Amerika Serikat menyebut Shishani sebagai 'menteri perang' ISIS. Pentagon menghargainya hingga 5 juta dolar AS. Pada Maret lalu ia sempat dikabarkan tewas, namun dua bulan kemudian ISIS membantahnya.

Butuh berbulan-bulan bagi Zurab untuk meyakinkan Shishani. Sampai pada waktunya, Zurab meminta izin ke Shishani untuk menengok ibunya. Pemimpin pemberontak itu akhirnya mengizinkan, dan bahkan memberinya uang.

"Ia meminta saya untuk balik lagi," ujarnya. Ketika Zurab tiba di Ingushetia, ia memilih memilih menyerahkan diri ke otoritas setempat serta mengaku bersalah. Ia mengaku tak pernah membunuh warga sipil. (*)

Sumber: Dailymail / RT

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER