Inilah Potret Kekejaman Myanmar Saat Membantai Muslim Rohingya - Jurnal Ummah
Load more

Inilah Potret Kekejaman Myanmar Saat Membantai Muslim Rohingya

Shares ShareTweet

Sekelompok pengungsi Rohingya berjalan di air setelah melintasi perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, 1 September 2017. (Foto: Mohammad Ponir Hossain / Reuters)
"Orang-orang ditembak di dada, perut, kaki, wajah, kepala, di mana-mana. Para tentara dan militan Budha mengumpulkan penduduk di tepian sungai setempat dan melepaskan tembakan, setelah itu menuangkan bahan bakar ke tubuh dan membakar mereka,"
RAKHINE -- Misi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) melaporkan, lebih dari 6.700 Muslim Rohingya, termasuk setidaknya 730 anak-anak di bawah usia lima tahun, tewas dalam bulan pertama penindasan yang dimulai pada bulan Agustus di negara bagian utara Rakhine di Myanmar.

Selain itu, lebih dari 640.000 orang Rohingya telah melarikan diri dari Rakhine sejak Agustus. Tentara dan polisi Myanmar dengan dibantu para milisi Budha, membakar ratusan desa Rohingya, memperkosa wanita dan anak-anak, serta membantai penduduk sipil tanpa pandang bulu.

Beberapa kekerasan terburuk terjadi di Tula Toli, di sebuah desa di kota Maungdaw, di mana orang-orang yang selamat mengatakan warga ditangkap di tepi sungai dan ditembak ketika mereka mencoba melarikan diri. The Guardian telah melihat video yang diambil oleh penduduk desa menunjukkan mayat anak-anak terdampar di pantai.

"Orang-orang ditembak di dada, perut, kaki, wajah, kepala, di mana-mana. Para tentara dan militan Budha mengumpulkan penduduk di tepian sungai setempat dan melepaskan tembakan, setelah itu menuangkan bahan bakar ke tubuh dan membakar mereka," kata Mohammed Rafiq dari desa Tula Toli, dengan gemetar ketika mengingat peristiwa itu

Beberapa orang yang selamat dari desanya menggambarkan bagaimana tentara Myanmar menyembelih tenggorokan, memperkosa wanita, dan membakar “tumpukan” mayat korban, termasuk anak-anak bayi. 


Para saksi mata yang selamat percaya bahwa, ribuan muslim Rohingya mati di desa itu saja. Jumlah korban tewas yang tinggi juga dihitung dari laporan sejumlah wartawan dan kelompok hak asasi manusia.

Saksi mata dari berbagai lokasi lain menggambarkan kekejaman serupa. Tentara menggunakan granat roket untuk menghancurkan seluruh desa Rohingya di tiga kota kecil di Rakhine utara. Banyak muslim Rohingya yang berusaha menyelamatkan diri, menderita kelaparan dan trauma di seberang Sungai Naf yang terletak di perbatasan Bangladesh.

Hanya dalam waktu tiga minggu, lebih dari setengah juta orang Rohingya menyeberangi perbatasan. Ini merupakan arus pengungsi tercepat sejak genosida di Rwanda.

Pengungsi Muslim Rohingya membawa makanan yang didistribusikan oleh tentara Bangladesh di kamp pengungsi Balukhali dekat Gumdhum pada 26 September 2017. (Foto: AFP / Dominique Faget)
Ribuan orang juga masih berdatangan setiap harinya, setelah militer dan milisi Budha Myanmar menyisir setiap desa-desa yang diduga masih terdapat etnis muslim Rohingya.

Angka-angka yang dirilis oleh badan kemanusiaan itu diyakini sebagai perkiraan konservatif dan jauh melebihi angka kematian resmi resmi Myanmar, yang melaporkan hanya 400 korban tewas.

"Jumlah kematian kemungkinan akan dianggap remeh, karena kami belum mensurvei semua pemukiman pengungsi di Bangladesh dan karena survei tidak memperhitungkan keluarga yang tidak pernah keluar dari Myanmar," kata Dr Sidney Wong, direktur medis MSF .

Mayoritas orang yang tewas (69%) ditembak, sementara yang lain dibakar dan dipukul sampai mati. "Kami mendengar laporan dari seluruh keluarga yang tewas setelah mereka dikunci di dalam rumah mereka, sementara mereka dibakar," kata Wong.

"Saat ini, orang-orang masih melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh dan pengungsi yang berhasil menyeberang perbatasan melaporkan masih mengalami kekerasan. Dengan sangat sedikitnya bantuan independen yang dapat mengakses distrik Maungdaw di Rakhine, kami khawatir akan nasib warga Rohingya yang masih ada di sana,” kata MSF Wong.


Myanmar menolak tuduhan bahwa militer negara itu melakukan kekerasan dalam operasi militer tahun lalu yang menyebabkan 390 desa porak poranda, 10 ribu Muslim Rohingya tewas dan 720 ribu Muslim Rohingya lainnya mengungsi ke Bangladesh.

Sidang Dewan Keamanan diminta oleh negara-negara Barat tetapi ditentang oleh China dan Rusia yang memiliki hubungan baik dengan militer Myanmar dan terus-menerus melindungi negara itu dari kritik.

Myanmar bersikeras bahwa kekerasan di Rakhine dipicu oleh kelompok ekstrimis Rohingya yang menyerang pos penjagaan perbatasan pada Agustus 2017. Militer menyangkal hampir semua tuduhan genosida dengan mengatakan bahwa "operasi pembersihan" saat itu perlu dilaksanakan untuk memerangi militan Rohingya.

Para warga muslim Rohingya menjadi korban kekejaman dan pembantaian yang dilakukan oleh militer Myanmar dan para kelompok militan Budha.
Tetapi misi pencari fakta PBB melaporkan bahwa kekerasan dilakukan dengan niat menghancurkan Rohingya. Misi PBB ini menemukan bahwa taktik militer "konsisten dan sangat tidak seimbang dengan ancaman keamanan sebenarnya". PBB juga mengatakan bahwa upaya Myanmar menutupi fakta telah memperburuk situasi bagi kaum Muslim Rohingya.

Namun, alih-alih menghentikan pembantaian, Pemerintah Myanmar justru mempertanyakan independensi misi pencari fakta PBB dan menegaskan pihaknya telah membentuk komisi penyelidikan independen yang terdiri dari para diplomat negara-negara Asia. 


"Tidak ada pembersihan genosida dan etnis di Myanmar. Ya, ada pelanggaran hak asasi manusia, dan pemerintah akan mengambil tindakan terhadap mereka yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia," kata U Zaw Htay, juru bicara pemerintah Myanmar. (ju)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER