Kebencian Terhadap Islam Telah Mengakar Kuat di Myanmar - Jurnal Ummah
Load more

Kebencian Terhadap Islam Telah Mengakar Kuat di Myanmar

Shares ShareTweet

Nasib kaum muslim Rohingya hingga kini masih terkatung-katung di sejumlah negara. Etnis paling tertindas di dunia itu, kini seperti manusia tanpa negara, setelah pemerintah Myanmar menolak mengakui Rohingya sebagai bagian dari Myanmar, bahkan menjadikannya sebagai musuh bersama di tengah rakyatnya. (Foto: Istimewa)
"Sebagian besar orang di Burma, semua informasi yang mereka dapatkan berasal dari propaganda pemerintah dan dari kelompok nasionalis. Jadi, bagaimana kebanyakan orang Burma percaya bahwa orang-orang Rohingya bukan berasal dari negara kita,"
NAYPYIDAW -- Di Myanmar, yang sebelumnya dikenal dengan nama Burma, kebencian terhadap Rohingya berjalan jauh lebih dalam daripada ketakutan akan terorisme Islam, yang telah digunakan tentara untuk membenarkan tindakan kekerasan yang kejam selama empat bulan di negara bagian Rakhine di bagian barat Myanmar. Tentara telah membunuh, memperkosa dan melukai ribuan orang Rohingya.

Menurut kelompok hak asasi manusia internasional, lebih dari 640 ribu orang telah melarikan diri dan menyeberangi perbatasan ke kamp-kamp pengungsi di Bangladesh. Antipati terhadap minoritas Muslim kecil, di negara yang 90 persen beragama Budha, itu adalah kejahatan yang bergolak dari segi etnik, ekonomi, agama, dan nasionalisme yang diumumkan selama puluhan tahun oleh militer. 

Mereka dengan mudah menebarnya melalui media sosial di seluruh penduduk dengan beberapa diantaranya dari kalangan tingkat pendidikan terendah di Asia Tenggara.

Perasaan antipati itu dibangun secara fundamental pada perbedaan rasial. Rohingya, yang ditolak kewarganegaraannya di Myanmar, secara fisik dan kultural lebih mirip dengan penduduk Bangladesh dan India daripada mayoritas etnis Bamar di Myanmar. 

Para cendekiawan mengatakan, mereka adalah keturunan dari pedagang Arab dan Persia yang tiba di bagian barat Myanmar pada lebih dari 1.000 tahun yang lalu.

Perbedaan tersebut telah mendorong desakan yang mendalam melalui negara yang berpenduduk 50 juta itu. Dari semua rahib, aktivis mahasiswa, gerilyawan etnis dan pembangkang lainnya yang pernah menentang pelanggaran tentara, hampir tidak ada yang berbicara untuk orang-orang yang paling banyak dikepung negara ini.

Direktur pada Center for Youth and Social Harmony (sebuah organisasi nirlaba Myanmar), Thet Swe Win, mengatakan, bahwa semua aktivis demokratis tersebut memiliki prasangka atau sikap berontak saat berbicara tentang hak asasi manusia dan hak warga negara. Namun, sebaliknya, soal Rohingya mereka semua bungkam. "Tidak ada orang yang berada di pihak Rohingya. Itulah tragedi di sini," kata Swe Win.
Aparat kepolisian dan militer Myanmar terus memburu warga muslim Rohingya dan membakar setiap pemukiman Rohingya yang mereka temui. (Foto: Istimewa)
Selama bertahun-tahun, tentara Myanmar telah mengumpulkan umat Buddha dengan mengklaim adanya sebuah plot Muslim untuk mengambil alih negara tersebut. Hal itu tertulis ulang dalam undang-undang kewarganegaraan yang misterius di negara itu untuk menyingkirkan Rohingya. Secara rutin, mereka mengesampingkan para biksu garis keras yang memuntahkan kebencian kepada umat Islam.

Propaganda tersebut tampaknya diumumkan setelah sebuah kelompok pemberontak kecil bernama Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) bangkit tahun lalu dan mulai menyerang pasukan keamanan Myanmar.

Matthew Walton, seorang profesor dan pakar Myanmar di Universitas Oxford, mengatakan saat ARSA muncul, hal itu bahkan telah memungkinkan ajaran pro-perdamaian. Yang mana, orang-orang pro-antaragama di negara tersebut ingin menghapuskan Rohingya sebagai sebuah ancaman teroris, tidak peduli betapa tidak masuk akalnya hal itu.

"Dalam kasus ini, pejabat pemerintah memiliki perasaan yang sangat baik tentang sentimen publik, jadi hampir tidak ada yang keberatan dengan sesuatu yang buruk tentang Rohingya," kata Walton.

Sementara itu, Aung San Suu Kyi, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di bawah tahanan rumah dan kini memimpin pemerintah sipil, telah diserang secara internasional karena membela militer. Namun demikian, ia tetap menjadi politisi paling populer di Myanmar.

Sebagai salah satu dari sedikit aktivis Myanmar yang memperjuangkan kasus Rohingya, Thet Swe Win (31), justru diserang di media sosial. Kelompok nasionalis telah memberi label kepadanya sebagai "belatung atau ulat". 

Mereka juga menuduhnya menerima suap dari negara-negara Muslim. Sementara itu, ibu Swe Win mengatakan bahwa dia tidak dapat mendukung pekerjaannya. Di sisi lain, teman-temannya pun meninggalkannya.
Etnis muslim Rohingya saat berusaha lari kejaran aparat Myanmar. Banyak dari mereka yang tak berhasil menyelamatkan diri dan tewas di tangan aparat atau penganut Budha garis keras. (Foto: Istimewa)
"Sebagian besar orang di Burma, semua informasi yang mereka dapatkan berasal dari propaganda pemerintah dan dari kelompok nasionalis. Jadi, bagaimana kebanyakan orang Burma percaya bahwa orang-orang Rohingya bukan berasal dari negara kita," kata Swe Win.

Kebencian Yang Sistematis dan Terencana

Ketika kelompok militer mengambil alih kekuasaan pada 1962, mulailah muncul narasi bahwa Rohingya dibawa ke Myanmar secara ilegal oleh penguasa kolonial Inggris. Yang mana, Inggris saat itu disebutkan menggunakan buruh dari India dan Bangladesh untuk membangun jalan dan infrastruktur. Para jenderal menciptakan sistem pendidikan yang menanamkan kefanatikan di generasi anak sekolah.

Seorang warga Rohingya, Wakar Uddin, mengingat pelajaran semacam itu saat ia mengeyam bangku kelas enam SD di Rakhine pada akhir 1960an. Saat itu, di kelasnya membaca sebuah cerita yang menggambarkan orang India sebagai penyapu jalanan kotor dengan ciri-ciri mengerikan. Uddin ingat penggunaan bebas dari kata penghinaan 'kalar', yang digunakan untuk menggambarkan orang berkulit gelap. 

Kemudian ketika guru membaca dari buku tersebut, para siswa Budha tertawa dan bertepuk tangan. Uddin adalah seorang profesor biologi di Penn State yang mengarahkan Serikat Arakan Rohingya, sebuah kelompok advokasi.

"Buku itu adalah racun. Lebih dari 50 atau 60 tahun, tentara menyediakan lahan subur untuk kebencian, dan memasukkannya ke dalam pikiran siswa kelas tiga atau keempat yang membawakan anda hasil yang kita lihat hari ini," kata Uddin.

Bahkan saat pemerintah Myanmar dan Bangladesh melanjutkan sebuah rencana untuk memulangkan pengungsi Rohingya mulai Januari nanti, iklim kebencian yang didukung oleh negara membuat semuanya tidak mungkin membayangkan banyak orang dapat kembali.

"Jika kita adalah umat Budha, mayoritas Bamar akan mengambil bagian kita. Tapi kami Muslim. Mereka tidak ingin populasi ini di negara tersebut. Ini adalah kebijakan nasional," kata Nay San Lwin, seorang aktivis Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar pada usia 16 dan sekarang tinggal di Jerman.
Seorang biksu Budha dengan dibantu warga Myanmar lainnya menangkap para warga etnis muslim Rohingya. Sebagian besar para etnis Rohingya yang berhasil ditangkap selain disiksa, juga langsung dieksekusi mati di tempat. (Foto: Istimewa)
Tahun ini, ketika seorang anggota dewan negara bagian Rakhine ditanya oleh seorang wartawan BBC tentang tentara yang secara seksual menyerang wanita Rohingya, dia justru tertawa terkikih-kikih. Ia mengatakan, tentara tidak bisa melakukan pemerkosaan massal, karena wanita Rohingya "sangat kotor".

Pejabat publik dapat mengatakan apa saja tentang Rohingya tanpa rasa takut itu akan mengurangi kekuasaan mereka. Pada 2009, konsulat Jenderal Myanmar di Hong Kong menulis sebuah surat kepada diplomat asing, dengan menyebut Rohingya "jelek seperti raksasa" dengan "kulit coklat gelap."

Namun, faktanya komentar itu tidak lantas merusak kariernya. Pemerintah militer bahkan kemudian menunjuknya sebagai duta besar Myanmar untuk Swiss.(*JU)

Sumber: Republika.co.id

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER