Sumbangsih Bahasa Arab Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia - Jurnal Ummah
Load more

Sumbangsih Bahasa Arab Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia

Shares ShareTweet

Para pedagang dan saudagar muslim pada masa lampau yang memasuki Nusantara, bukan hanya mampu membangkitkan perekonomian kawasan, namun juga membawa khazanah-khazanah peradaban baru, seperti bahasa, sastra dan lain sebagainya, yang akan membantu pembentukan negara Indonesia di masa depan.
Jurnalummah -- Dalam beberapa bulan terakhir sempat menjadi viral di dunia maya dan sosial media perbincangan mengenai Arabphobia atau kebencian terhadap unsur-unsur dan sesuatu yang dianggap berbau arab atau kearab-araban. 

Perdebatan semakin panas setelah sejumlah tokoh politik nasional bahkan para artis juga ikut berkomentar dan menunjukkan kebencian mereka terhadap sesuatu yang dianggap bernuansa Arab.

Kelompok tersebut menganggap bahwa Indonesia bukanlah Arab, dan seorang muslim bukan berarti harus meniru Arab dan bahkan harus menanggalkan dan membuang apapun yang bernuansa Arab.

Tapi tahukah anda bahwa Indonesia sangat kuat dipengaruhi oleh unsur Arab hampir di semua lini kehidupannya. Salah satunya adalah sumbangsih Arab dalam membentuk dan memperkaya khazanah maupun kosakata bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia.

Bahasa Arab adalah bahasa agama, juga sekaligus bahasa Internasional yang merupakan salah satu khazanah peradaban dunia klasik dan bahasa asing tertua. Bahasa Arab selalu identik dengan Islam dan negara-negara Timur Tengah. Karena keduanya ada sebuah hubungan dan sejarah; yaitu Islam pertama lahir di Jazirah Arab. 


Sehingga kitab suci umat Islam turun pada Rasulullah dengan bahasa Arab. Ini tiada lain bertujuan untuk memudahkan umat Islam dalam mengahafalkannya, memahaminya, serta menyebarkannya atau mengajarkannya.

Bahasa Arab secara riil digunakan oleh sebagian besar penduduk Indonesia dalam kegiatan peribadatan mereka. Seperti dalam bidang ekonomi, perdagangan, pekerjaan dan politik, bahasa Arab menempati tempat yang sangat signifikan.
Seorang aktris nasional yang mencela tulisan Arab dan sempat menjadi viral di media sosial
Jika Islam secara meluas telah dianut oleh masyarakat kita pada abad ke-13, maka usia pendidikan bahasa Arab dipastikan sudah lebih dari 7 abad. Karena perjumpaan umat Islam Indonesia dengan bahasa Arab itu paralel dengan perjumpaannya dengan Islam. Dengan demikian, bahasa Arab di Indonesia jauh lebih “tua dan senior” dibandingkan dengan bahasa asing lainnya, seperti: Belanda, Inggris, Portugal, Mandarin, dan Jepang.

Kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Melayu yang berasal dari bahasa Arab cukup banyak, diperkirakan sekitar 7.000 - 15.000. Sebagian kata-kata Arab ini masih utuh dalam arti yang sesuai antara lafal dan maknanya, dan ada sebagian lagi berubah. Untuk jelasnya kita ikuti saja contoh-contoh berikut ini:

a. Lafal dan arti masih sesuai dengan aslinya:
abad, abadi, abah, abdi, adat, adil, amal, aljabar, almanak, asli, awal, akhir, azan, bakhil, baligh, batil, barakah, daftar, dan ribuan kosakata lainnya.

b. Lafalnya berubah, artinya tetap
berkah, barakat, atau berkat dari kata barakah, buya dari kata abuya, derajat dari kata darajah, dan ribuan kosakata lainnya.

c. Lafal dan arti berubah dari lafal dan arti semula:
keparat dalam bahasa Indonesia merupakan kata makian yang kira-kira bersepadan dengan kata sialan, berasal dari kata kufarat yang berarti orang kafir (jamak).


Logat dalam bahasa Indonesia bermakna dialek atau aksen, berasal dari kata lughah yang bermakna bahasa atau aksen. Naskah dari kata nuskhatun yang bermakna secarik kertas. Dan ribuan kosakata lainnya.

d. Lafalnya benar, artinya berubah:
Ahli, dalam bahasa indonesia bermakna orang yang mempunyai kemampuan, berasal dari bahasa Arab yang bermakna luas yaitu orang yang berasal dari. "kalimat" dalam bahasa Indonesia bermakna rangkaian kata-kata, berasal dari bahasa Arab yang bermakna kata. siasat, juga bermakna politik dalam bahasa arab moderen.

Bahasa Arab mulai dikenal dan berkembang luas di madrasah-madrasah pada masa lampau. Saat itu bahasa Arab menjadi salah satu bahasa pribumi dan dianggap sebagai simbol perlawanan menghadapi kolonial Belanda. (Foto: Istimewa)
Asimilasi antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab sudah berlangsung empat atau lima abad ketika bahasa indonesia masih merupakan bahasa melayu terutama kata-kata yang mengekdpresikan perasaan ke-Tuhanan rasa bergantung kepada Tuhan Yang Mahaesa. Pemakaian kata yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan seperti Allah, insya Allah, astaga, hari kiyamat, takdir, khutbah ruhul khudus dan masih banyak lagi.

Sejarah Bahasa Arab di Indonesia

Bersamaan dengan masuknya agama islam kepulauan Nusantara, maka masuk pula pengaruh bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu. Prasasti dalam bahasa melayu yang telah menggunakan kata-kata Arab berasal dari abad ke 14 Masehi, berupa batu nisan dari makam putri sultan Malik Az-Zahir (Sultan Pasai) yang terdapat di Minye Tujuh (Aceh). 


Batu nisan ini memang berasal dari masa peralihan gama di Sumatra, hurufnya bukan huruf arab tapi masih memakai huruf Sumatra kuno (perkembangan dari huruf pallawa). Pengaruh bahasa Arab pada bahasa melayu itu melalui bahasa tulisan, ialah dari kitab-kitab agama terutama kitab-kitab fiqih, Buku-buku kesusastraan Arab atau Islam serta melalui bahasa alim ulama.

Prof Abdul Hadi WM dalam Cakrawala Budaya Islam menuliskan, sejak kejatuhan Baghdad pada abad ke-13, mulai bermunculan organisasi-organisasi dagang yang disebut ta'ifah. Ta'ifah ini dipimpin figur sufi sehingga kegiatannya tidak semata-mata urusan perniagaan, tapi juga sosial keagamaan.

Di sisi lain, lanjut Abdul Hadi, sastra merupakan bidang penting bagi para salik dalam menyebarkan ajarannya, khususnya di negeri-negeri Islam non-Arab, semisal Persia, pantai timur Afrika, atau Nusantara. Para sufi tampil sebagai pelopor kebangkitan bahasa-bahasa baru Dunia Islam. Sebut saja bahasa Persia, Swahili, Urdu, atau Melayu.


Semua itu naik tarafnya menjadi bahasa peradaban Islam di wilayah penutur aslinya dan bahkan mencapai lintas wilayah (internasional). Prof Amin Sweeney mencatat bahwa bahasa Melayu pernah menjadi bahasa ketiga dalam Dunia Islam.

Argumentasi itu mungkin masih berlaku sampai hari ini. Pencapaian bahasa Melayu ini juga berkat budaya tulis para ulama dan salik Nusantara, di samping menggunakan bahasa Arab, untuk menyebarkan Islam.

Kompleks makam abad 15 di Aceh, dengan menggunakan aksara Arab. (Foto: Istimewa)
Melalui sastra dan dakwah, bahasa Arab merembes ke dalam bahasa Melayu. Demikian pula seiring dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang berpusat di kota-kota pelabuhan. Beberapa contoh di antaranya adalah Samudra Pasai, Malaka, Aceh, Johor, Banten, dan Makassar.

Abdul Hadi memaparkan, sebagian besar teks-teks Nusantara klasik ditulis pada zaman Islam, yakni abad ke-15 sampai abad ke-19. Teks-teks ini bukan hanya menggunakan bahasa Melayu atau Arab, melainkan juga bahasa daerah setempat, seperti Jawa, Sunda, Aceh, Madura, Bugis, Sasak, Banjar, dan Minangkabau. 


Menurut guru besar Universitas Paramadina tersebut, penduduk Nusantara yang tak berhasil dimasukkan ke dalam Islam bisa dikatakan tidak pernah mengenal tradisi menulis.

Salah satu sastrawan Muslim unggul pada masa itu adalah Hamzah Fansuri. Ia merupakan penulis sufi yang memperkenalkan syair dalam kesusastraan Melayu. Genre tersebut merupakan bentuk sajak yang terdiri atas empat baris dengan rima teratur, 'a-a-a-a'. 


Abdul Hadi menduga, syair merupakan perpaduan dari genre ruba'i yang berasal dari Persia dan pantun Melayu. Di samping bahasa Arab, Persia dan Melayu, Hamzah Fansuri juga menguasai bahasa Hindi, Jawa, dan Siam.

Hamzah Fansuri juga merupakan orang pertama yang menulis risalah keagamaan dan ilmu pengetahan dalam bahasa Melayu tinggi. Adapun ulama-ulama terdahulu pada umumnya menulis dengan bahasa Arab.

Melalui tangan Hamzah Fansuri-lah bahasa Melayu mulai difungsikan sebagai bahasa fungsional untuk sastra dan sains. Abdul Hadi WM bahkan mengusulkan agar Hamzah Fansuri didaulat sebagai Bapak Bahasa Indonesia dan Malaysia atas jasa-jasanya mengangkat bahasa Melayu.

Memperkaya Khazanah Intelektual Indonesia

Dalam khazanah sastra keagamaan Melayu, intelektual Muslim Melayu-Indonesia pada kurun waktu yang lalu telah memberikan kontribusi yang besar terhadap khazanah intelektual dalam bidang bahasa, sastra, dan agama.

Karya-karya sastra Melayu lama yang banyak mengandung unsur Islam dinyatakan oleh Yock Fang sebagai sastra keagamaan atau sastra Islam. Secara garis besar, sastra keagamaan ini dapat digolongkan menjadi tiga corak. Sastra rekaan, sastra kesejarahaan dan sastra kitab.

Propaganda Anti Arab yang kini sedang gencar digelorakan sejumlah pihak, namun melupakan fakta sejarah peran dan sumbangsih Arab dalam membentuk sendi peradaban Indonesia moderen. (Foto: Istimewa)
Bahasa Arab pada abad ke-17 menjadi basis untuk karangan-karangan bersifat keagamaan di Melayu. Teks-teks bertuliskan Arab dan penjelasannya diberikan secara lisan dalam bahasa Melayu. Inilah salah satu penyebab yang memperkaya khazanah pernaskahan Arab di Indonesia. Sejak abad ke-17 terjadi kenaikan cukup besar dalam jumlah naskah yang tertulis dalam bahasa Arab. Penggerak utamanya adalah para Jawi.

Sementara itu, Novita Hemalini dalam Pengaruh Bahasa Arab Dalam Pembentukan Kosakata Pada Media Massa Indonesia menerangkan masuknya pedagang yang berasal dari Gujarat, Persia, dan Arab ikut menyebarkan budaya mereka ke Indonesia, salah satunya bahasa.

Terkait  kosakata bahasa Arab yang berubah menjadi kosakata bahasa Indonesia adalah kosakata yang memiliki kemiripan makna. Selain itu, mempunyai kemiripan dengan pengucapan. Dengan begitu, hasil yang diperoleh dari kosakata tersebut adalah kosakata bahasa Indonesia yang memiliki makna kata sama dengan kosakata bahasa Arab.


Meskipun demikian, banyak kosakata dari bahasa Arab yang mengalami pergesaran makna ketika berubah menjadi kosakata bahasa Indonesia. Meskipun secara pengucapan tidak begitu menunjukkan perubahan yang signifikan, pada kandungan makna kata memiliki arti yang menyimpang.

Jadi, untuk pihak-pihak yang selama ini sangat membenci apapun yang bernuansa dan berbau Arab, akan sangat lebih bijaksana untuk mengisi pengetahuan mereka dengan sejarah. Bahwa, Arab yang sangat begitu mereka benci, ternyata memiliki andil dan sumbangsih besar dalam pembentukan sendi-sendi dan pilar-pilar negara Indonesia moderen. 


Akan sangat ironis dan naif, karena kurangnya pemahaman, disatu sisi mereka mencaci maki, namun disisi lain mereka menggunakan produk-produk Arab dalam kehidupan sehari-harinya tanpa ada rasa malu.(*JU)

*Dari Berbagai Sumber

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER