Kubu Jokowi Mulai Serang Prabowo-Sandi dengan Isu Agama - Jurnal Ummah
Load more

Kubu Jokowi Mulai Serang Prabowo-Sandi dengan Isu Agama

Shares ShareTweet

Prabowo Subianto saat bertemu dengan Habib Rizieq Syihab. Kedekatan Prabowo dengan kalangan ulama dan umat Islam, mulai dianggap sebagai ancaman oleh kubu petahana. Prabowo dianggap akan mampu menggerus para pemilih Jokowi dari kalangan umat Islam pada pilpres 2019 nanti. (Foto: Istimewa)
"Nggak perlu dong salat dipertontonkan. Kan kita di Kertanegara (rumah Prabowo) sering salat berjamaah bareng. Pak Prabowo salat. Pak Prabowo keislamannya sudah teruji dan terbukti. Kalau tidak, mana mungkin dong ulama mau memilih Pak Prabowo sebagai capres,"
JAKARTA -- Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto akhirnya angkat bicara mengenai banyaknya serangan dari kubu petahana soal kemampuannya untuk menjadi imam shalat. Prabowo mengatakan tidak merasa khawatir memberikan pengakuan mengenai kepantasan menjadi imam salat.

Dia menyatakan, setiap kali tidak mengerti mengenai persoalan agama, dia akan bertanya kepada seorang ustaz. Hal ini disampaikan Prabowo di depan kader Gerindra, ketika berpidato dalam acara Konferensi Nasional Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (17/12)

Prabowo mengaku tak bisa jadi imam salat karena ilmu agamanya masih rendah. Menurutnya, yang pantas jadi imam salat adalah mereka yang punya ilmu agama yang lebih tinggi. Pidato itu disiarkan langsung lewat layar besar yang ada di luar acara, yang bisa disimak masyarakat dan wartawan.

"Saya tidak takut mengakui saya merasa tidak pantas saya menjadi imam salat. Lebih baik saya ikuti imam yang lebih tinggi ilmunya daripada saya. Untuk apa saya bohong? Untuk apa saya pura-pura kepada kalian?" Kata Prabowo.


"Kalau nggak mengerti, saya tanya, 'Pak Ustaz, gimana ini?' Beliau menjelaskan. Pak Ustaz, apakah Islam ini agama yang radikal? Oh, tidak benar. Mereka ajarkan Islam kita Islam yang rahmatan lil alamin. Islam kita adalah Islam yang melindungi semua dalam alam semesta," tegas Prabowo.

Menurut Prabowo, Islam yang ada di Indonesia bukanlah Islam yang mengajarkan kebencian. Namun anehnya kubu lawan selalu menganggapnya sebagai pendukung Islam radikal.


"Islam kita ingin sejuk dan damai. Buktinya, waktu mereka reuni 212, Ustaz Slamet Ma'arif di Jatim minta saya datang, saya tanya, 'Ustaz, gimana, aman nggak nanti?' Insyaallah aman. Kemudian saya tanya bagaimana kalau reuni 212 yang datang sedikit? Tidak, insyaallah 500 ribu, ternyata yang datang belasan juta orang," kata Prabowo.

Prabowo menjelaskan, selain soal shalat, dirinya juga diserang dengan isu pembela khilafah, tidak bisa membaca Al-quran, dan banyak kampanye hitam lainnya dengan tujuan untuk menjatuhkan pamornya di tengah Umat Islam.


"Suatu saat saya dibilang Islam garis keras, besoknya saya dibilang kurang Islam. Saya nggak bisa jadi imam salat katanya. Ya saya merasa tahu diri. Betul? Yang jadi imam ya harus orang yang lebih tinggi ilmunya," ujar Prabowo.

Prabowo jadi makmum Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, saat shalat berjamaah di Rumah Kartanegara, Sabtu (28/7). (Foto: Instagram @rizky_irmansyah)
Pernyataan Prabowo ini secara tidak langsung menjawab celaan yang dilontarkan oleh kubu calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Ketua Kadin Jawa Timur, La Nyalla Mattalitti yang kini mendukung Jokowi, menantang Prabowo Subianto memimpin salat dan membaca surat Al-Fatihah.

"Saya tahu Prabowo. Kalau soal Islam lebih hebat Pak Jokowi. Pak Jokowi berani mimpin salat. Pak Prabowo berani suruh mimpin salat? Nggak berani. Ayo kita uji keislamannya Pak Prabowo. Suruh Pak Prabowo baca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, baca, bacaan shalat. Kita semua jadi saksi," kata La Nyalla, Selasa (11/12).

La Nyalla pernah menjadi kader Partai Gerindra. Namun dia telah mengundurkan diri sejak kasus mahar pencalonan dirinya di Pilgub Jatim pada awal 2018 lalu mencuat. Kini La Nyalla adalah politikus Partai Bulan Bintang (PBB) dan masuk dalam tim pemenangan pasangan Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019.

La Nyalla mengatakan Jokowi merupakan seorang Muslim yang taat. Ia lantas mencontohkan Jokowi rajin menjalankan ibadah seperti berpuasa dan salat tepat waktu dengan baik. Melihat hal itu, La Nyalla merasa yakin bahwa Pilpres 2019 nanti Jokowi-Ma'ruf bakal memenangkan kontestasi pemilu kembali seperti pada 2014.

"Dulu saya fight untuk dukung Si Prabowo. Salahnya Prabowo itu saya tutupi semua. Saya tahu Prabowo. Kalau soal Islam lebih hebat Pak Jokowi. Pak Jokowi berani mimpin salat. Pak Prabowo berani suruh mimpin salat? Nggak berani," sesumbar La Nyalla.

Menanggapi hal itu, juru Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, mengatakan urusan ibadah tidak perlu jadi konsumsi publik, keislaman Prabowo juga tak perlu diragukan. Alasannya, Prabowo dipilih para ulama untuk maju jadi capres 2019 pada Ijtimak Ulama lalu.

"Nggak perlu dong salat dipertontonkan. Kan kita di Kertanegara (rumah Prabowo) sering salat berjamaah bareng. Pak Prabowo salat. Pak Prabowo keislamannya sudah teruji dan terbukti. Kalau tidak, mana mungkin dong ulama mau memilih Pak Prabowo sebagai capres," kata Andre di Jakarta, Selasa (11/12/2018).

La Nyalla Mattaliti, mantan kader Partai Gerindra yang kini membelot dan menjadi pendukung setia Jokowi-Ma'ruf Amin. (Foto: Istimewa)
"Ini sebenarnya isu-isu seperti ini nggak mau kita tanggapi, tidak substantif. Kami inginnya soal kondisi bangsa, soal ekonomi, lapangan pekerjaan, dan harga harga. Yang saya tahu Pak Prabowo sudah haji dan beberapa kali umroh, bahkan pada akhir Ramadhan 2018 lalu, saya umroh dengan Pak Prabowo, Pak Amien Rais dan rombongan lainnya," lanjutnya.

Prabowo Diserang Isu Agama

Menjelang Pilpres April 2019, terutama setelah Reuni Akbar 212 beberapa waktu lalu, terlihat semakin menguat dukungan rakyat Indonesia kepada Prabowo Sandi. Otomatis berimbas pada naiknya elektabilitas Pasangan nomer 02 ini. Di sisi lain, elektabilitas dan dukungan kepada Pasangan JKW-Makruf semakin hari semakin tergerus.

Kenyataan ini membuat pihak petahana semakin panik. Mereka berusaha dengan segala macam cara untuk bisa menyelamatkan pasangan Jokowi-Ma;ruf ini dari kekalahan. Ada indikasi bahwa cara-cara yang dipilih untuk menyelamatkan elektabilitas JKW-Ma’ruf adalah dengan melakukan kecurangan.

Ditemukannya puluhan juta DPT palsu dan ganda, mendorong orang gila punya hak suara,  intervensi hukum dan pengerahan aparat birokrasi mulai dari menteri hingga ketua RT adalah indikator kecurangan yang kasat mata. Ini pelanggaran, dan jika dibiarkan akan merusak hajatan demokrasi Indonesia.

Dipilihnya ketua MUI, Ma'ruf Amin sebagai Cawapres diharapkan bisa menjadi juru selamat, ternyata tetap tak mampu memberikan efek electoral. Sementara, tekanan atas dosa-dosa Jokowi terkait memburuknya ekonomi, bengkaknya hutang negara dan beban janji yang tak mampu ditunaikan semakin memperburuk situasi.

Sukses Reuni 212, meski tak banyak diliput media maenstrem, justru jadi trigger perlawanan umat, dan bahkan malah jadi tekanan terhadap elektabilitas Jokowi Makruf. Jokowi dan sejumlah media maenstrem dianggap sebagai common enemy.

Karena faktor sulitnya menahan laju anjloknya elektabilitas, kepanikan ini diekspresikan juga dengan cara melakukan kampanye negatif dan black campign. Mencari-cari celah kelemahan dan kekurangan  Pasangan Prabowo-Sandi yang tak terkait dengan urusan kenegaraan.

Salah satu fitnah dan hoak yang terbaru dan sedang viral saat ini adalah diputar-ulang lagi cerita usang pilpres 2014 yg lalu terkait keber-agama-an dan keislaman Prabowo. Kedua, berupaya merusak kepercayaan dan hubungan Prabowo dengan ulama dan umat Islam.

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melambaikan kedua tangannya kepada massa Reuni Akbar 212 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (2/12/2018). (Foto: Istimewa)
Prabowo mendapat dukungan kuat dari umat Islam karena dianggap bisa menampung aspirasi, bersedia berkerja sama, tidak memusuhi umat Islam dan tidak mengekang kebebasan umat Islam dalam menjalankan ajaran agamanya. 

Selain itu Prabowo juga bersedia menandatangani pakta Integritas dengan ulama (saat Ijtimak ulama II). Inilah yang jadi magnet bagi para ulama dan umat untuk mendukung Pasangan Prabowo-Sandi.

Maka dimulailah gerakan untuk mendelegitimasi Prabowo di mata umat Islam. Sejumlah fitnah dan hoax pun ditebar oleh para pendukung petahanan. Diantaranya Prabowo dituduh tidak bisa berwudhu dan sholat, Prabowo tidak berani menjadi Imam Sholat, Prabowo tidak bisa membaca Al-quran dan banyak tuduhan lainnya.

Sebaliknya, dengan bantuan media-media massa "pelacur" pendukung Jokowi, sebuah framing dan agenda setting dibentuk untuk mengangkat citra Jokowi mengenai Islam. 


Jokowi dipoles seakan paling Islami, menjadi imam shalat dengan ditemani sorotan kamera, berita dan foto-foto Jokowi saat sedang berwudhu bertebaran di berbagai media massa yang menjadi "anjing penjaga" rezim.

Bahkan, Jokowi dinilai paling pandai bacaan Al-Quran-nya dibandingkan dengan Prabowo, seperti yang di sampaikan oleh La Nyalla. 


Padahal, hingga saat ini belum ada bukti bahwa Jokowi pandai baca Al-Quran, dan menjadi pertanyaan juga apakah Jokowi layak dan memenuhi syarat untuk menjadi Imam atau hanya sekedar pencitraan saja.
Para netizen mengomentari cara shalat Jokowi. Jokowi dianggap sering menjadikan shalat sebagai alat pencitraan, agar mengesankan dirinya sebagai seorang yang ta'at dan paling Islami. (Foto: Facebook)
Ustadz Sambo, pengasuh Pondok Pesantren Hilal Bogor, seorang sahabat Prabowo yang telah mengenal mantan Danjen Kopassus tersebut sejak 1997 hingga sekarang, memberikan kesaksiannya mengenai keislaman dan pemahaman keagamaan sosok Prabowo subianto. Berikut pernyataan dari guru mengaji Prabowo tersebut:
Fitnah Prabowo belum pernah haji dan juga tidak bisa baca alif ba ta Yang saya tahu Pak Prabowo sudah haji dan beberapa kali umroh, bahkan pada akhir Ramadhan 2018 lalu, saya umroh dengan Pak Prabowo, Pak Amien Rais dan rombongan lainnya.

Mengenai kemampuan beliau dalam membaca huruf-huruf al-Quran, Saya dapat jelaskan bahwa saya  pernah mengajar beliau mengaji dan membaca huruf-huruf al-Quran dimulai dari iqra’ saat beliau di Jordan tahun 1998 sampai dengan 1999.

Memang lidah beliau agak berat dalam mengucapkan huruf-huruf al-Quran tersebut. Maklumlah, namanya juga orang dewasa yang belajar di atas usia 50 tahun. Tapi, niat, ikhtiar dan kesungguhan beliau untuk tetap belajar dan mengakui dengan jujur bahwa beliau adalah murid tidak lulus-lulus walau demikian dia masih berusaha untuk belajar, Hal ini  merupakan bagian dari komitmen keislaman beliau.

Semoga Allah memaafkan kekurangan-kekurangan beliau dan memberikan pahala atas usahanya dan hidayah untuk terus mau belajar dan belajar, aamiin.

Apakah Prabowo bisa wudhu dan sholat

Lihat Video berikut ini :
https://youtu.be/Tja3sdEu4CU

Dalam video tersebut Prabowo telah memenuhi kelengkapan syarat dan rukun wudhu. Diawali dari membasuh muka, tangan, kepala, lalu telinga hingga kaki 3x. Secara fiqih sah. Soal mendahulukan anggota wudhu bagian kanan daripada bagian kiri, itu sunah. Jika tak dilakukan, tidak merusak keabsahan wudhu. Karena bukan bagian dari syarat dan rukun wudhu.

Coba dengan jujur kita bandingkan dengan wudhunya Jokowi berikut ini. Cara berwudhunya tidak sempurna, karena tidak membasuh seluruh wajah. Cara berwudhu seperti ini secara fiqih tidak memenuhi syarat keabsahan dalam membasuh muka.

Kurang dari batas minimal yang disyaratkan. Wailul Lil a’qab, kata Nabi. Celaka orang yang membasuh kaki tidak sampai mata kaki. (Hadis sahih). Artinya, ketidaksempurnaan dalam membasuh sampai batas minimal anggota wudhu menyebabkan wudhunya tidak sah. Karena wudhu gak sah, maka shalatnya pun juga tidak sah. Sebab, wudhu adalah salah satu syarat sahnya shalat.

Lihat Jejak Digital berikut ini:
https://youtu.be/ads6dwAsCdA

Adapun yang mengatakan Prabowo tidak bisa shalat, itu fitnah besar. Saya sering shalat bersama beliau, baik ketika saya jadi Imam Sholatnya, maupun saat saya jadi makmum. tidak ada yg salah dari shalat beliau. Saya juga pernah lihat beliau shalat sendiri, dan saya pastikan tidak ada yang salah dari shalatnya beliau. Soal cara duduknya yang tidak sempurna, itupun karena kaki beliau sakit, bekas luka perang saat masih di militer dulu.

Memang, dalam hal Ibadah dan agama, dengan jujur Pak Prabowo mengakui masih kurang ilmu agama dan ibadahnya, dan merasa masih harus terus dan banyak belajar. Beliau tidak lahir dari keluarga santri seperti umumnya para ulama.

Karenanya, beliau tak pernah merasa pintar, lalu sok-sokan menjadi Imam Sholat. Apalagi di situ ada ulama, kiyai, ustaz, atau para penghafal al-Quran. Pantang bagi Pak Prabowo mengambil posisi yang tidak sesuai dengan kapasitasnya. Su’ul adab. Gak elok. Tahu kapasitas diri.

Ketika Pak Amien, Ustad Salim Segaf, atau Anies Baswedan ada di rumahnya, dan waktu shalat tiba, Pak Prabowo pernah minta kepada mereka untuk jadi imam sholat. Karna  Mereka yang lebih layak jadi imam shalat karena kefasihan bacaannya, dan kapasitas ilmu agamanya. Pak Prabowo Tak perlu merasa malu, segan, apalagi sok-sokan.

Saat ini, Pak Prabowo berada di lingkaran para ulama. Ada Pak Amien Rais, Pak Zulkifli Hasan dari PAN, Ustad Salim Segaf, Shohibul Iman, Ustad Hidayat Nur Wahid dari PKS, Kiyai Irfan dari Jombang, Kiyai Najih Maemoen Zubair, Kiyai Ahfas Lasem, Kiyai Ahmad Wafi Maemoen Zubair, Habib Mahar dan lain-lain. Beliau juga didampingi Sandiaga Uno yang rajin puasa Senin Kamis.

Mudah-mudahan keberadaan saya dan orang-orang dekat Pak Prabowo serta para tokoh Partai Pendukung yg rajin ibadah dapat selalu menjadi motivasi beliau untuk selalu ingat Allah dan lebih giat lagi beribadah.

Mudah-mudahan dengan doa kita semua dan doa para ulama dan rakyat yang mendukungnya, akan membuka pintu langit dan turunnya Rahmat Allah, sehingga membuat Pak Prabowo menjadi muslim yang lebih taat lagi. Menjadi  Presiden RI yang insya Allah lebih Adil, Jujur, Amanah, Bijak dan dekat dengan ulama. Aamiin Yaa Allah.

Wallahu a’lam
*Artikel ini dilansir dari empat laman berita online nasional

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER