Laskar Kristen Ambon Dapat Bantuan Senjata, Komando Jihad Bergerak - Jurnal Ummah
Load more

Laskar Kristen Ambon Dapat Bantuan Senjata, Komando Jihad Bergerak

Shares ShareTweet

Ribuan umat Islam dari seluruh Indonesia mendaftarkan diri bergabung dalam komando Laskar Jihad, untuk menghentikan pembantaian umat Islam yang dilakukan Laskar Kristen Ambon dan separatis RMS di Ambon dan wilayah Maluku lainnya. Umat Islam saat itu harus bergerak cepat, karena pasukan Laskar Kristen semakin kuat semenjak mendapatkan bantuan senjata organik dari sejumlah pihak.
AMBON -- Kerusuhan Ambon semakin memuncak setelah terpilihnya Abdurrahkam wahid (Gus Dur) sebagai Presiden RI. Gus Dur tidak mampu bertindak cepat menghentikan pembantaian umat Islam yang dilakukan Laskar Kristen di Ambon dan wilayah Maluku lainnya.

Kedatangan Presiden Gus Dur dengan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, bersama para menteri dan rombongan besar pada tanggal 12 Desember 1999 ke Ambon untuk menyelesaikan kasus Ambon, ternyata mengeluarkan pernyataan yang sangat mengagetkan umat Islam, yaitu menyerahkan penyelesaian konflik kepada masyarakat Ambon/Maluku sendiri. Padahal Kerusuhan telah terjadi selama bertahun-tahun.

Umat Islam pun mempertanyakan niat baik rezim pemerintahan Gus Dur dalam menangani kasus tersebut. Ditambah lagi rencana pemerintah menghidupkan kembali Kodam XVI/Patimura, yang membawahi wilayah Maluku, dengan melantik Brigjen TNI Max Marcus Tamaela, yang merupakan seorang Kristen, pada tanggal 15 Mei, membuat umat Islam semakin mencurigai bahwa ada sebuah konspirasi untuk melindungi dan membela Laskar Kristen Ambon.


Kecurigaan umat Islam terbukti, Max Tamaela dalam setiap kebijakannya secara terang-terangan lebih memihak pada kubu Kristen dan menekan para pejuang muslim di lapangan.

Bahkan, saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Tengah mengirimkan surat kepada Gubernur Maluku Dr Saleh Latuconsina dan Pangdam XVI/Pattimura Brigjen TNI Max Markus Tamaela, untuk menginformasikan bahwa adanya gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS) di balik konflik Ambon, Max Tamaela malah mengabaikan laporan tersebut dan justru memanggil wakil ketua MUI Maluku Ustadz Abdul Wahab Polpoke Makodam XVI, Ambon. 

Menurut Max Tamaela, keterlibatan RMS sebagai dalang kerusuhan masih belum jelas betul. "Sehingga kalau Pak Wahab memang punya data itu, kami akan menugaskan intel-intel untuk mengawasi gerak-gerik gerakan separatis tersebut," katanya, Selasa (15/2).

Sedangkan, menurut Polpoke, aparat keamanan di Maluku sebenarnya punya data dan informasi yang kuat soal keterlibatan RMS. Polpoke sendiri mengaku heran dengan sikap Pangdam Max Tamaela, yang tidak menindaklanjuti banyak temuan berupa dokumen, bendera, dan kamp pelatihan RMS di berbagai wilayah Maluku seperti di Ambon, Seram, Haruku, dan Saparua.

Ribuan umat Islam berusaha menyelamatkan diri dari pembantaian yang dilakukan Laskar Kristen Ambon dan kelompok separatis RMS. (Foto: istimewa)
"Masak dari sekian banyak dokumen, termasuk temuan Bais TNI, belum ada yang ditindaklanjuti. Namun mereka malu-malu mengungkapnya. Saya pesimis perdamaian di Maluku bisa langgeng jika biang rusuh itu tidak diungkap," kecam Wahab Polpoke, yang juga imam masjid (Arab) An Nur Ambon tersebut.

Laskar Kristen Ambon Mendapat Suplai Senjata Organik

Ketika kerusuhan makin tak berujung dan bertambah brutal, kelompok massa Kristen mulai menggunakan senjata api organik dalam pertempuran. Laskar Kristen mendapatkan kiriman senjata dari sejumlah daerah dan bahkan sebagian diperoleh melalui jalur impor.

Menurut Ivan A. Hadar, direktur Institute for Democracy Education, yang pernah melakukan riset tentang pengadaan senjata dalam konflik Maluku, penggunaan senjata rakitan sebenarnya sudah tampak sejak Februari 1999. 


Tetapi penggunaan senjata rakitan ini secara masif baru terjadi pada saat kerusuhan tahap kedua. Sejumlah cara yang dilakukan Laskar Kristen untuk mendapatkan senjata organik adalah;

Pertama, senjata rakitan itu dibuat dengan menggunakan fasilitas politeknik di Universitas Pattimura (Unpatti). Mereka membuat suku-suku cadang itu di bengkel-bengkel politeknik tersebut.

Kedua, memperoleh senjata rakitan dengan cara membayar beberapa orang dari Kalimantan Barat untuk merakit senjata dan bom. Setiap orang dibayar sekitar Rp 500 ribu untuk merakit senjata.


“Dulu beta pegang rakitan laras pendek tapi bagus. Senjata itu beta dapat dari seorang teman. Katanya, kalau ndak salah, dia suruh orang di Manado yang bikin senjata itu,” ujar Berty Loupatty, pemimpin kelompok preman Cowok Keren (Coker), dari Laskar Kristen.

Senjata rakitan tersebut sebagian pelurunya menggunakan amunisi bekas Perang Dunia II yang diambil di Teluk Ambon. Sebagian lainnya menggunakan peluru organik, seperti peluru senapan SS-1 dan M-16 buatan PT Pindad, Bandung. 


Menurut temuan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan dan Lembaga Rekonsiliasi dan Perdamaian Indonesia, peluru dari PT Pindad itu buatan 1990, 1991 dengan kaliber 5,56 untuk senjata laras panjang, dan kaliber 38 untuk senjata laras pendek. Ada juga peluru buatan pabrik Winchester dengan kaliber yang sama.
Para anggota Laskar Kristen yang membantai umat Islam di Ambon. Senjata organik standar militer mampu dimiliki kelompok Laskar Kristen dan separatis RMS dalam konflik berdarah di Ambon dan Maluku.
Melihat keberadaan amunisi yang diproduksi PT Pindad itu, Oktvianus Pinontoan, redaktur pelaksana harian Suara Maluku menduga ada keterlibatan militer karena PT Pindad memegang monopoli pembuatan senjata dan amunisi. 

Dengan menggunakan senjata api rakitan tersebut, Laskar Kristen kemudian membentuk pasukan siluman, yang beroperasi secara tidak terorganisir, dan menempatkan para penembak jitu di gedung-gedung bertingkat di seluruh wilayah Ambon.

Ketiga, Laskar Kristen mendapatkan senjata organik, dari rampasan milik anggota tentara atau polisi yang terbunuh di lapangan. Laskar Kristen mendapatkan senjata organik besar-besaran, saat berhasil menyerang markas Kodam XVI Pattimura. "Makodam dibom 10 kali," kata Letkol Iwa Budiman, Kapendam XVI Pattimura saat itu.

Namun, banyak kalangan meyakini serangan tersebut sudah dikoordinasikan dengan baik atas bantuan Pangdam XVI/Pattimura Brigjen Max Tamaela, sebab pada hari kejadian Max Tamaela justru bersembunyi di Lanal Halong.

Keempat, menurut Rolly Leatemia, mantan anggota pasukan siluman dari pihak Kristen, mengatakan senjata yang berada di kelompok Kristen umumnya diperoleh dari Kupang, terutama dari senjata bekas milisi Timor Timur. 


Modusnya, mereka melakukan transaksi di Timor Timur lalu di bawa ke Kupang. Kemudian ada agen yang pergi ke Kupang untuk membawa senjata ini ke Maluku. Mereka menggunakan kapal penyeberangan antarpulau.

Dari Maluku Tenggara ada kapal penyeberangan antarpulau yang biasa disebut kapal perintis. “Saat itu aparat tidak pernah melakukan sweeping terhadap kapal-kapal perintis. Mereka hanya mememeriksa kapal-kapal Pelni,” ujar Leatemia. 


Leatemia menduga aparat tak yakin bahwa senjata itu akan disuplai lewat kapal-kapal itu karena perjalanan dari Maluku Tenggara ke Ambon memakan waktu empat hari dan kapal perintis itu tak sanggup mengarungi lautan selama itu.

Kelima, Laskar Kristen juga mendapatkan suplai senjata melalui pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara. Laskar Kristen Ambon mendapatkan bantuan senjata dari kelompok Laskar Kristen di Bitung dan kota Manado dengan menjadi penghubung jalur impor senjata dari Filipina.


Laskar Kristen membeli senjata yang banyak dijual di General Santos, Filipina, dengan memakai broker orang General Santos yang beragama Nasrani.

Jalur yang digunakan adalah, jalur General Santos-Bitung-Kepulauan Sanana-Ambon. Senjata sebagian dititipkan kepada para nelayan Filipina yang biasa mencari ikan Tuna hingga ke laut di sekitar Maluku dan dijemput di Ambon.
Agus Wattimena, Komandan tertinggi Laskar Kristus pada waktu konflik Ambon, mampu memiliki berbagai senjata canggih dalam menghadapi umat Islam.
Selain dari jalur tersebut, kelompok Kristen juga menggunakan kapal-kapal kayu kecil dari Bitung, seperti kapal motor Wahai Star atau Nusa Teratai, mereka melayari rute Bitung-Ternate-Ambon. Kapal-kapal ini lolos karena tidak masuk ke pelabuhan besar, tapi berlabuh di pelabuhan kecil di Gudang Arang. 

Jalur lain melalui kapal Pelni, tapi sebelum memasuki pelabuhan Halong, Ambon, senjata-senjata itu dibuang di perairan di luar teluk di Tanjung Alang. Setelah keadaan dianggap aman senjata-senjata itu nanti dijemput speedboat.

Begitu mudahnya kubu Kristen mendapatkan suplai senjata, sejak Mei 2000, diperkirakan sekitar 600 pucuk senjata api organik telah beredar di tangan para anggota Laskar Kristen Ambon. 


Sedangkan jenis senjata yang banyak ditemui di lapangan berjenis AK-47 buatan Rusia, Revolver, Jingle, Roger Mini, SS-1, senjata serbu M-16 buatan Amerika Serikat, pistol 9 mm buatan PT Pindad Bandung, Gerund, Moeser, AR , dan Brand.

Umat Islam Dirikan Komando Laskar Jihad

Setelah mendapatkan suplai senjata organik, Laskar Kristen semakin leluasa membantai umat Islam di wilayah Ambon dan Maluku. Aksi perlawanan demi pembelaan diri yang dilakukan umat Islam setempat, dapat dipatahkan dengan mudah dan bahkan sering menjadi pembantaian massal bagi umat Islam.

Kejadian ini bukanya tidak diperhatikan oleh umat Islam di seluruh Indonesia, informasi mengenai pembantaian umat muslim di Ambon yang dilakukan Laskar Kristen dan RMS menjadi perhatian utama seluruh rakyat Indonesia setelah jatuhnya rezim Orde Baru.

Pembentukan komando Laskar Jihad untuk membantu para korban di Ambon semakin di percepat. Panglima Laskar Jihad, Ustad Ja'far Umar Thalib yang pernah memiliki pengalaman bertempur di Afghanistan tersebut, dalam jumpa pers bersama KISDI di Masjid Al Furqon, mengatakan, sudah tiba masanya bagi umat Islam untuk terjun langsung ke medan perang untuk membantu saudaranya yang tertindas. 


Hal ini didasarkan pada sejumlah pertimbangan diantaranya adalah:

Pertama, Sudah adanya campur tangan asing melalui sejumlah tokoh Kristen untuk menjadikan konflik Ambon sebagai pintu melepaskan Maluku dari NKRI. Sejumlah tokoh Kristen tersebut adalah Ketua Sinode Gereja Maluku, Semi Titalay yang sekarang berada di Belanda dan Diki Watimena bekas Walikota Ambon. 


Menurut Ja'far mereka adalah orang-orang yang mendapat perlindungan dari konspirasi internasional sehingga pemerintah tidak berani bertindak tegas terhadap tokoh-tokoh tersebut.

Kedua, umat Islam menyesalkan pernyataan Presiden Gus Dur yang menantang Umat Islam Indonesia, khususnya Umat Islam Maluku untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Tetapi ketika tantangan itu dijawab Umat Islam, pemerintah Gus Dur malah kebingungan sendiri karena terus-menerus mendapat hardikan dan tekanan dari Amerika Serikat dan sekutunya. Karena itu, Gus Dur dianggap Ja'far gagal dalam mengatasi masalah Maluku.
Panglima Laskar Jihad, Ustad Ja'far Umar Thalib, saat memberikan pengarahan dan nasehat kepada para pejuang muslim, dalam misi jihad ke wilayah Ambon.
Ketiga, Kedatangan Laskar Jihad ke Maluku, merupakan hak dan kewajiban untuk membela dan melindungi rakyat Indonesia yang sedang dijadikan bulan-bulanan oleh para pemberontak RMS dan massa Laskar Kristen. 

Apa yang dilakukan Laskar Jihad dan kaum muslimin di Maluku adalah sebagai pihak yang membela diri dan sekaligus membela agama, negara dan bangsanya. Selain itu, perang yang dilancarkan kaum muslimin Maluku adalah ofensif balasan atau defensif aktif untuk menghancurkan seluruh potensi ancaman terhadap keamanan NKRI serta kehormatan kaum muslimin.

Setelah dideklarasikan berdirinya komando Laskar Jihad, Ribuan orang Islam dari pulau Jawa dan wilayah lain di Nusantara berbondong-bondong ke Ambon. Hampir di seluruh wilayah umat Islam mengibarkan bendera Laskar Jihad. 


Kedatangan Laskar Jihad terus mengalir setiap ada kapal Pelni tiba di Ambon. Masyarakat menyambut mereka dengan sorak-sorai meneriakkan yel-yel hidup laskar sambil mengacungkan tangan memekikkan Allahu Akbar yang disambut bersahut-sahut.

Pasukan Laskar yang berjumlah besar ini ditempatkan di seluruh pelosok kota terutama pada daerah-daerah rawan. Di luar kota mereka ditempatkan di desa Wakal di Lehihitu, desa Laha, desa kota Jawa sampai ke Pohon Mangga Air Salobar. Kini Ummat Islam merasa lega karena telah tersedia cukup banyak laskar di kampungnya.


Mereka segera dapat menyatu dalam kehidupan sehari-hari seperti penduduk yang telah lama di desa. Setiap Masjid dan Langgar penuh setiap shalat lima waktu apalagi di hari Jum'at. 

Laskar juga memenuhi undangan untuk berdakwah dari Masjid ke Masjid selain tablig akbar di ibukota kecamatan Leihitu dan Salahutu. Mereka memenuhi undangan berdakwah bahkan membuka pesantren kilat untuk anak-anak di gedung sederhana untuk pengajian ibu-ibu dan kaum lelaki.

Panglima Laskar Jihad Ustad Ja'far Umar Thalib selalu diundang bersama K.H. Ali Fauzy, ulama yang disegani umat Islam serta Brigjen Purn. Rustam Kastor yang selalu menganjurkan persatuan dan kesatuan merapatkan barisan menghadapi serangan pihak RMS dan Laskar Kristen. 


Purnawirawan ini selalu meyakinkan masyarakat tentang keberadaan RMS dibalik pembantaian Ummat Islam dengan segala bukti dan argumentasi, ia juga menjelaskan bahwa RMS itu memang kristen seutuhnya tetapi tidak semua orang kristen di Ambon senang dengan RMS. Karena itu umat kristen diharapkan segera menolak RMS dan segera bergabung dengan pihak Islam dalam kerangka NKRI.

Serangan Balik Umat Islam Dimulai

 
Setelah berdirinya komando Laskar Jihad, melalu cara infiltrasi para pejuang Laskar Jihad mulai menyebar ke seluruh pelosok Ambon dan Maluku untuk melakukan serangan balik dan merebut sejumlah wilayah basis Islam yang sebelumnya dikuasai pihak Kristen.

Ribuan umat Islam dari seluruh Indonesia bersedia mendaaftarkan diri menjadi bagian dari pasukan Laskar Jihad, untuk melawan pembantaian umat Islam yang dilakukan Laskar Kristen dan separatis RMS di Ambon dan Maluku.
Sejumlah pertempuranpun berkobar. Laskar Jihad yang menggunakan senjata apa adanya, semakin terdesak menghadapi massa Kristen yang menggunakan senjata organik yang canggih.

Pertempuran-pertempuran brutal pun berkobar, sambil menunggu bala bantuan lainnya, umat Islam menggunakan taktik gerilya dalam menghadapi kelompok Kristen. Berikut sejumlah catatan pertempuran hebat tersebut:

27-28 Mei 2000

Selama tiga hari, sejak tanggal 26 Mei 2000, Mujahidin Ternate yang dipimpin oleh Abu Bakar Wahid al Banjari, berusaha merebut kembali kec. Tobelo dan Galela dari tangan RMS (Serani istilah Kristen bagi orang Maluku, red). 


Hasilnya, pada hari Sabtu-Ahad (tanggal 27-28 Mei 2000) sebagian besar wilayah Tobelo dan Galela telah berhasil dikuasai Muslimin. Adapun korban di pihak Serani (Nasrani) sebanyak 34 orang tewas dan 70 orang luka-luka.

Serangan fajar yang dilaksanakan pada Kamis pagi (25/5) sekitar pukul 05.00 WIT di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Provinsi Maluku Utara, yang dirancang sedemikian rupa sehingga aparat pro Nasrani (Kompi C Batalion Inf. 732 Banau Maluku Utara) tidak dapat menghalangi laju gerakan Muslimin.


Akibat penyerangan mendadak ini, desa Mamuya, kecamatan Galela, Maluku Utara telah dikuasai Muslimin. Berkaitan dengan hal ini, Pangdam XVI/Pattimura Brigjen, yang lebih mendukung RMS, Max Tamaela langsung berkomentar dalam waktu dekat akan melakukan razia senjata tajam serta senjata api dari tangan Muslimin yang dipergunakan dalam kerusuhan.

30-31 Mei 2000

Pasukan jihad dari Ternate yang berjumlah 2000 orang, terus menyerang pasukan Merah di Makete, Mamuya kecamatan Tobelo, Maluku Utara. Kecamatan Tobelo yang merupakan kecamatan Muslimin, yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim. 


Tobelo yang akhirnya pernah dikuasai pasukan Merah, dijadikan sebagai modal memenuhi syarat mendirikan suatu negara, yakni penduduk, pemerintah/militer dan wilayah.
Perlawanan umat Islam dari seluruh Indonesia berkobar saat mengetahui aksi pembunuhan massal yang dilakukan Laskar Kristen dan separatis RMS terhadap umat Islam di Ambon dan kawasan Maluku lainnya.
Penyerangan atas pasukan merah (Kristen) di Galela ini menimbulkan korban di pihak Nasrani. Menurut Sinode GMIH sendiri, sebanyak 54 orang Nasrani meninggal dan 102 luka-luka dirawat di RS Bethesda dan RSU Tobelo serta 132 rumah Nasrani, sedangkan pihak Muslimin hanya beberapa orang yang luka-luka.

Pertempuran hebat terjadi hampir di seluruh wilayah Maluku saat itu, kedatangan pasukan Laskar Jihad benar-benar memberikan kekuatan dan semangat baru bagi umat muslim di Ambon dan wilayah Maluku lainnya yang selama bertahun-tahun selalu dilanda rasa takut akan dibantai oleh pihak Laskar Kristen Ambon dan kelompok separatis RMS.

Kedatangan pasukan Laskar jihad yang disambut dengan tangan terbuka, dan kemampuan para anggota Laskar Jihad berbaur dan menyatu dengan warga muslim Ambon lainnya membuat, sejumlah tokoh Kristen dan para simpatisannya mulai resah dan dilanda ketakutan. 


Ditambah lagi rencana RMS dan panglima Kristen Agus Watimena untuk mengusir seluruh umat Islam dari bumi kaya remah-rempah tersebut, tidak berjalan mulus sebagaimana mestinya. (*JU)

Baca Selanjutnya >>>

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER