Rezim Represif dan Diktator Picu Kebangkitan ISIS di Mesir - Jurnal Ummah
Load more

Rezim Represif dan Diktator Picu Kebangkitan ISIS di Mesir

Shares ShareTweet

Rakyat Mesir semakin resah dengan meningkatnya serangan sporadis yang dilakukan kelompok militan ISIS. Semenanjung Sinai menjadi basis utama para militan untuk menggalang kekuatan melawan pemerintahan Mesir. (Foto: Almasdar)
KAIRO -- Pengadilan Mesir memvonis penjara 65 tersangka pelaku jihad dari kelompok negara Islam (ISIS) antara lima sampai seumur hidup. Dikutip dari Reuters, seorang pejabat pengadilan Mesir  mengatakan vonis tersebut dijatuhkan karena 65 orang tersebut dinyatakan terbukti telah mendukung kegiatan teroris.

"Mereka mendirikan jaringan atau sel teroris," katanya, Jumat (9/11). Para tersangka merupakan jaringan ISIS yang dipimpin oleh "emir" Mostafa Ahmed Abdelaal. 


Militan ini pada 2017 lalu dituduh telah membentuk sel-sel teroris di Mesir Hulu yang setia kepada Pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi.

Selain vonis tersebut, pengadilan Mesir juga menjatuhkan hukuman mati terhadap delapan anggota ISIS yang melancarkan serangan berdarah di Mesir 2016 lalu. Setidaknya 235 orang tewas dalam serangan militan di sebuah masjid Sufi di semenanjung Sinai yang bergolak.

Ini merupakan salah satu insiden teror terburuk yang terjadi di Mesir dalam beberapa tahun terakhir. Pria bersenjata meledakkan setidaknya satu bom bunuh diri dan menembaki orang-orang yang sholat Jumat. Belum diketahui siapa yang berada di balik serangan itu.

Tetapi setelah serentetan pemboman baru-baru ini yang menargetkan polisi dan tentara, para jihadis yang berafiliasi dengan Isis di wilayah itu, mengklaim bertanggung jawab. Seorang tentara Mesir Oktober ini mengatakan sejak serangan dimulai, 450 pelaku jihad dan 30 tentara mereka tewas.

Rezim Represif dan Bangkitnya ISIS di Mesir

Sejak militer Mesir menggulingkan Presiden dari Ihkwanul Muslimin, Mohamed Morsi pada 2014, Mesir dan pasukan keamanan gencar menindak oposisi dan ekstrimis Islam. Pada Februari lalu misalnya, Mesir melancarkan serangan besar untuk mengusir pemberontak dari semenanjung tersebut.

Semenanjung Sinai, Mesir, yang berbatasan dengan Israel dan Jalur Gaza, telah lama menjadi benteng bagi kelompok pemberontak Islam dan Badui yang menentang pemerintahan Kairo.

Semenajung Sinai yang lama diabaikan oleh pemerintah Mesir, kini menjadi wilayah tanpa hukum dan basis utama sejumlah kelompok militan terutama ISIS, untuk melawan pemerintahan Kairo.
Semenanjung Sinai seakan tidak diperhatikan oleh pemerintah pusat sejak Israel menarik pasukan pendudukan pada tahun 1979. Lemahnya pengawasan Mesir di Sinai, membuat kawasan ini menjadi basis pertahanan sejumlah kelompok oposisi bersenjata Mesir, baik yang moderat maupun kelompok militan seperti ISIS.

ISIS cepat berkembang di Mesir akibat dipicu oleh metode brutal Mesir yang dilakukan rezim Kairo untuk membungkam dan menghabisi kelompok oposisi yang dianggap bisa menjadi ancaman kekuasaan pemerintah.

Hal ini semakin diperparah setelah terjadinya kekacauan yang telah melanda negara itu sejak revolusi 2011 dan 2013. Pemerintahan Presiden Mohammed Morsi yang terpilih secara demokratis, ditumbangkan secara paksa dengan menggunakan kekuatan militer secara licik oleh kaki tangan Jenderal Abdul Fattah Al-Sisi.

Banyak rakyat Mesir terutama dari kaum pelajar yang menjadi pendukung utama Presiden Morsi, akhirnya bergabung dalam berbagai kelompok bersenjata untuk melawan pemerintahan Presiden Al-Sisi yang didukung Amerika Serikat dan Israel.

Saat ini, setidaknya ada empat kelompok al Qaeda yang dianggap aktif di sinai. Salah satunya adalah Afiliasi Isis Sinai, yang dikenal sebagai kelompok Provinsi Sinai. Pertama kali muncul pada tahun 2011, dan sebelumnya dikenal sebagai Ansar Beit al-Maqdis.

Kelompok ini menyatakan berjanji setia kepada Isis, setelah deklarasi yang disebut kekhalifahan diumumkan mencakup seluruh Suriah dan Irak pada tahun 2014. 


Kelompok itu mengklaim bertanggung jawab atas puluhan serangan, termasuk bom tahun 2015 di atas penerbangan MetroJet yang menewaskan 224 orang, banyak dari mereka merupakan wisatawan asal Rusia.

Grup Sinai secara umum ingin memisahkan diri dari Mesir dan menciptakan negara yang berlandaskan syariat Islam yang dalam versi ISIS disebut kekhalifahan. Dalam sejumlah operasi, ISIS menjadikan polisi, tentara dan aparatur pemerintahan Mesir sebagai target serangan utama mereka.

Kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Isis juga telah melakukan serangan bom bunuh diri dan mengeksekusi mati para kaum Muslim Sufi, yang interpretasi mereka tentang Islam dianggap sesat.

ISIS cepat berkembang di Mesir karena sangat mudah merekrut anggota dari rakyat Mesir yang kecewa terhadap pemerintahan represif dan diktator Presiden Abdul Fattah Al-Sisi. (Foto: Istimewa)
Jihadis juga menargetkan suku-suku lokal yang bekerja sama dengan Angkatan Bersenjata Mesir, memberi mereka label pengkhianat. Di luar Sinai, 10 persen minoritas Kristen Mesir telah sering menjadi sasaran para ekstremis, menewaskan puluhan orang dalam serangan terhadap sejumlah bangunan gereja.

Meningkatnya serangan teror di Mesir menciptakan kemarahan publik. Rakyat Mesir menganggap pemerintah tidak mampu menghentikan dan mengendalikan sejumlah serangan teror bunuh diri yang dilakukan secara sporadis oleh kelompok militan.

Persaingan politik antara kubu militer dan para politisi di parlemen Kairo, dianggap sebagai pemicu abainya pemerintah Mesir dalam menciptakan keamanan bagi rakyat di negeri piramida tersebut. Sejumlah kebijakan untuk membungkam ISIS terpaksa ditunda, bahkan sejumlah operasi yang sudah dilakukan, berakhir dengan sangat buruk.

Sejumlah pengamat Timur Tengah menganggap, seharusnya pemerintah Mesir lebih mudah dalam menumpas ISIS di negara tersebut. Pasalnya anasir-anasir ISIS bukan berasal dari Mesir, namun datang dari sejumlah negara yang bergejolak, seperti Suriah, Irak dan Yaman. (ju)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER