Teknologi Senjata yang Berhasil Diciptakan Umat Islam Pada Era Perang Salib - Jurnal Ummah
Load more

Teknologi Senjata yang Berhasil Diciptakan Umat Islam Pada Era Perang Salib

Shares ShareTweet

Perang memperebutkan kota Konstatinopel salah satu peperangan terlama yang pernah terjadi di muka bumi antara pasukan Islam melawan pasukan Kristen kekaisaran Romawi  Timur. Untuk memenangkan pertempuran, pasukan muslim berusaha menciptakan penemuan baru dalam teknologi perang. Kota tersebut akhirnya berhasil ditaklukkan oleh Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1453. (photo: istimewa)
Jurnalummah -- Perang Salib, seperti itulah bangsa Eropa atau Barat biasa menamakannya, merupakan salah satu peperangan terbesar dalam sejarah umat manusia. Selain memakan waktu yang begitu lama dan jumlah korban yang sangat besar di kedua belah pihak, Perang Salib juga banyak melahirkan inovasi dan penemuan baru dalam bidang pertahanan dan teknologi perang.

Kubu muslim yang saat itu menjadi pihak paling tersudutkan akibat serangan dari berbagai negara Eropa, akhirnya berusaha menciptakan penemuan baru untuk mengimbangi pasukan salib yang menang dari segi jumlah. Setidaknya, berikut sejumlah inovasi dan penemuan teknologi perang yang berhasil diciptakan oleh umat Islam pada saat itu.

1. Mengirim Pesan Menggunakan Merpati Pos

Pada masa Perang Salib, tentara salib belum mengenal teknik pengiriman informasi dengan menggunakan burung merpati. Sehingga jika mereka dikepung secara ketat di sebuah benteng oleh pihak Muslim, mereka sama sekali tidak mampu berkomunikasi dengan rekan-rekannya yang berada di luar wilayah itu.

Hal semacam ini tidak berlaku pada pasukan Muslim, karena ketika itu mereka sudah mengenal cara pengiriman informasi dengan menggunakan burung merpati. Burung-burung merpati yang telah dilatih ini disisipi pesan, biasanya pada kakinya, yang kemudian diterbangkan ke tempat tujuan. Dengan cara ini, informasi bisa tetap disampaikan walaupun pasukan Muslim dalam keadaan terkepung sekalipun.

Bahkan menurut Francesco Gabrieli dalam Arab Historians of the Crusades, sistem informasi reguler dengan menggunakan burung merpati telah diterapkan untuk pertama kalinya pada masa kepemimpinan Nuruddin Mahmud Zanki di Suriah. Dengan demikian, para pemimpin Muslim di setiap kota senantiasa mendapatkan akses informasi yang cepat secara berkala. 


Ditambah lagi dengan sistem intelijen dan jaringan informasi lainnya yang ada pada masa itu, membuat para pemimpin Muslim dapat mengetahui berbagai hal penting yang terjadi di tempat yang jauh dari tempat mereka.Dengan demikian, mereka selalu dalam keadaan siap untuk mengantisipasinya.

2. Penemuan Greek Fire Super

Kota-kota pada abad pertengahan biasanya dilindungi oleh tembok benteng yang kuat. Untuk menaklukkan sebuah kota, di antara alat yang sering digunakan adalah menara kayu (siege tower) yang dibuat sama atau lebih tinggi dari tembok kota yang sedang diserang. Menara ini biasanya diberi roda sehingga dapat digerakkan mendekati tembok dan dibuat beberapa tingkat sehingga dapat diisi tentara di dalamnya.

Tantangan utama menara kayu ini adalah jika pasukan yang berada di dalam kota atau benteng memiliki teknologi greek fire. Greek fire adalah bom abad pertengahan. Ia dibuat dari campuran minyak nafta, sulfur, dan beberapa bahan lainnya. 


Dinamakan seperti itu karena yang membuat dan menggunakan senjata ini pertama kali adalah Kekaisaran Byzantium yang didominasi oleh orang-orang Yunani (Greek).

Adalah Ali ibn al-Nahhas seorang pasukan Muslim asal Damaskus, anak seorang pandai besi (nahhasin). Pemuda ini memiliki rasa ingin tahu dan ketertarikan yang besar terhadap greek fire.

Ketertarikan itu membuatnya suka melakukan percobaan dengan greek fire. Ia mempelajari komposisi greek fire dan mencoba menambahnya dengan campuran yang berbeda dan memperhatikan efek yang ditimbulkannya.


Selama masa pertempuran, pemuda ini telah mencoba membuat ramuan greek fire yang mampu mengatasi tanah liat dan lapisan cuka. ia menawarkan temuannya pada jenderal yang memimpin pertahanan kota Acre, Baha’uddin Qaraqush.
Greek Fire yang dikembangkan mampu menjebol dan meratakan pertahanan musuh. (photo: istimewa)
Qaraqush akhirnya setuju. Pemuda itu kemudian menyiapkan beberapa guci tanah liat yang diisi dengan ramuan racikannya. Setelah siap, greek fire ini segera diujicobakan dan diarahkan ke sebuah menara musuh. 

Beberapa buah greek fire dilemparkan tanpa disulut api ke arah menara musuh. Karena bom itu pecah dan minyaknya menyebar tetapi tanpa ada api sama sekali. 

Namun, setelah itu dilontarkan greek fire yang sudah disulut api. Efeknya sungguh mengejutkan. Api menyebar cepat ke seluruh menara dan membakarnya dengan hebat. Banyak tentara salib yang berada di dalamnya ikut terbakar karena serangan itu. Menara itu pun hancur terbakar oleh api.

3. Penemuan Granat Tangan Pertama
Sebuah koleksi artefak mengesankan diserahkan kepada Israel Antiquities Authority (IAA). Salah satu artefak adalah granat tangan berusia 1.000 tahun yang digunakan pasukan Islam dalam Perang Salib.

Benda-benda antik ini dikumpulkan sejak tahun 1973 oleh Marcel Mazliah dari Hadera, sebuah kota di pantai Mediterania Israel. Bekerja di stasiun listrik Orot Rabin, pria itu menemukan sebagian besar barang-barang di laut yang tenggelam bersama kapal.

Setelah kematiannya, keluarga Mazliah menghubungi IAA dan menyerahkan koleksi harta karun arkeologi tersebut.


Seorang ahli dari otoritas barang antik memeriksa bermacam-macam artefak dan terkejut menemukan sebuah granat tangan, yang umum digunakan oleh pasukan Islam selama Perang Salib dari 1099-1187.
Granat tangan pasukan muslim pada masa perang salib (photo: Facebook/Israel Antiquities Authority)
Granat tersebut diisi dengan minyak, nafta atau api Yunani dan dilemparkan pada musuh. Menurut para ahli, ini adalah bukti yang signifikan dari perdagangan logam yang dilakukan saat itu.

4. The Mohammed’s Greats Gun


Inilah salah satu senjata paling fenomenal yang digunakan dalam perang salib. Meriam dibuat sebagai jawaban atas keinginan Muhammad al-Fatih untuk menjebol benteng pertahanan Kostantinopel, dan merebut kembali Kota Konstantinopel pada tahun 1453 dari tangan Pasukan Salib (Crussaders)

Artileri super berat bernama “The Great Turkish Bombard” atau juga dikenal dengan nama “Dardanella Gun”, karena dipakai dalam perang melawan Kerajaan Britania Raya di selat Dardanella pada tahun 1807. Bangsa-bangsa di Eropa juga mengenalnya dengan sebutan “Muhammad Gun”.

Senjata ini memiliki nama yang setara dengan kemampuannya. Dirancang pertama kali pada tahun 1450 oleh seorang insinyur bernama Munir Ali. Dengan panjang 518 cm (kaliber 8,2) dan berat 18,6 ton, senjata ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian laras yang digunakan untuk menembakkan peluru yang terbuat dari bola-bola granit raksasa dengan bobot sebesar 300 Kg hingga 1600 Kg, dan bagian selongsong yang dapat menampung 7 bola granit raksasa atau 15 bola granit ukuran kecil.


Karena itulah dalam sehari meriam ini hanya bisa menembakkan paling maksimal 15 kali. Jangkauan tembak The Great Bombard dapat mencapai jarak satu mil.

The Great Bombard terbuat dari perunggu kualitas terbaik dan ditempa oleh para tukang besi terbaik saat itu, dan yang membuat meriam ini berbeda daripada meriam-meriam lainnya adalah ukiran seni yang mengandung unsur kebudayaan Islam pada masa itu.

5. Teknologi Pembuatan Bubuk Mesiu (Gunpowder)

Tidak hanya mumpuni dalam seni membuat pedang, kaum Muslim juga mampu mengembangkan teknologi pembuatan mesiu. Meski sejumlah pakar bersepakat bahwa mesiu (gunpowder) pertama kali ditemukan peradaban Cina pada abad ke-9 M.

Meriam kolosal milik pasukan muslim pada era perang salib, The Mohammed’s Greats Gun
Namun, fakta sejarah juga menyebutkan bahwa ahli kimia Muslim bernama Khalid bin Yazid (wafat tahun 709 M) sudah mengenal potassium nitrat (KNO3)  bahan utama pembuat mesiu  pada abad ke-7 M. Dua abad lebih cepat dari Cina.

Jauh sebelum Eropa mengembangkan teknologi pembuatan mesiu, ilmuwan-ilmuwan Muslim telah lebih dulu mencobanya. Banyak ilmuwan Mulim yang menguasai teknik pemurnian potassium, sebuah teknik yang tak diketahui oleh orang-orang Cina. 


Jabir Ibnu Hayyan (wafat tahun 815 M), Abu Bakar Al-Razi (wafat tahun 932), dan Hasan Al-Rammah adalah ilmuwan-ilmuwan Muslim yang telah menguasai teknik ini dan telah dijelaskan di dalam karya-karya mereka. Teknik pemurnian ini dilakukan agar potassium bisa digunakan sebagai bahan peledak.

Pemurnian potassium ini pernah diklaim Barat sebagai temuan Roger Bacon. Namun klaim ini dipatahkan sendiri oleh ilmuwan Barat lainnya yaitu Partington. Hasan Al-Rammah telah menjelaskan proses ini secara rinci di dalam karyanya Al-Furusiyyah wa Al-Manasib Al-Harbiyyah. 

Penguasaan Al-Rammah atas penggunaan bubuk mesiu sangat luar biasa. Ia telah berhasil menulis sebanyak 107 rumus atau resep penggunaan mesiu. 22 resep di antaranya diracik khusus untuk membuat roket.

Saat Perang Salib meletus tahun 1249 M, Raja louis IX dan para pasukannya pernah merasakan kehebatan moncong meriam dan roket kaum Muslim. Betapa hebatnya dampak proyektil yang ditembakkan pasukan Muslim, membuat Raja Louis IX kewalahan dan akhirnya takluk. Peristiwa itu diakui sendiri oleh Jean de Joinville, salah seorang perwira tentara Perang Salib.

Salah satu kelebihan peradaban Islam dibandingkan Cina dalam penguasaan teknologi pembuatan mesium adalah proses pemurnian potasium nitrat. Sebelum bisa digunakan secara efektif sebagai bahan utama pembuatan mesiu, papar Al-Hassan, potasium nitrat harus dimurnikan terlebih dahulu.

Bubuk mesiu (gunpowder)
Ada dua proses pemurnian potasium nitrat yang tercantum dalam naskah berbahasa Arab. Proses pemurnian yang pertama dicetuskan Ibnu Bakhtawaih pada awal abad ke-11 M. 

Dalam kitab yang ditulisnya berjudul Al-Muqaddimat yang disusun pada tahun 402 H/1029 M, Ibnu Bakhtawaih menjelaskan tentang pembekuan air dengan menggunakan potasium nitrat - yang disebut sebagai shabb Yamani.

6. Pedang Damaskus

Dihiasi dengan ornamen garis bergelombang, lentur, ringan, dan mampu menembus baju zirah, menjadikan pedang damaskus salah satu senjata perang paling bersejarah. Pedang ini diproduksi di Damaskus pada abad ke-12 M. 


Pedang yang pernah membuat gentar Pasukan Salib ini, memiliki semacam lapisan kaca di permukaannya. Sutra akan terbelah bila jatuh di atasnya.

Pedang Damaskus merupakan pedang yg paling tajam di dunia, lebih tajam daripada katana Jepang maupun keris Indonesia. Hingga kini teknologi metalurgi yg paling canggih pun belum mampu membuat pedang yg lebih tajam dari Pedang Damaskus.


Selain kuat, baja Damaskus juga sangat lentur, sehingga benar-benar sempurna untuk dijadikan pedang atau pisau. Pedang tersebut bahkan mampu membelah sutera yg dijatuhkan ke atasnya, juga mampu membelah pedang lain atau batu tanpa mengalami kerusakan sama sekali.
Pedang Damaskus, hingga kini masih menyandang gelar sebagai pedang terkuat dan tertajam di dunia.
Menurut national geographic, studi yang dilakukan terhadap pedang Damaskus ini mengungkapkan bahwa pedang legendaris tersebut mengandung nanowires, nanotube carbon, dan bahan-bahan mikro lainnya. Struktur yang rumit tersebut mungkin bisa menjelaskan mengapa pedang tersebut bisa menjadi sangat tajam. 

Bisa dikatakan para ilmuwan muslim di timur tengah telah menggunakan teknologi nano sejak seribu tahun yg lalu. Beberapa ahli metalurgi modern mengaku sudah berhasil membuat baja yg sangat mirip dengan baja Damascus , namun tetap belum berhasil meniru 100%.(*JU)

*Dari Berbagai Sumber

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER