Islamophobia Meningkat dalam Dunia Penerbangan Amerika - Jurnal Ummah
Load more

Islamophobia Meningkat dalam Dunia Penerbangan Amerika

Shares ShareTweet

Gelombang islamophobia semakin kencang terjadi di berbagai negara barat. Bahkan kebencian terhadap umat Islam juga semakin merajalela terjadi di Amerika Serikat yang selama ini mengaku sebagai negara paling demokratis dan menghargai berbagai macam perbedaan. (Gambar: Istimewa)
"Kami sudah muak dengan cerita keluarga bertampang muslim yang disuruh turun dari pesawat dengan alasan keamanan, keamanan itu artinya mengamankan penumpang, bukan membuat mereka malu dan tersakiti lalu menyuruh mereka turun,"
WASHINGTON DC -- Islamophobia atau rasa ketakutan, kebencian, curiga, dan pemberian citra negatif yang berlebihan terhadap umat Islam di sejumlah negara barat saat ini semakin meningkat. Bahkan Amerika Serikat yang selama ini mengaku sebagai negara kampiun demokrasi dan kebebasan, islamophobia justru semakin merajalela di sana.

Beberapa kisah Islamophobia terjadi sangatlah tidak manusiawi di negara itu. Para umat Islam bahkan tidak diperbolehkan bergaul dengan warga sekitar, diganggu bahkan tidak boleh naik pesawat. Hal ini dialami beberapa orang muslim yang hendak ke Amerika Serikat.

Maraknya aksi terorisme yang terjadi di berbagai belahan dunia yang dibumbui oleh media massa orientalis barat dengan menciptakan image bahwa terorisme adalah representatif Islam, membuat wajah kaum muslim semakin buruk di tengah rakyat Amerika Serikat. 

Simbol-simbol Islam, seperti masjid, madrasah, atau bahkan wanita muslimah yang mengenakan hijab sering mengalami serangan fisik dari para pembenci Islam. Bagi mereka, melihat seorang muslim di sekitar merupakan sebuah ancaman. 

Islamophobia Dalam Penerbangan

Mungkin selama ini islamophobia sering terjadi saat adanya singgungan antara komunitas muslim dengan para pembenci Islam, tetapi itu saja tidak cukup, siapa sangka bahwa dalam dunia penerbangan atau transportasi udara yang dianggap netral untuk semua golongan apapun juga tak terlepas dari islamophobia.
Aksi vandalisme dengan merusak bangunan atau simbol-simbol Islam semakin marak terjadi di Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)
Berikut beberapa rangkuman kisah islamophobia yang terjadi dalam dunia penerbangan, yang bahkan hanya karena seorang muslim beberapa diantaranya dilarang naik dalam pesawat:

1. Karena muslim, dilarang naik pesawat ke Amerika Serikat

Keluarga muslim asal Inggris yang berencana ke Carolina Selatan, Amerika Serikat, dilarang masuk ke pesawat mereka oleh petugas Departemen Keamanan Nasional. Tanpa alasan mereka dilarang masuk ke Negeri Paman Sam itu. 

Pernyataan bakal calon presiden AS Donald Trump dituding mempengaruhi petugas imigrasi. "Sepertinya kecaman terhadap pernyataan Donald Trump berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan," tulis anggota parlemen Inggris, Stella Creasy. Pada 15 Desember lalu, Mahmood mengatakan keluarganya ditolak masuk ke taman bermain Disneyland.

Tak hanya itu, biaya perjalanan dia beserta sembilan anak-anak yang dibawanya hanya dikembalikan bahkan tidak sampai 9.000 Euro (setara Rp 182,7 juta). Pria ini bercerita, sesaat sebelum meninggalkan Bandara Gatwick, Mahmood dipaksa untuk melepas semua barang bebas pajak yang dibelinya di daerah California. 

"Saya tak pernah merasa lebih malu dari ini selama hidup saya. Saya bekerja di sini (Amerika), saya punya bisnis di sini, namun saya seperti terasing," tukas Mahmood.

2. Pilot United Airlines usir keluarga muslim masuk pesawat 

Seorang pilot maskapai United Airlines meminta keluarga muslim terdiri dari lima orang turun dari pesawat sebelum lepas landas dengan alasan keamanan. Iman Ami Saad Shebley, suaminya, dan ketiga anak mereka naik pesawat United Airline dari Washington hendak menuju Chicago, Amerika Serikat. Tapi sebelum pesawat berangkat mereka disuruh turun oleh pilot.
Keluarga Shebley. Mengalami diskriminasi hanya karena mereka umat Islam. (Foto: Istimewa)
Sebuah video yang direkam oleh Shebley memperlihatkan pramugari dan pilot meminta mereka untuk turun. Ketika dia bertanya apakah ini soal diskriminasi, pilot itu menjawab alasannya adalah demi keamanan, tapi dia tidak menjelaskan lebih lanjut.


Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) kemudian mengirimkan surat kepada United Airlines atas nama keluarga muslim itu untuk meminta agar pilot dan pramugari pesawat itu diberi sanksi. 

"Kami sudah muak dengan cerita keluarga bertampang muslim yang disuruh turun dari pesawat dengan alasan keamanan, keamanan itu artinya mengamankan penumpang, bukan membuat mereka malu dan tersakiti lalu menyuruh mereka turun," ujar pernyataan direktur CAIR-Chicago Ahmad Rihab.

Dalam laman Facebooknya Shebley mengecam United Airlines atas kejadian itu. United Airlines, kalian menghakimi keluarga saya tanpa alasan selain karena tampang kami dan mengusir kami dari pesawat karena demi keamanan. Ketiga anak saya masih terlalu kecil untuk mengalami kejadian ini, tulis Shebley. 

United Airlines kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Shebley dan memberi mereka jadwal penerbangan berikutnya.

3. Anak kecil muslim dituduh teroris

Pria bernama Sulaiman Ahmed menggugat sistem imigrasi Kanada, karena memasukkan anaknya yang berusia enam tahun dalam kategori terduga teroris. Akibat kebijakan itu, sang putra, bernama Syed Adam Ahmed, tidak diizinkan naik pesawat.
Syed Adam Ahmed saat bersama ayahnya. Bocah berumur enam tahun ini juga tak lepas dari gelombang islamophobia, hanya karena dia Islam. Bocah kecil yang belum mengerti apa-apa ini bahkan ditangkap dan dituduh sebagai teroris.
Adam Ahmed padahal baru berusia enam tahun, sehingga informasi bahwa dia terlibat terorisme sangat menggelikan. Menteri Keamanan Publik Kanada, Ralph Goodale, meminta maaf pada keluarga Ahmed. Pemerintah Kanada berjanji memperbaiki data mereka. 

Kemungkinan besar Adam tak sengaja memiliki nama yang sama dengan pelaku terorisme yang dihimpun intelijen. Masalahnya, pada 4 Maret lalu, keluarga Ahmed kembali kesulitan akibat kesamaan nama yang tak segera ditangani. Bocah malang itu kembali dilarang terbang, saat keluarganya dari Kota Toronto hendak menuju Edmonton.

"Sampai kapan anak saya harus masuk daftar dilarang terbang?" tulis sang ibu, Khadijah, lewat Twitter pribadinya. 

Kasus Adam Ahmed menguak banyaknya perlakuan serupa kepada keluarga muslim di Kanada maupun Amerika Serikat. Banyak manula ataupun balita, yang mendadak dilarang terbang karena masuk daftar berbahaya. Seringkali mereka yang mengalami pelarangan ini memiliki nama berbau muslim atau arab. 

4. Perempuan ditendang dari pesawat karena seorang muslim 

Seorang perempuan muslim harus menahan malu karena dikeluarkan dari pesawat tanpa alasan yang jelas. Dia dipermalukan oleh penumpang lain karena dia seorang muslimah. Hakima Abdulle mengaku akan melakukan perjalanan untuk bertemu dengan keluarganya di Seattle. Dari Chicago, wanita ini menggunakan maskapai penerbangan Southwest Airlines. 

Abdulle bercerita awalnya dia hendak bertukar dengan seorang penumpang yang duduk disebelahnya. Pria tersebut setuju untuk bertukar tempat. Namun yang jadi masalah, setelah bertukar tempat dengan pria itu, penumpang lainnya merasa tidak nyaman duduk dekat dia. "Alasannya karena saya muslim, jadi dia tidak merasa nyaman" kata dia. 

Sementara pihak maskapai menyatakan jika dalam pesawat, penumpang tidak diperbolehkan untuk bertukar tempat. 

5. Bicara bahasa Arab, mahasiswa AS diusir dari pesawat 

Khairuldeen Makhzoomi, seorang mahasiswa Universitas California di Berkeley, Amerika Serikat, mengaku diusir dari pesawat karena dirinya berbicara bahasa Arab. Pelajar ini mengatakan seorang penumpang wanita terlihat mencurigainya saat dia berbicara pada pamannya di Baghdad.
Umat Islam di Amerika Serikat melakukan demonstrasi menolak pelabelan teroris kepada mereka, hanya karena mereka seorang muslim. (Foto: istimewa)
Makhzoomi mengaku dia saat itu tengah duduk di kabin pesawat penerbangan Los Angeles-San Francisco. Sebelum mematikan ponselnya, dia sempat menghubungi pamannya yang berada di Baghdad dan berbicara menggunakan bahasa Arab.

Ketika itu, dia merasa seorang perempuan, yang merupakan penumpang pesawat, melihatnya dengan tajam. Mahasiswa ini tidak mengerti kenapa dia dilihat seperti itu. Tak lama kemudian, dia melihat penumpang itu bangkit dari tempat duduknya.


"Saya berharap bukan dia yang melaporkan saya," ujar Makhzoomi. Dia menuturkan, tak lama berselang, seorang pramugari meminta dia untuk turun dari pesawat. Setelah turun, petugas keamanan sudah menanti dia. "Saya kecewa. Saya katakan pada mereka 'inilah gambaran Islamophobia itu'.

Sungguh saya kecewa. Kemudian mereka malah meminta saya untuk tidak naik pesawat dan malah memanggil FBI," serunya. Penumpang yang mendengarkan dia berbicara bahasa Arab mengklaim Makhzoomi menyebutkan kata 'shahid' yang berarti martir. Pria itu menyangkalnya dan mengatakan yang dia ucapkan adalah 'inshallah'.

Makhzoomi mengatakan dia sempat ditanya satu pertanyaan oleh otoritas keamanan. Dia mengaku dia sangat takut kala itu. Sementara itu, pihak maskapai Southwest Airlines menyebutkan pihaknya tidak pernah mengusir penumpang. 

Dalam keterangan tertulis mereka mengatakan selalu terbuka bagi siapapun yang mau bekerja sama dengan mereka. Mereka juga mengatakan toleransi beragama selalu mereka terapkan dalam penerbangan. Pihak maskapai juga mengatakan telah mengembalikan tiket pesawat.

Sebagai sebuah catatan, kisah islamophobia di atas hanyalah sebagian kecil dari peristiwa yang terjadi dalam dunia penerbangan terhadap umat Islam. Masih banyak peristiwa islamophobia lainnya diberbagai belahan dunia, yang terjadi hanya karena seseorang tersebut adalah seorang muslim. (*)

Sumber: Merdeka.com

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER