Serangan Terhadap Umat Islam Meningkat di Eropa dan Amerika - Jurnal Ummah
Load more

Serangan Terhadap Umat Islam Meningkat di Eropa dan Amerika

Shares ShareTweet

Para demonstran anti-Islam melakukan unjuk rasa menentang keberadaan Umat Islam di Eropa. Merebaknya aksi teror yang terjadi di sejumlah negara Barat, diikuti dengan meningkatnya kebencian terhadap Islam di wilatah tersebut. (Foto: ibtimes)
"Larangan penggunaan cadar (niqab dan burka) sudah terlambat. Saya tidak ingin melihat cadar di negara ini (Jerman). Dalam hal ini saya burkaphobe,"
NEW YORK -- Sejak semakin meningkatnya aksi teror yang terjadi di sejumlah negara Barat dan Amerika Serikat, kebencian atau Islamophobia juga semakin meningkat di wilayah tersebut. 

Seperti yang terjadi baru-baru ini, seorang imam masjid Al-Furqan Jame di Ozone Park, New York, Amerika Serikat, tewas ditembak orang tak dikenal. Sementara seorang asistennya mengalami sejumlah luka serius akibat penyerangan itu.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (14/8/16) saksi mata di lokasi kepada polisi mengatakan, peristiwa itu terjadi pada Sabtu (13/8) pukul 13.50 waktu setempat. Sang Imam dan asistennya pada saat itu baru saja menunaikan ibadah salat Zuhur.


Kepolisian setempat belum mengetahui apakah si pelaku mengatakan sesuatu sebelum menembak kedua korban. Mereka juga belum mengumumkan identitas kedua korban tersebut.

Hal ini sontak menimbulkan kegeraman bagi komunitas Muslim di AS. Beberapa orang berkumpul di lokasi kejadian dan menyatakan insiden ini adalah sebuah tindakan kebencian terhadap kelompok tertentu karena targetnya adalah 2 orang pemimpin agama.


Kebencian Terhadap Islam Meningkat

Peristiwa penyerangan terhadap umat Islam bukan hanya terjadi di AS, di sejumlah negara Eropa, Islamophobia juga meningkat dengan pesat. Menanggapi sikap warganya itu, sejumlah negara di Eropa menanggapinya dengan membatasi pergerakan umat Islam di negara itu. Beberapa negara diantaranya seperti: 

1. Jerman
Pemerintah Jerman bakal melarang penggunaan cadar (burka, niqab) yang dikenakan perempuan Muslim untuk menutupi seluruh wajah mereka. Larangan ini adalah buntut dari sejumlah serangan teror di Jerman yang diduga memiliki kaitan dengan umat Islam.
Kelompok penentang Islam di Jerman melakukan demonstrasi menolak pembangunan Masjid di negara itu. (Foto: islamicity.org)
Kanselir Jerman, Angela Merkel, baru-baru ini bahkan dipaksa agar melarang penggunaan cadar oleh jajaran partainya. Bahkan, salah satu menterinya meminta supaya pemakaian atribut atau pakaian Islam segera dilarang di seluruh Jerman.

Sebagai protes, Wakil Menteri Keuangan Jens Spahn dan anggota senior Partai Persatuan Kristen Demokratis telah mendeklarasikan anticadar (burkaphobe).

"Larangan penggunaan cadar (niqab dan burka) sudah terlambat. Saya tidak ingin melihat cadar di negara ini (Jerman). Dalam hal ini saya burkaphobe," ujar Spahn, sebagaimana dilansir Express, Senin (1/7/16).

2. Prancis 
Perdana Menteri (PM) Prancis, Manuel Valls berencana melarang pendanaan masjid di Prancis oleh pihak asing. Pelarangan ini merupakan buntut dari rangkaian serangan teroris di Prancis.

“Saya terbuka dengan ide itu dalam beberapa periode yang belum ditentukan, seharusnya tidak ada pendanaan dari luar negeri terkait konstruksi masjid-masjid (di Prancis),” ujar Valls, sebagaimana dikutip dari Sky News, Jumat (29/7/2016).

Dilaporkan, PM Prancis itu juga menginginkan para imam yang di Prancis, harus belajar dan dilatih mengajarkan Islam di Prancis, bukan di luar negeri.

Keputusan ini dikabarkan usai muncul rangkaian serangan teroris yang membayangi Prancis. Apalagi semenjak serangan teror truk di Nice, serta pembunuhan seorang pastur di Saint-Etienne-di-Rouvray, Normandia.

3. Inggris
Organisasi nonpemerintah di Inggris, Tell MAMA (Measuring Anti-Muslim Attacks) mencatat, tepat sepekan setelah insiden di Paris serangan anti-Muslim di Inggris naik 300% jika dibandingkan serangan pada pekan-pekan biasa.

Kelompok anti-Islam melakukan aksi unjuk rasa di Kota London, Inggris. (Foto: euractiv)
"Secara keseluruhan kami mencatat 115 insiden serangan terhadap Muslim di Inggris pada pekan setelah serangan di Paris. Jika dibandingkan dengan data mingguan kami, maka terjadi kenaikan sekitar 300%," kata Iman Abou Atta, wakil direktur Tell MAMA.

Iman Abou Atta menambahkan setelah serangan yang dikaitkan dengan Islam, biasanya memang diikuti dengan kenaikan serangan atau setidaknya sentimen anti-Islam.

Menghadapi situasi ini, Imam Yusuf, pengurus masjid di Woolwich di London tenggara meminta warga Muslim untuk tidak konfrontatif. "Ketika orang-orang yang tidak tahu mendatangi Anda, apa yang Anda lakukan? Hadapi mereka secara baik. Jangan balas perlakukan buruk mereka," kata Yusuf.


"Islam tidak mengajak konfrontasi. Inti Islam adalah mengajak dan menyeru. Bicara baik-baik dengan mereka, jangan balas perlakuan buruk mereka," ujar Yusuf.Selain negara-negara di atas, sejumlah negara Eropa lainnya seperti Belgia, Belanda, dan sejumlah wilayah di Swiss dan Italia telah mengikuti langkah membatasi pergerakan umat Islam di negara mereka masing-masing. 

Sedangkan sejumlah komunitas dan organisasi umat Islam di sejumlah negara di Eropa mengatakan bahwa, berbagai upaya telah dan terus dilakukan untuk mengatasi persoalan ini. Tapi, selama masih ada serangan-serangan yang mengatasnamakan Islam, kekhawatiran demi kekhawatiran akan terus terjadi di komunitas Muslim di Barat.[*JU]

Sumber: BBC / Reuters

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER