Sejak Menginvasi Yaman, Ekonomi Arab Saudi Semakin Hancur - Jurnal Ummah
Load more

Sejak Menginvasi Yaman, Ekonomi Arab Saudi Semakin Hancur

Shares ShareTweet

Selama beberapa dekade dijuluki sebagai negara petro dollar, kini Kerajaan Arab Saudi mulai tertatih-tatih menghadapi pertumbuhan ekonomi yang terus melambat. Ketergantungan perekonomian negara tersebut pada minyak dan gas bumi, disaat harga minyak dunia sedang jatuh, membuat cadangan devisa negara tersebut terkuras cepat. Hal ini diperparah dengan kebijakan dinasti Al-Saud yang menghabiskan uang rakyatnya untuk membeli persenjataan, untuk digunakan membantai umat Islam lainnya di Suriah, Irak, dan Yaman. (Foto: Istimewa)
RIYADH -- Ambisi dinasti kerajaan Arab Saudi untuk menguasai seluruh Timur Tengah dengan hegemoni mereka sepertinya harus dibayar mahal. Petualangan anak-anak Dinasti Al-Saud tersebut di Timur Tengah dengan menyerang dan membantai umat Islam lainnya telah membawa kerajaan tersebut di ambang kebangkrutan.

Sebut saja bukan rahasia umum lagi bahwa kerajaan Arab Saudi menggelontorkan dana triliunan dolar kepada para organisasi teror yang satu ideologi dengan mereka. Arab Saudi lah yang melahirkan Al-Qaeda, mendanai pasukan Taliban, Al-Nusra dan lain-lain. 

Kerajaan Wahabi tersebut kini dikenal sebagai ibu kandung dari organisasi teror Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang selalu mengatasnamakan umat Islam dalam melakukan aksi terornya.

Bahkan tanpa mengindahkan hukum internasional dan mengacuhkan PBB, Arab Saudi juga menyerang Sana'a ibu kota Yaman, hanya karena mantan presiden Yaman sebelumnya yang merupakan "kacung" Saudi, dijatuhkan dari tahtanya oleh gerakan rakyat Yaman. 

Arab Saudi dengan kesombongannya membombardir Yaman dengan persenjataan canggih melawan rakyat Yaman yang mayoritas berasal dari kaum 'sarungan'. 

Kini ribuan umat Islam di Yaman tewas akibat aksi brutal anak-anak Al-Saud. Tak peduli mereka dari kalangan Sunni atau Syiah, kerajaan Wahabi tersebut terus saja membantai umat Islam jika tak sepaham dengan mereka di Timur Tengah dan belahan dunia lainnya.
Sudah menjadi pemberitaan dunia bahwa Arab Saudi adalah sponsor utama lahirnya organisasi teror ISIS, Front Al-Nusra, dan lain-lain yang mengatasnamakan Islam. Dinasti Al Saud menciptakan kelompok-kelompok teror satu ideologi dengan menciptakan perpecahan sektarian di kalangan umat Islam, untuk memperkuat hegemoninya di Timur Tengah. (Foto: Istimewa)
Kebencian Arab Saudi semakin menggelapkan mata mereka saat melihat rivalnya yaitu Negara Islam Iran justru semakin maju dan kuat dalam bidang teknologi dan lainnya, walaupun negara Islam tersebut diembargo oleh negara-negara kekuatan dunia. 

Iran yang justru diterima oleh kalangan bawah rakyat di seluruh Timur Tengah semakin membuat Al-Saud marah dan menganggap Iran akan merampas hegemoni mereka di kalangan umat Islam dan Timur Tengah khususnya.

Iran dianggap lebih populer oleh rakyat bawah di Timur Tengah, walau sekalipun mendapat perlawanan dari para penguasa mereka, karena melihat Iran yang sangat konsisten dalam memperjuangkan umat Islam di Timur Tengah, Afrika, dan kawasan lainnya. 

Hingga saat ini Iran tetap konsisten membantu perjuangan pembebasan umat Islam di Palestina, Lebanon, Irak, Suriah, Yaman, dan Bahrain. 

Berbanding terbalik dengan Arab Saudi yang justru saat ini bersekutu dengan Zionis Israel, dan mempelopori lahirnya organisasi teror yang mengatasnamakan Islam, seperti ISIS dan lainnya untuk membantai ratusan ribu umat Islam di Irak, Suriah, Yaman, dan tempat lainnya.

Lalu apa dampak atau balasan yang diterima oleh Arab Saudi dengan aksi 'koboi' mereka tersebut di Timur Tengah? Bukannya mendapatkan kejayaan dan ketenaran, saat ini Arab Saudi justru berada diambang kebangkrutan akibat melemahnya perekonomian negara di berbagai sektor.
Tentara Arab Saudi membombardir ibu kota Yaman, Sana'a. (Foto: Istimewa)
Hampir 88 persen perekonomian dinasti kerajaan Saudi ditopang dari penjualan minyak dan gas bumi, tetapi dengan anjloknya harga minya dunia saat ini membuat perekonomian kerajaan Saudi berada dalam titik nadir. 

Tapi ironisnya, walau perekonomian mereka jatuh, untuk memenuhi ambisinya, kerajaan Saudi tetap menggelontorkan dana triliunan dolar untuk membeli persenjataan dari Amerika Serikat, Uni Eropa dan Israel. 

Sebagian besar senjata canggih tersebut disuplay kepada organisasi teror seperti ISIS dan lainnya, yang digunakan untuk membantai umat Islam di Irak, Suriah, Yaman, Lebanon, dan negara-negara lainnya.

Untuk memperkuat pengaruhnya, Arab Saudi menciptakan isu-isu sektarian di kalangan umat Islam di Timur Tengah antara penganut mazhab Sunni dan Syiah, dengan menyebarkan propaganda fatwa dari para ulama Wahabi yang umumnya beraliran keras dan radikal, dan membenturkan antara Sunni dan Syiah hingga terjadi perpecahan. 

Dinasti Saudi berusaha menjadi kiblat ideologi untuk umat Islam di seluruh dunia, walaupun mendapatkan tentangan di berbagai negara Islam lainnya.

Harga Minyak Dunia Turun, Ekonomi Hancur

Perekonomian Arab Saudi ambruk karena rendahnya harga minyak dunia sejak pertengahan 2014 silam. Harga minyak dunia sendiri turun dari puncaknya di atas USD 100 per barel hingga jadi USD 40 per barel saat ini.
Rakyat Yaman yang menjadi korban agresi militer kerajaan Arab Saudi. Hingga kini ribuan rakyat Yaman, yang umumnya wanita dan anak-anak tewas akibat bombardir pesawat tempur Arab Saudi. (Foto: Istimewa)
Negara kaya minyak ini bahkan telah mengeluarkan cetak biru ekonomi jangka panjang untuk menghadapi rendahnya harga minyak dunia. Namun, hal ini tidaklah mudah karena banyaknya tantangan struktural negara yang harus dihadapi Kerajaan. 

Cetak biru ekonomi Saudi jangka panjang ini disebut 'Saudi Vision 2030' yang mengubah beberapa peraturan, anggaran dan kebijakan dalam 15 tahun ke depan. Sebagai eksportir minyak terbesar dunia, defisit anggaran Saudi pada 2015 mencapai rekor tertinggi yaitu USD 98 miliar. Para pejabat setempat sudah mengambil tindakan untuk mendiversifikasi pendapatan sebelum kas negara mengering.

Bulan ini, Deputi Putra Mahkota, Mohammed bin Salman mengatakan pada perusahaan minyak milik negara, Aramco agar asetnya dan investasinya di arahkan ke sektor lain. PDB Saudi sendiri tumbuh 3,4 persen di 2015. Langkah Saudi ini tidaklah mudah karena banyak tantangan yang harus dihadapi.

Analis dari McKinsey menyebut, Saudi bisa menaikkan pendapatan negara dan memperbaiki ekonominya dengan beberapa syarat. Pertumbuhan PDB bisa tumbuh dua kali lipat di tahun ini dibanding 2015 jika pejabat setempat bisa fokus pada delapan sektor non-minyak seperti manufaktur, pertambangan, pariwisata, kesehatan, dan keuangan. 

Dalam visi tahun 2030, Saudi menargetkan peran yang lebih besar dari sektor swasta agar menyumbang setidaknya 65 persen bagi perekonomian negara. Sebelumnya, swasta hanya memiliki porsi 40 persen. 


Mayoritas warga Saudi, sekitar 70 persennya, bekerja sebagai pegawai pemerintah dengan gaji 1,7 kali lipat lebih besar ketimbang pekerja di sektor swasta, berdasarkan data survei pasar kerja Saudi.
Pendiri kerajaan Arab Saudi. Sebuah dinasti yang lahir atas bantuan Inggris dan Zionis Israel.
Sementara sektor swasta di negara itu didominasi oleh pekerja asing yang tidak mendapatkan penghasilan serta jaminan kerja yang sama dengan pekerja asli Saudi. Dalam visinya, pemerintah Saudi ingin mendorong warga asli untuk bekerja di perusahaan swasta.

Saudi akan menggunakan dana kekayaan negara untuk membantu pengembangan sektor swasta, di antaranya yang bergerak di industri manufaktur, pariwisata, dan pertambangan.

Minyak telah menyumbang 87 persen pemasukan bagi Saudi dan jatuhnya harga minyak mentah sejak 2014 telah membuat perekonomian negara itu sedikit terpuruk. Saudi mulai memotong subsidi dan meminjam miliaran dolar untuk menyeimbangkan anggaran mereka.

Minyak Arab Saudi adalah salah satu yang termurah di dunia, dengan harga produksi hanya US$10 per barel. Namun negara itu perlu menjualnya dengan harga US$86 per barel, atau dua kali lipat harga minyak saat ini, agar anggarannya seimbang, berdasarkan estimasi IMF. 

IMF juga memperkirakan pertumbuhan GDP Saudi akan melambat menjadi 1,2 persen di tahun 2016, dibanding 3,4 persen tahun lalu. IMF memperingatkan, jika Saudi tidak melakukan perubahan besar maka negara itu akan kekurangan uang tunai dalam waktu kurang dari lima tahun. 

Tetap Beli Senjata

Walau kondisi perekonomian kerajaan Saudi sedang 'morat-marit' saat ini, namun tetap tidak menyurutkan keinginan para petinggi kerajaan untuk membeli persenjataan canggih dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Israel.
Kondisi rakyat miskin di Arab Saudi. Kesenjangan antara kaya dan miskin di Arab Saudi saat ini semakin meningkat. Segelintir kaum kaya yang umumnya memiliki keterikatan dengan dinasti Al Saud, menguasai hampir 85 persen kekayaan negara tersebut.
Pengeluaran terbesar kerajaan untuk membeli persenjataan tersebut ironisnya justru tidak berhubungan sama sekali dengan kesejahteraan dan keamanan rakyatnya, karena sebagian besar senjata yang dibeli kemudian disuplay ke berbagai organisasi teror di seluruh dunia, terutama ke teroris ISIS dan lain-lain di Suriah, Irak, Lebanon dan Yaman.

Kerajaan juga berencana membeli lebih banyak senjata dari produsen dalam negeri. Selama ini, 50 persen persenjataan Saudi dibeli dari luar negeri. Diharapkan strategi ini bisa mengatasi angka pengangguran di kalangan pemuda. 

Setidaknya setengah dari populasi Saudi berusia di bawah 25 tahun dan sektor publik tidak bisa memenuhi kebutuhan pekerjaan bagi mereka. 

Jika berhasil, berdasarkan visi ini, angka pengangguran di Saudi akan menurun hingga 7 persen pada 2030 dari sebelumnya 21 persen. Arab Saudi sebelumnya telah mengumumkan langkah penghematan, di antaranya mengurangi subsidi air dan energi serta memangkas program beasiswa asing.
Seorang pemuda miskin dan pengangguran di Arab Saudi. Hampir setengah populasi kaum muda di negara tersebut berstatus pengangguran akibat tidak berkembangnya perekonomian negara, dan terlalu bergantung pada penjualan minyak bumi. (Foto: Istimewa)
Dalam rencana baru ini, Saudi juga akan menggenjot sektor pariwisata. Saudi menargetkan 30 juta jemaah haji dan umroh pada 2030, meningkat dari jumlah saat ini yaitu 8 juta jemaah.

Banyak kalangan setempat menilai, bahwa pengurangan subsidi oleh kerajaan, akan meningkatkan jumlah kaum miskin di negara yang selalu merasa paling kaya itu. 

Bahkan para pengamat internasional menilai, kebijakan Kerajaan Saudi yang justru menyengsarakan rakyatnya, bisa menjadi pemicu terjadinya pergerakan rakyat, yang akan menumbangkan dinasti kerajaan bentukan Inggris dan Zionis tersebut. (*JU)

Sumber: cnnindonesia.com/al arabiya

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER