Islamophobia Meningkat, Prancis Larang Muslimah Berhijab - Jurnal Ummah
Load more

Islamophobia Meningkat, Prancis Larang Muslimah Berhijab

Shares ShareTweet

Seorang anggota pasukan khusus Prancis sedang menjaga sebuah Masjid di Kota Paris. Kebencian terhadap umat Islam di negara itu sering terjadi dengan merusak dan menghancurkan bangunan atau simbol-simbol Islam lainnya. Tak jarang aksi vandalisme juga menyerang individu umat Islam di negara tersebut. (Foto: Reuters)
“Tidak perlu adanya hukum mengenai jilbab di universitas,”
PARIS -- Sejak terjadinya serangan teroris di Kota Paris, Prancis, yang dilakukan kelompok radikal ISIS beberapa waktu lalu, dan menewaskan lebih dari 140 jiwa, kebencian atau islamophobia meningkat tajam di negara tersebut. Sebagian warga Prancis menganggap umat Islam sebagai bagian dari kelompok teror.

Bahkan nada kebencian juga disampaikan oleh Perdana Menteri Perancis Manuel Valls yang menghimbau pelarangan penggunaan hijab atau jilbab bagi kaum muslimah di Prancis.

Manuel Valls mengatakan dia lebih suka penggunaan jilbab bagi muslimah di kampus atau universitas dilarang. Pernyataan itu kontan mengundang kritik, termasuk dari pejabat pemerintah. Pelarangan juga langsung mendapat penolakan dari Menteri Pendidikan Prancis Najat Vallaud-Belkacem.

Najat Vallaud mengatakan bahwa pelajar universitas telah dewasa dan mereka mempunyai hak konstitusional termasuk kebebasan mendengarkan kata hati dan beragama.

Dalam wawancara dengan koran Liberation, Valls mengatakan alasan pelarangan tersebut demi untuk melindungi warga muslim dari ideologi ekstrem. Dia mengatakan jilbab, ketika dipakai karena alasan politik, malah menindas kaum perempuan dan bukanlah soal gaya berbusana.

Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Rabu (13/4), Prancis saat ini melarang penggunaan cadar yang menutupi seluruh wajah kecuali mata. Di sekolah dan tempat umum, Prancis juga melarang jilbab dan simbol agama lainnya. 

Komentar Valis ini selain menimbulkan kemarahan dari rekan-rekan partainya, juga mendapat reaksi keras dari politisi sosialis Prancis. “Tidak perlu adanya hukum mengenai jilbab di universitas,” kata Menteri Pendidikan Tinggi Prancis Thierry Mandon yang dilansir Sputnik, Jumat (15/4/2016). Dia mengingatkan bahwa bagian pakaian itu tidak dilarang di wilayah Prancis manapun.

Perdebatan mengenai jilbab dan kerudung telah lama terjadi di Prancis, presiden terdahulu, Nicolas Sartkozy telah membatasi perempuan untuk memakai niqab, kerudung yang menutupi seluruh tubuh kecuali mata di tepat umum di Prancis.

Islamophobia dalam Fashion

Kebencian warga Eropa terhadap umat Islam hingga kini terus meningkat, bahkan sudah menyentuh dalam ranah kehidupan lainnya yang berhubungan dengan simbol-simbol yang bernuansa islami.
Para muslimah Prancis melakukan demonstrasi meminta keadilan dan hak-hak sebagai kaum muslim. Islamophobia meningkat di Prancis, yang menganggap umat Islam sebagai sebuah agama teror. (Foto: Istimewa)
Khusus di Perancis, fashion yang bernuansa islami juga menjadi perdebatan. Salah seorang Menteri Perancis, Laurence Rossignol, akhir bulan Maret kemarin berkomentar galak tentang Burqini. Burqini merupakan pakaian renang sesuai syariat, didesain bagi muslimah (burqa-bikini).

Menteri tersebut ikut nimbrung dengan menyebut pakaian muslimah bukanlah fashion, menutupi atau mengurungi tubuh perempuan adalah semacam 'perbudakan'. 

Awal tahun ini Dolce & Gabbana yag berpusat di Italia meluncurkan desain abaya dengan jilbab. Raksasa mode Swedia H & M mengikutinya mengkampanyekan mode wanita Muslim berjilbab. 

Burqini memicu kecemasan setelah House of Fraser dan Marks and Spencer menampilkan desain baru yang menghentak pasar, dengan mengkampanyekan slogan iklan: "Menutupi seluruh tubuh Anda kecuali wajah, tangan dan kaki tanpa mengorbankan gaya". 

Penolakan busana burqini juga terjadi di berbagai negara Eropa lainnya, contohnya di Inggris. Walau pada umumnya masyarakat Inggris menerima burqini, tetapi isu fashion yang dianggap sebagai sebuah simbolisme Islam tersebut terus menjadi perdebatan hangat di negara itu.

Tapi uniknya, tahun 2011 selebriti Nigella Lawson telah membuat heboh dengan membeli burqini dari butik Inggris dan memakainya di Australia. Tahun 2013, burqini dianggap sopan dan tidak mencongkel mata paparazi, bahkan istana Buckingham menyarankan Kate Middleton menggunakannya bila ke pantai.(*JU)

Sumber: Sputniknews

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER