85.000 Anak-anak Yaman Mati Kelaparan Akibat Invasi Arab Saudi - Jurnal Ummah
Load more

85.000 Anak-anak Yaman Mati Kelaparan Akibat Invasi Arab Saudi

Shares ShareTweet

Ribuan anak-anak Yaman menderita kelaparan akibat invasi militer yang dilakukan Arab Saudi dan kekuatan koalisinya. Sebagian anak-anak tersebut bahkan masih terjebak di zona-zona perang di negara tersebut. (Sumber foto: Anadolu Agency)
"Saya takut perang dan khawatir kita tidak akan punya makanan. Ini menyedihkan. Saya tidak bisa tidur, itu menyiksa, dan saya khawatir tentang anak-anak saya. Saya tidak bisa hidup jika ada bahaya yang menimpa mereka,"
SANAA -- Organisasi non-pemerintah internasional Save the Children melaporkan, sudah sekitar 85.000 anak di Yaman di bawah usia lima tahun meninggal karena kelaparan. Angka itu akumulasi tiga tahun terakhir, imbas dari perang sipil di negara tersebut. Organisasi itu mendesak gencatan senjata segera untuk mencegah lebih banyak korban jiwa.

Angka dari laporan Save the Children adalah perkiraan konservatif berdasarkan data PBB mengenai gizi buruk akut, yang disebut badan internasional telah menimpa lebih dari 1,3 juta anak sejak konflik antara pemberontak Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi pecah mulai tahun 2015.

Sekitar 14 juta orang, separuh dari total penduduk Yaman, saat ini menghadapi risiko kelaparan. Sebagian besar penyebabnya karena blokade perbatasan Saudi yang dirancang untuk melemahkan kelompok Houthi. Blokade itu memutus akses sipil terhadap makanan, bahan bakar, bantuan dan barang-barang komersial.

Ketakutan penduduk sipil Yaman telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir karena eskalasi pertempuran di sekitar kota pelabuhan Hodeidah di Laut Merah. Kota itu menjadi gerbang sekitar 80 persen aliran impor Yaman.

Bahkan, sejumlah kecil kerusakan fasilitas pelabuhan, dan penundaan pengiriman bantuan, berpotensi menyebabkan PBB mengumumkan bencana kelaparan yang meluas.

"Saya takut perang dan khawatir kita tidak akan punya makanan. Ini menyedihkan. Saya tidak bisa tidur, itu menyiksa, dan saya khawatir tentang anak-anak saya. Saya tidak bisa hidup jika ada bahaya yang menimpa mereka," kata Suad, seorang ibu dari Nusair yang berusia 13 bulan, seperti dikutip The Guardian, Kamis (22/11/2018).

Nusair adalah salah satu anak yang menderita kekurangan gizi akut yang sedang diobati Save the Children. Selain itu diperkirakan masih terdapat ribuan anak-anak Yaman yang terjebak dan menderita kelaparan di wilayah zona perang di negara tersebut.

Dokter mengukur lengan seorang anak Yaman yang mengalami malnutrisi akibat perang, di Pusat Kesehatan Aslam, Hajjah, Yaman, 1 Oktober 2018. (Sumber foto: AP / Hani Mohammed)
Kekerasan baru di Hodeidah telah memaksa badan amal itu untuk mengalihkan pengiriman untuk wilayah utara yang dikuasai pemberontak Houthi melalui Aden, sebuah kota yang dihuni masyarakat loyalis pemerintah. Pengalihan itu menyebabkan penundaan pengiriman hingga dua minggu.

"Konflik ini telah menciptakan badai kondisi yang sempurna yang telah mendorong negara tersebut ke jurang kelaparan. Kekerasan telah mengganggu produksi makanan, menghancurkan rumah sakit dan pusat kesehatan di mana orang yang lemah dan sakit dapat diobati," kata Bhanu Bhatnagar, juru bicara Save the Children.

“Hambatan untuk mengimpor dan mendistribusikan pasokan telah sangat membatasi jumlah makanan yang masuk ke dan di seluruh negeri. Dan di pasar, di mana makanan benar-benar tersedia, orang biasa tidak dapat membelinya karena gaji belum dibayar selama berbulan-bulan dan mata uang telah jatuh nilainya," papar Bhatnagar.

Utusan khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, telah mengekstraksi janji-janji dari koalisi pimpinan Saudi dan Houthi untuk menghadiri pembicaraan damai pada akhir November setelah sebelumnya gagal pada bulan September.

Sebuah rancangan resolusi menyerukan gencatan senjata segera disampaikan kepada dewan keamanan PBB pada hari Senin mendatang, meskipun pemungutan suara belum dijadwalkan.

"Untuk anak-anak di bawah usia lima tahun, situasi ini terbukti sebagai hukuman mati. Apa yang mengejutkan tentang Yaman adalah bahwa 85.000 kematian ini bukan akibat dari kekeringan atau perubahan iklim, mereka sepenuhnya adalah hasil dari konflik buatan manusia yang didorong oleh negara-negara yang memiliki kekuatan untuk menghentikannya," kata Bhatnagar.

Sejak koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi ikut campur dalam perang saudara di Yaman bulan Maret 2015, tercatat lebih 6.000 orang tewas, kebanyakan korban adalah warga sipil. Agresi militer Arab Saudi ke Yaman ini didukung oleh Uni Emirat Arab, Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya.

Seorang warga Yaman berusaha menyelamatkan anaknya dari serangan pesawat tempur Arab Saudi. (Sumber foto: yemenpress.org)
Perang saudara antara pemberontak Houthi melawan pasukan pemerintah memicu bencana kelaparan di Yaman, yang tergolong negara termiskin di kawasan semenanjung Arab. Agresi militer terhadap Yaman juga telah melahirkan banyak persoalan baru, seperti munculnya wabah kolera yang disebut sebagai wabah terburuk sepanjang sejarah.

Kemenkes Yaman pada Kamis (23/8/2018) mengumumkan, bahwa serangan jet-jet tempur Arab Saudi ke sebuah mobil pengungsi Yaman pada Kamis sore menelan korban 26 orang, di mana semua korban adalan perempuan dan anak-anak. Serangan udara terbaru itu juga melukai puluhan warga Yaman.

Kejahatan perang Arab Saudi berlanjut ketika sebelumnya pada tanggal 9 Agustus 2018, pasukan Saudi menyerang bus pengatar siswa di kota Dhahyan, Provinsi Saada. Serangan brutal ini menyebabkan 55 anak tewas dan 77 lainnya terluka.


Menurut Pusat HAM Yaman, hingga Desember 2017, 409.356 rumah dan 826 masjid hancur akibat serangan pasukan agresor. Bungkamnya masyarakat internasional menjadi lampu hijau bagi Saudi untuk melanjutkan kejahatannya. (ju)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER