Kristenisasi Berkedok Pembagian Snack Mulai Menyasar Anak-anak Muslim - Jurnal Ummah
Load more

Kristenisasi Berkedok Pembagian Snack Mulai Menyasar Anak-anak Muslim

Shares ShareTweet

Anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) mendapat sejumlah bingkisan snack yang berisi muatan pesan-pesan Kristenisasi dari sebuah yayasan misionaris di kota Sumenep. (Foto: istimewa)
"Astaghfirullah.. Anak-anak muslim yang mengungsi akibat letusan Gunung Kelud. sedang diajarkan untuk mengenal Yesus,"
SUKOHARJO -- Gerakan untuk memurtadkan dan mengkafirkan anak-anak muslim dalam beberapa tahun belakangan ini semakin masif terjadi di sejumlah daerah. Kasus terbaru terjadi di SD Kwarasan 1, Grogol, Sukoharjo.

Kepala sekolah SD Kwarasan 1, Al Amin mengatakan, Saat istirahat jeda ujian murid SD Kwarasan 1, satu pekan yang lalu, kedatangan 5 warga Keturunan Cina yang mengatasnamakan ‘Komunitas Cinta Anak Indonesia’. Mereka berniat membagikan snack kepada semua siswa termasuk para guru SD tersebut.

“Itu mereka datang kalau nggak salah Jumat pagi waktu murid istirahat, pada jadwal ujian. Sekitar 5 orang Cina semua,” kata Al Amin, seperti dilansir Panjimas.com, Sabtu (23/12/17).

Aksi beberapa misionaris tersebut menurut Amin usai meminta ijin, kemudian masuk ke kelas-kelas memberikan orasi dan membagikan minuman kemasan, makanan ringan, permen dan sebuah stiker bertuliskan ‘Tuhan Mengasihi Saya, Tuhan Mengasihi Indonesia, Tuhan Mengasihi Dunia, Saya Mengasihi Tuhan’ yang dibungkus plastik ditali dengan pita warna merah putih.

Amin mengaku kawatir dengan permen yang tidak ada keterangan publik. Usai dibagikan dia lantas meminta semua murid mengumpulkan kembali snack sebanyak 150 bungkus itu untuk ditindak lanjuti.

“Selain ada stiker seperti itu, kita juga takut makanannya itu ada permen nanti bisa keracunan atau kenapa-kenapa. Maka kita serahkan ke Puskesmas untuk diteliti lebih lanjut. Hingga satu Minggu ini tidak ada jawaban dari Puskesmas. Sudah satu Minggu malah ada yang berubah bentuk, mungkin nanti akan kita bakar,” paparnya.


Sementara itu, Ustadzah Dewi Purnamawati, aktifis anti pemurtadan Solo mengatakan bahwa aksi semacam itu sudah masuk kategori kristenisasi terselubung. Dia menyarankan siapa saja yang mendapati kegiatan tersebut, Foto, videokan, dan minta identitas yang bersangkutan kemudian diviralkan.
Kepala sekolah SD Kwarasan 1, Al Amin memperlihatkan sebuah snack dari sebuah yayasan misionaris yang dibagi-bagikan kepada anak-anak usia Sekolah Dasar. (Foto: istimewa)
“Ayo Laskar dan umat Islam bergerak. Kalau ada seperti itu kita viralkan, dipoto, divideokan dan minta KTP yang bersangkutan. Biar kapok mereka, pelaku harus dilaporkan ke berwajib,” tegasnya.

“Ini sudah masuk kristenisasi, karena mereka datang kepada orang muslim,” imbuhnya.

Gerakan Kristenisasi Semakin Masif di Seluruh Indonesia

Sejumlah laporan datang dari berbagai daerah terkait dengan aktifitas Kristenisasi yang dilakukan oleh para misionaris agama Kristen, menunjukkan bahwa gerakan Kristenisasi semakin masif terjadi dan menyasar anak-anak muslim.

Belum lama ini, media sosial dihebohkan dengan beredarnya video yang dianggap tindakan kristenisasi. Dalam video berjudul Kristenisasi Muslim di Kelud itu terlihat anak-anak yang mengenakan jilbab sedang menyanyikan lirik pujian untuk Yesus secara bersama-sama.


Video berdurasi 48 menit tersebut diunggah pertama kali oleh akun Save Moeslem di youtube. Hingga Kamis (18/9) pukul 17.15 WIB, video tersebut telah ditonton oleh 27.431 orang.

Video yang memperlihatkan para misionaris sedang melakukan pengenalan Yesus terhadap puluhan anak-anak yang diduga merupakan pengungsi letusan gunung kelud beberapa waktu lalu.

"Astaghfirullah.. Anak-anak muslim yang mengungsi akibat letusan Gunung Kelud. sedang diajarkan untuk mengenal Yesus," tulis pemilik akun Save Moeslem.

Di Sumenep, Madura, Jawa Timur, (21/02/17), masyarakat dan ulama setempat dihebohkan dengan adanya kasus kristenisasi yang menyasar ribuan anak SD.


Ketua Umum Aliansi Advokat Muslim NKRI, Alkatiri mengungkapkan, acara berkedok kebangsaan yang dilakukan oleh Yayasan Sejahtera Bangsa Mulia (SBM) dan DHC Kejuangan 45 Sumenep itu, dapat gagal dilanjutkan karena ditemukannya buku Bibel, mainan anak-anak bertuliskan “Yesus”, kalung Salib, dan makanan kedaluwarsa dalam kotak hadiah yang dibagikan.
Sebuah bingkisan buku yang dibagikan kepada anak-anak muslim yang berisi pesan-pesan pengkristenan. (Foto: istimewa)
Rencananya kegiatan yang diketahui dibiayai oleh dana dari luar negeri, yakni Amerika dan Australia tersebut, akan dilakukan rencananya dilakukan di 15 SD, 1 SMP, dan 1 panti asuhan.

Paket kotak sepatu itu, telah tersebar sebanyak 1.385 buah dari sembilan SD Negeri. Di antaranya, SDN Pabian III, SDN Pabian IV, SDN Pangarangan VII, SDN Marengan Daya III, SDN Kalimo’ok II, SDN Lalangan I, SDN Mandikg Laok I, SDN Manding Timur II, serta SDN Jaba’an I.

Kasus tersebut sudah dilaporkan ke Polres Sumenep oleh Gerakan Umat Islam Sumenep, Ach. Farid Azziyadi dari LSM Gugus Anti Korupsi Indonesia (GAKI), dan dr. Anwar Luthfi dari Komisi Nasional Anti Pemurtadan (KNAP). 


Namun, Polisi mengklaim, setelah dilakukan penyelidikan, kepolisian menganggap aktivitas pembagian hadiah yang dilakukan oleh Yayasan SBM dan DHC Kejuangan 45 tidak memenuhi unsur pidana.

Di Provinsi Aceh yang berupakan daerah dengan julukan Serambi Mekah, juga tak luput dari gerakan permurtadan. Sejumlah mahasiswa Unsyiah yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa Anti-Pemurtadan (Komandan), pernah menjelaskan di hadapan Gubernur Aceh, (30/11/05), dengan memperlihatkan sejumlah bukti terkait aktifitas Kristenisasi di wilayah tersebut.

Bukti-bukti tersebut seperti pembagian buku-buku bacaan berjudul 'Roh Kudus Pembaruan,' buku bacaan siswa SLTA berjudul “Dewasa dalam Kristus Gaya Hidup Kristenan”, kemudian “Popo” yang di dalamnya ditemukan berisi mainan anak-anak, berupa kalung berlambang palang salib.

Termasuk copy buku kumpulan doa-doa Hanan el-Khouri berjudul “Rahasia Doa-Doa Yang Dikabulkan”. Dalam buku tersebut berisikan doa-doa yang dikutip dari Injil bertulisan Arab, bahkan di Aceh Jaya juga telah ditemukan 500 injil.

Kristenisasi bahkan kini juga mulai menyasar pusat-pusat keramaian. Yogi Marviansyah melalui akun pribadinya di Facebook menceritakan pengalamannya, Jumat (30/6/17). Saat ia dan keluarga pergi ke PTC untuk suatu keperluan, seorang wanita menghampirinya dan menawari anaknya apakah mau berfoto dengan Transformer dan diajak bernyanyi sebuah lagu.

Perlengkapan anak-anak yang berisi pesan-pesan pemurtadan. (Foto: istimewa)
Setelah dicerna oleh dirinya, ternyata lagu tersebut adalah lagu gereja yang berjudul With Christ In The Vessel. Menyadari bahwa itu lagu tersebut adalah lagu gereja, Yogi menghampiri anaknya dan langsung mengajaknya untuk segera pulang.

“Kedua anak saya ikut masuk dan duduk di depan panggung. Ketika acara dimulai, saya sudah merasakan something isn't right, saat MC menanyakan ke anak-anak, apakah hapal lagu ini? Lagu apa? Pikir saya. Dan mulailah MC mengajak anak-anak untuk ikut bernyanyi. Mereka menukar kata 'Christ' dengan kata 'Us'. Just it,” tutur Yogi.


Yogi sangat menyesalkan lagu seperti itu diajarkan di tempat umum kepada anak-anak. Ia berharap, penyebaran agama bisa dilakukan dengan bijak dan elegan.

Menurut aturan hukum yang berlaku hingga kini, usaha-usaha kristenisasi sangat bertentangan dengan SKB Tiga Menteri dan UU Penodaan Agama No.1 Tahun 1945, menyebutkan setiap pemeluk agama yang disahkan oleh Negara Indonesia, tidak boleh diajak memeluk agama lain dengan cara apapun.

Terdapat beberapa pelanggaran dan pasal yang bisa dikenakan terhadap dugaan upaya pemurtadan tersebut. Di antaranya, Pasal 86 Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Disebutkan dalam pasal itu, setiap orang yang dengan sengaja menggunakan tipu muslihat, rangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk memilih agama lain bukan atas kemauannya sendiri, padahal diketahui atau patut diduga bahwa anak tersebut belum berakal dan belum bertanggung jawab sesuai dengan agama yang dianutnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100 juta rupiah.(*JU)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER