Setiap Hari 10 Ribu Muslim Rohingya Tewas Dibantai di Myanmar - Jurnal Ummah
Load more

Setiap Hari 10 Ribu Muslim Rohingya Tewas Dibantai di Myanmar

Shares ShareTweet

Etnis muslim Rohingya di Myanmar masih terus mengalami pembantaian secara sistematis yang dilakukan oleh kekuatan rezim. Dilaporkan, setiap harinya puluhan ribu etnis muslim Rohingya tewas dibantai. Mereka berusaha menyelamatkan diri dengan berbagai cara dari kejaran tentara Myanmar, setelah pemukiman mereka dibumi hanguskan oleh tentara rezim (image: istimewa)
"Mereka membuat kesepakatan, tapi kami tidak akan mengikuti kesepakatan itu. Ketika kami kembali, mereka akan menyiksa dan membunuh kami lagi,"
RAKHINE -- Sejumlah fakta baru ditemukan dalam tragedi pembantaian umat muslim di Myanmar. Doctors Without Borders atau Mdecins Sans Frontires (MSF) telah melakukan survei terhadap para pengungsi Rohingya di Bangladesh. 

Survei ini untuk mengetahui apa sebenarnya yang membuat mereka melarikan diri dari Rakhine, Myanmar.

Seperti dilansir Republika.co.id, Kamis (14/12) sebagian besar pengungsi di Bangladesh adalah pengungsi baru yang tiba setelah tanggal 25 Agustus. Pada tanggal tersebut, sebuah operasi militer kontra-pemberontakan dilakukan di Negara Bagian Rakhine.

Survei dilakukan di permukiman pengungsi Kutupalong, Balukhali dan Tasnimarkhola di distrik Cox's Bazar, Bangladesh. Survei menargetkan total populasi pengungsi yang diperkirakan sebesar 608.108 orang.

Survei MSF ini mewakili 80,4 persen dari jumlah penduduk yang baru tiba di Bangladesh dari Myanmar. MSF mengumpulkan hasil survei kolektif dan mengolahnya dengan weighted analisis yang menggunakan perkiraan populasi relatif untuk masing-masing daerah tangkapan survei.

Menurut hasil survei pada ribuan keluarga seperti disebut diatas, kekerasan adalah penyebab langsung mayoritas kematian yakni 71,7 persen. Jika dirinci, sebanyak 64,4 persen karena penembakan, 8,8 persen karena dibakar di dalam rumah, lima persen karena dipukuli, kekerasan seksual sebesar 2,6 persen dan ranjau darat sebesar satu persen.

Jika dinyatakan dalam angka kematian per 10 ribu orang per hari, maka data menunjukkan tingkat kematian yang sangat tinggi. Jika dihitung dengan angka kematian kasar (CMR-Crude Mortality Rate) maka hasilnya sebesar 8,02 kematian/10.000/hari di 31 hari setelah 25 Agustus 2017.


Survei ini memberikan bukti epidemiologis mengenai tingginya tingkat kematian di kalangan penduduk Rohingya karena kekerasan. Hasil survei juga menyatakan bahwa mereka menghadapi pembunuhan massal sebelum mereka tiba di Bangladesh.
Tentara Angkatan Darat Myanmar terus melakukan penyisiran di sejumlah desa dan perkampungan etnis Rohingya. (image: istimewa)
Angka kematian yang ditangkap di sini masih dibawah perkiraan, karena data tersebut tidak memperhitungkan orang-orang yang belum dapat meninggalkan Myanmar. Juga untuk yang seluruh anggota keluarganya terbunuh.

Etnis Rohingya Takut untuk Kembali ke Myanmar

Wabah penyakit, kelaparan, dan kesengsaraan telah membayangi warga Rohingya yang tinggal di kamp-kamp pengungsi Bangladesh. Namun, meski menghadapi banyak kesulitan, hanya sedikit dari mereka yang bersedia untuk pulang ke Myanmar.

Kesepakatan yang telah ditandatangani oleh Myanmar dan Bangladesh pada November lalu untuk mulai memulangkan pengungsi, telah membuat para pengungsi ketakutan. Mereka kembali diselimuti trauma akan kekerasan yang terjadi di tanah air mereka.

"Mereka membuat kesepakatan, tapi kami tidak akan mengikuti kesepakatan itu. Ketika kami kembali, mereka akan menyiksa dan membunuh kami lagi," kata seorang pengungsi Rohingya, Mohammad Syed, (33 tahun).

"Mereka harus mengakui kami sebagai warga negara. Mereka harus memberi kami kartu identitas Rohingya yang benar. Baru setelah itu kami akan kembali. Kalau tidak, kami lebih baik mati di sini di Bangladesh," kata seorang pria Rohingya lainnya, Aziz Khan (25).

Kelompok HAM juga mengkhawatirkan kondisi yang tidak aman bagi para pengungsi untuk kembali ke Myanmar. Kesepakatan itu dinilai tidak dapat memberikan jaminan akan keselamatan mereka.

"Ini jebakan, mereka telah memberikan jaminan seperti itu sebelumnya, tapi kami masih hidup seperti di neraka. Saya lebih suka tinggal di sini. Kami mendapatkan makanan dan tempat berlindung di sini, dan kami bisa berdoa dengan bebas. Kami diperbolehkan untuk tinggal," kata Dolu, wanita Rohingya yang tinggal di kamp pengungsi di Cox's Bazar.

Kelompok-kelompok bantuan telah memperingatkan Myanmar, mereka akan memboikot kamp-kamp baru yang diperuntukkan bagi orang-orang Rohingya yang telah kembali. Mereka mengatakan, pengungsi harus diizinkan tinggal di rumah mereka sendiri, bukan di kamp.(*JU)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER