Habib Palsu Semakin Marak, Umat Islam Dihimbau Waspada - Jurnal Ummah
Load more

Habib Palsu Semakin Marak, Umat Islam Dihimbau Waspada

Shares ShareTweet

Para habib palsu yang telah banyak menipu umat Islam.
“Tapi, akhirnya melenceng, mereka mentitelkan dirinya sendiri. Dari proses zaman ke zaman orang akhirnya menamakan semua keturunan sayyid menjadi habib, padahal seharusnya tidak. Harus dibedakan mana habib dan mana yang sayyid, untuk membedakan bahwa habib adalah ulama,"
JAKARTA -- Beberapa saat yang lalu umat Islam Indonesia dihebohkan dengan munculnya seseorang yang mengaku sebagai habib atau keturunan Nabi Muhammad SAW. Orang tersebut adalah Abdul Haris Umarella bin Ismail Umarella, pria asal Ambon tersebut sebagai dzurriyat Rasulullah SAW dengan nama Habib Abdurahman Assegaf.

Terbongkarnya kedok habib palsu itu berawal dari laporan Muhammad Iqbal atau Abu Jibril, yang merupakan tetangga Abdul Haris di kompleks perumahan Witanaharja, Pamulang. Di kompleks tersebut Abdurahman Assegaf si habib palsu mengaku sebagai Ketua Gerakan Umat Islam Indonesia.

Iqbal mengatakan, Abdul Haris bukan seorang habib. Pria itu pernah bersekolah di SMP Negeri 2 Mardani Raya, Jakarta Pusat dikenal dengan nama Amsari Omarella, ibunya asal Ambon dan ayahnya berasal dari Makassar. "Dia bukan habib, dia Preman," ujarnya di Pamulang, hari ini, Rabu (26/8).

Keraguan soal gelar kehabiban Abdurrahman juga merebak di internet. Bahkan pemimpin redaksi situs Arrahmah.com, M Fachry menulis di sebuah situs jejaring sosial menyebut, berdasarkan silsilah keluarga Abdurrahman, tidak tepat kalau pria beranak empat tersebut sebagai seorang habib.

"Informasi yang kami terima dari teman sekolahnya di SMPN 2, Mardani Raya, selepas SMP 2, Abdurrahman melanjutkan sekolah ke SMAN 68 pada 1985 dan kemudian kuliah di Universitas Krisnadwipayana. Dia dikenal dengan nama Amsari Omarella. Ibunya berasal dari Ambon, dan ayahnya dari Makasar. Jadi gelar habib yang disandangnya sangat jauh," jelas Fachry.

Tidak diketahui sejak kapan gelar habib bercokol di depan namanya. Menurut kawannya di SMPN 2, Abdurrahman pernah menunjukkan sertifikat yang menyatakan bahwa kini dirinya sudah resmi menjadi seorang habib.

Menurut salah satu sumber yang kenal dekat dengan habib palsu tersebut, Abdul Haris tidak suka dengan kegiatan Rohis dan tidak mendukung pemakaian Jilbab. 


Tahun 1990-an Abdul Haris diketahui sering nongkrong di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan dikenal sebagai preman yang suka mabuk-mabukan.
Abdurahman Assegaf alias Amsari Omarella alias Abdul Haris Omarella, seorang habib palsu yang banyak meresahkan umat Islam. (Foto: Istimewa)
Abdul Haris aktif disalah satu ormas kepemudaan, dan ditengarai mulai menjadi binaan polisi sejak 2001. Ia diduga dimanfaatkan polisi untuk melakukan aksi Pembusukan dalam setiap aksi yang dilakukan beberapa ormas Islam.

Abdul Haris mulai santer menjadi pemberitaan media massa setelah terlibat masalah hukum kasus suap pajak pengurusan Pajak PT Master Steel. 


Media massa memberitakan bahwa seorang habib dengan nama Habib Abdurahman Assegaf dan memiliki hubungan dengan ormas Front Pembela Islam (FPI) terlibat masalah hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hampir semua media massa nasional yang sudah sejak lama selalu memframing buruk setiap ada pemberitaan soal FPI, semakin menjadikan berita soal habib terjerat tersebut sebagai sarana untuk menggembosi FPI dan nama habaib.

Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab (HRS) pun akhirnya terpaksa angkat bicara. Menurut HRS, Abdurrahman Assegaf yang dipanggil KPK bukanlah seorang habib, bukan pula anggota FPI. Habaib dan FPI tidak bertanggung-jawab atas semua tindak tanduk Habib palsu tersebut baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

“Abdul Haris Umarella bukan Habib dan bukan anggota FPI. Dia berasal dari Ambon dan suka ngaku-ngaku Habib. Habaib dan FPI tidak bertanggung-jawab atas semua sepak terjangnya”, kata Habib Rizieq seperti dikutip situs fpi.or.id, Selasa 18 Rajab 1432 H/ 28 Mei 2013 M.

Habib Rizieq menceritakan, bahwa Abdul Haris Umarela ketika datang ke Jakarta awalnya mengaku bernama Habib Abdul Harits Bin Syeikh Abu Bakar, lalu tiba-tiba berubah menjadi Habib Abdurrahman Assegaf.

"Ia sering mengaku sebagai Habib, bahkan sering mengaku sebagai sekjen FPI. Orang yang bernama Haris Umarela asal Ambon, datang ke Jakarta mengaku bernama Habib Abdul Harits Bin Syeikh Abu Bakar, lalu belakangan berubah jadi Habib Abdurrahman Assegaf. Sering mengaku sebagai Habib, bahkan sering mengaku sebagai Sekjen FPI”, kata HRS.

Jumlah nasab atau silsilah para habaib di Indonesia. (Infografis: Tirto.id)
“Dia sudah diberi peringatan beberapa kali oleh DPD FPI Jakarta, bahkan oleh DPP FPI. Dan sering tampil kontroversial dengan membela preman dan artis porno. Kedepan FPI akan mengambil langkah yang lebih tegas lagi terhadap Habib palsu yang suka mengaku sebagai pengurus FPI ini, karena perilakunya merugikan nama baik Habaib dan FPI. Bahkan sudah lama berita beredar tentang sejumlah kemaksiatan yang dilakukan Habib gadungan ini, seperti praktik perdukunan dan penipuan”, tegas Habib Rizieq.

Persoalan maraknya oknum-oknum yang mengaku sebagai habib dan menipu umat Islam sudah berkali-kali terjadi. Bahkan kasus terbaru, seorang pemuda yang mengaku sebagai Habib Muhammad Alydrus mengunggah video yang memfitnah dan menghina Habib Bahar bin Smith. 


Orang tersebut berhasil ditangkap oleh para santri Habib bahar. Setelah diinterogasi, dia akhirnya mengaku bukan seorang habib dan bernama asli Ayyib Iif.

Banyak Rakyat Indonesia yang Salah Kaprah Soal Habib

Organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad Saw. di Indonesia, Rabithah Alawiyah, menilai banyak terjadi salah kaprah di masyarakat terkait sebutan habib. Ketua Umum Rabithah Alawiyah Sayyid Zen Umar bin Smith menyatakan bahwa fenomena itu perlu diluruskan.

Menurutnya, habib secara bahasa berarti keturunan Rasulullah yang dicintai. Adapun, habaib adalah kata jamak dari habib. Jadi tidak semua keturunan Rasulullah bisa disebut habib.

Keturunan Rasulullah dari Sayyidina Husein disebut sayyid, dan dari Sayyidina Hasan disebut assyarif. Hasan dan Husein merupakan putra Sayyida Fatimah binti Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib. Zen menjelaskan, di Indonesia para keturunan Rasullullah banyak yang berasal dari Husein. Maka banyak yang disebut sayyid.

Sementara keturunan-keturunan Hasan kebanyakan menjadi raja atau presiden seperti di Maroko, Jordania, dan kawasan Timur Tengah. Pertama kali ulama-ulama dari Yaman atau Hadramaut masuk ke Indonesia di beberapa daerah. Karena adanya akulturasi budaya, sebutan sayyid di Aceh berubah menjadi Said, di Sumatra Barat menjadi Sidi dan lain sebagainya.

Dia mengatakan, saat ini banyak orang yang mengaku sebagai seorang habib, padahal bukan. ‘Gelar’ habib, kata dia, tidak bisa disematkan kepada setiap sayyid. Setiap habib harus sayyid, tetapi sayyid belum tentu habib. Seorang sayyid, lanjutnya, tidak bisa mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah habib.

Habib Zein bin Umar bin Smith menunjukkan foto para sayyid di kantor Rabithah Alawiya, Jakarta, (7/1/17). (Foto: Tirto.id / Andrey Gromico)
Pengakuan habib harus melalui komunitas dengan berbagai persyaratan yang sudah disepakati. Di antaranya cukup matang dalam hal umur, harus memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara serta bertakwa kepada Allah, dan memiliki akhlak yang baik.

Zen mencontohkan, di Jakarta ada Habib Ali bin Abdurrahman Kwitang, Habib Ali bin Husein Alatas di Cikini, Habib Abdullah bin Muchsin Alatas di Bogor dan lain-lain. Menurutnya, beberapa habib itulah sedikit contoh dari yang memang benar-benar habib dalam arti yang sebenarnya.

Seiring berjalannya waktu, lanjutnya, penyebutan habib terjadi degradasi kualitas. Panggilan habib lebih dijadikan sebagai panggilan keakraban atau panggilan kekerabatan. Sementara di sisi lain, banyak kalangan dari sayyid sendiri maupun dari kalangan habib sendiri ingin menggunakan gelar habib untuk dakwah.

“Tapi, akhirnya melenceng, mereka mentitelkan dirinya sendiri. Dari proses zaman ke zaman orang akhirnya menamakan semua keturunan sayyid menjadi habib, padahal seharusnya tidak. Harus dibedakan mana habib dan mana yang sayyid, untuk membedakan bahwa habib adalah ulama," katanya, dilansir dari Republika.co.id, Sabtu (11/10).

Saat ini, kata Zen, di seluruh dunia kurang lebih ada sekitar 68 qobilah (marga) dari keturunan Rasulullah, termasuk di Indonesia. Hanya saja, Rabithah Alawiyah masih melakukan proses pendataan secara detail berapa jumlah keturunan Nabi Muhammad yang ada di Indonesia.

Pendapat Ustad Abdul Somad Soal Habib Palsu

Dalam sebuah sesi ceramahnya, Ustaz Abdul Somad (UAS) menjawab salah satu pertanyaan jamaah mengenai keturunan Nabi Muhammad SAW dan siapa yang dijuluki Habib. 


Menurut UAS, hingga saat ini keturunan Rasulullah SAW masih ada yang hidup. Untuk memastikannya tidaklah rumit, di Jakarta ada Kantor Rabithah Alawiyah, dan semua data, tentang keturunan Nabi ada di sana.

"Ada, bagaimana mengeceknya, Maktab Nakobah Alawiyin di Jakarta. Maktab artinya kantor, Nakobah persatuan, Alawiyin cucu cicit Sayyidina Ali. cek ke sana," kata Ustaz Somad seperti terekam dalam video ceramahnya yang diunggah di Youtube.

Jumlah nasab atau silsilah para habaib di dunia dan marga yang tidak termasuk dalam kategori habaib. (Infografis: Tirto.id)
"'Saya ini mancung Pak Ustaz, agak-agak Arab, keturunan nabi enggak ya?' Nah pergi ke sana, cek ke sana. Sultan Syarif Khasim, keturunan nabi. Kok bisa Sultan Siak keturunan nabi? Karena anak Raja Siak, Tengku Embung, menikah dengan keturunan nabi, cucu cicit Syaidina Ali. Maka mereka Asakab, Banahsan yang datang kemari, Kerajaan Pelalawan itu Asakab, Banahsan, cucu cicit," kata Ustaz Somad menceritakan.

Kata UAS, tak semua orang yang memiliki hidung mancung itu dipastikan orang Arab dan belum tentu keturunan Nabi. Untuk mengetahui apakah orang mancung itu benar-benar habib asli atau keturunan nabi, harus memiliki keterangan resmi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

"Tapi tak semuanya yang mancung itu Arab, Pakistan mancung juga, jadi kalau dia berserban besar, berjubah dua lapis ngaku habib. Ragu kita, tanya. 'Mohon maaf ya habib, mau tanya. Ada tak keterangan dari Nakobah Alawiyin," ujar penceramah asal Riau ini.

Ustaz Somad juga menceritakan, silsilah sejumlah raja di dunia yang masih keturunan Nabi Muhammad SAW, seperti Sultan Maroko, Sultan Brunei Darussalam hingga Sultan Yordania.

"Syekh Muhammad Mutawalli Sya'rawi, keturunan nabi. Syekh Abdul Halim Mahmud, keturunan nabi, Raja Maroko, bapak ibu kalau pergi ke Maroko, salat di Masjid Hasan 2, ada tiang besar., nah itu disebutkan dari Hasan 2, bin, bin, bin, bin, bin, bin, Fatimah binti Muhammad SAW," ujarnya.

"Raja Brunei Darussalam, nah itu termasuk, karena anak Raja Brunei dulu perempuan nikah dengan ulama yang datang dari Hadramaut, nah cucu cicitnya itulah, Sultan Hassanal Bolkiah, makanya akrab Hassanal Bolkiah dengan Sultan Yordan, karena Yordan itu pun keturunan nabi," kata Ustaz Somad melengkapi ceritanya.

Lalu, menurut Ustaz Somad, apakah keturunan Nabi Muhammad SAW, lebih mulia dari Umat Islam lainnya?

"Apa beda mulia kita dengan mereka pak ustaz? Mereka kalau taat pada Allah ya mulia, kalau tak taat, ya tidak juga. Karena dalam, kata nabi 'Kalau Fatimah anak Muhammad mencuri, akan kupotong tangannya,' kata Nabi Muhammad SAW," ucap Ustaz Somad.

Sedangkan menurut Habib Abdurrahman Al Habsyi, sebutan atau gelar habib di kalangan Arab-Indonesia dinisbatkan secara khusus terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah Az-Zahra dan 'Ali bin Abi Thalib. Habib yang datang ke Indonesia mayoritas adalah keturunan Husain bin Fatimah binti Muhammad.

Jamaah pengajian di Majelis Ta'lim Al Habib Ali Al-Habsyi Kwitang, Jakarta Timur. (Foto:  Tirto.id / Andrey Gromico)
Jumlah para habib yang ada di Indonesia diperkirakan lebih dari 1 juta orang. Mereka sangat dihormati di Indonesia karena dianggap sebagai tali pengetahuan yang murni, karena garis keturunannya yang langsung dari Nabi Muhammad.

Adapun untuk menentukan seseorang itu habib atau bukan adalah Ar-Rabithah atau Jamiat Khair. Organisasi ini memang tugasnya mencatat silsilah keturunan Ahlul Bait (keturunan Nabi Muhammad). "Untuk menentukan apakah seseorang berhak digelari habib harus menyebut paling sedikit 5 keturunannya dari atas atau 5 Bin" jelas Al Habsyi.

Lima nama keturunannya antara lain, ayah, kakek, buyut dan seterusnya. Dari nama-nama yang disebutkan itu, Ar-Rabithah akan mengetahui keterkaitannya dengan nama-nama yang masuk dalam silsilah dari garis keturunan Rasulullah.

Al Habsyi tidak memastikan apakah Abdurrahman alias Abdul Haris merupakan habib atau tidak sebelum melihat sertifikat yang sah. "Kalau memang Abdurrahman seorang habib dia harus menunjukan sertifikat kehabiban yang dikeluarkan oleh Ar-Rabithah. Karena itu sebagai bukti otentik," kata Al Habsyi.

Terkait maraknya muncul habib-habib palsu, para ulama dan habaib selalu mengingatkan umat Islam agar berhati-hati. Karena habib palsu tersebut selain menipu umat Islam, juga dapat menyesatkan pemahaman umat mengenai agama Islam, selain itu juga merusak citra Islam dan para habaib keturunan Nabi, di tengah masyarakat.

Dikhawatirkan, oknum semacam habib (palsu) Abdurrahman Assegaf ini memanfaatkan dan memanipulasi gelar habib palsunya tersebut untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun kelompoknya. Bukan tidak mungkin, ummat akan terpedaya, ikut begitu saja, tanpa kritis melihat dan mempertimbangkan ucapan si habib palsu ini dari sisi Al-Qur’an dan As-Sunnah. (ju)


*Artikel ini dilansir dari empat situs berita terpercaya

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER