Sejarah Para Habaib dalam Membantu Kemerdekaan Indonesia - Jurnal Ummah
Load more

Sejarah Para Habaib dalam Membantu Kemerdekaan Indonesia

Shares ShareTweet

Sejarah dan rekam jejak para ulama dari keturunan Nabi Muhammad SAW yang biasa disebut Habib atau Habaib di Nusantara telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Selain menyebarkan agama Islam melalui jalan dakwah, para habaib banyak membantu kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda dan Jepang.
Sejak munculnya ulama besar Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab di kancah perpolitikan nasional, masyarakat Indonesia mulai akrab dengan istilah "habib atau habaib." Bukan tanpa sebab, hampir setiap hari berita-berita mengenai Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) tersebut berseliweran di seluruh media massa tanah air.

Habib Rizieq yang memiliki pengikut dan jemaah mencapai puluhan juta tersebut, seakan-akan jadi magnet pemberitaan. 


Terutama saat HRS berhasil mengumpulkan jutaan umat Islam dalam unjuk rasa Aksi Bela Islam (ABI) di Jakarta, menuntut penindakan hukum terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang telah melakukan penistaan terhadap agama Islam.

Ahok akhirnya dibui, tetapi sepak terjang Habib Rizieq masih membuat sejumlah tokoh terutama rezim pemerintahan Presiden Joko Widodo "ketar-ketir." HRS yang berseberangan haluan politik dengan Jokowi dianggap menjadi ancaman yang dapat menggerus kemenangannya dalam mempertahankan kekuasaannya pada pilpres 2019 nanti.

Setelah Habib Rizieq, kini media massa nasional kembali diramaikan dengan sepak terjang salah satu ulama muda yakni Habib Bahar bin Smith yang merupakan murid dari HRS. Habib Bahar dilaporkan ke polisi oleh para pendukung Jokowi karena dianggap sudah menghina Presiden.

Habib Bahar dipolisikan oleh Sekjen Jokowi Mania (Joman) La Kamarudin ke Bareskrim Polri, dengan tuduhan melakukan orasi yang mengandung unsur hate speech, yang menyebut Jokowi kayak "banci." Habib Bahar pun secepat kilat langsung menjadi tersangka setelah dipanggil oleh kepolisian.

Namun, Habib Bahar dalam sejumlah keterangannya kepada wartawan menyatakan punya alasan kuat kenapa menggelari Jokowi sebagai "Presiden Banci" ketika berceramah di acara Maulid Arba'in di Gedung Ba'alawi, Jalan Ali Ghatmir Lorong Sei Bayas, Palembang pada 8 Januari 2017 lalu.

Habib Bahar mengatakan ceramahnya yang menuai polemik itu terkait aksi 4 November 2016 atau Aksi 411 di depan Istana Negara, Jakarta. Aksi itu adalah demo menuntut pengusutan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.

Aksi tersebut saat itu berakhir ricuh. Polisi terpaksa menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang rusuh. Habib Bahar menilai, Jokowi sebagai presiden RI saat itu tak merespons keresahan umat.


"Saya mengatakan Jokowi presiden banci karena waktu aksi 411 jutaan umat Islam mendatangi depan Istana untuk bertemu dengannya untuk meminta keadilan penegakan hukum. Dia sebagai presiden malah lari dari tanggung jawab dan lebih memilih urusan yang tidak penting daripada jutaan umat Islam yang ingin menemuinya. Malah para habaib, kiai dan ulama diberondong dengan gas airmata," kata Habib Bahar, Sabtu (1/12).

Al-Habib Bahar bin Smith. (Foto: Istimewa)
Secara tegas, Habib muda yang terkenal lantang tersebut menyatakan tidak akan pernah meminta maaf terkait isi ceramahnya itu sekalipun harus membusuk di dalam penjara. Habib Bahar dengan tegas siap menerima konsekuensi apapun yang akan terjadi terhadap dirinya.

Munculnya Habib Rizieq dan sejumlah habib lainnya yang umumnya penentang pemerintahan Jokowi menimbulkan tanda tanya bagi sebagian masyarakat mengenai apa itu habib? dan apa bedanya habib dengan ulama lainnya. 


Berikut rekam jejak peran habib atau habaib dalam penyebaran agama Islam di Nusantara dan sumbangsihnya terhadap kemerdekaan Indonesia dari penjajahan.

Peran Habaib dalam Penyebaran Agama Islam

Dalam sejarah, keturunan Nabi Muhammad SAW ini hingga abad ke-20 memegang peranan penting dalam pemerintahan di jazirah Arab, bahkan setelah keruntuhan Dinasti Ottoman di Turki, 


Setelah runtuhnya kekhalifahan Ottoman, banyak negara-negara Islam yang mengganti sistem pemerintahan yang bersifat khilafah dan kerajaan Islam, berangsur-angsur beralih menjadi sistem Republik atau Nasionalis yang sifatnya teritorial.

Pada era sebelumnya, keturunan Nabi mendapat tempat khusus dimata penduduk Hejaz. Mereka dibai'at menjadi penguasa dan imam serta pelindung tanah suci. Dalam tatanan Hejaz, mereka diberikan sebutan Syarif untuk laki-laki dan Syarifah untuk perempuan.

Sedangkan diluar Hejaz, dari beberapa golongan ada yang memberikan title Sayyid dan Sayyidah, atau juga dengan sebutan Habaib, dan lain sebagainya untuk memberikan satu tanda bahwa mereka yang diberikan titel ini dianggap masih memiliki kaitan darah dan nasab dengan Nabi Muhammad SAW.

Menurut Sayyid Muhammad Ahmad al-Syatiri dalam bukunya Sirah al-Salaf Min Bani Alawi al-Husainiyyin, para salaf kaum Alawi di Hadramaut dibagi menjadi empat tahap yang masing-masing tahap mempunyai gelar tersendiri. Gelar yang diberikan oleh masyarakat Hadramaut kepada tokoh-tokoh besar Alawiyin yaitu:

1. Imam (dari abad III H sampai abad VII H).

Menjelang akhir abad 12 keturunan Ahmad al-Muhajir tinggal beberapa orang saja. Pada tahap ini tokoh-tokohnya adalah Imam Ahmad al-Muhajir, Imam Ubaidillah, Imam Alwi bin Ubaidillah, Bashri, Jadid, Imam Salim bin Bashri.

2. Syaikh (dari abad VII H sampai abad XI H).

Tahapan ini ditandai dengan berkembangnya tasawuf, bidang perekonomian dan mulai berkembangnya jumlah keturunan al-Muhajir. Pada masa ini terdapat beberapa tokoh besar seperti Muhammad al-Faqih al-Muqaddam sendiri. Ia lahir, dibesarkan dan wafat di Tarim.

3. Habaib (dari pertengahan abad XI sampai abad XIV).

Tahap ini ditandai dengan mulai membanjirnya hijrah kaum Alawi keluar Hadramaut. Dan di antara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini, di antaranya kerajaan Alaydrus di Surrat (India), kesultanan Al-Qadri di kepulauan Komoro dan Pontianak, al-Syahab di Siak dan Bafaqih di Filipina.

Silsilah keturunan Nabi Muhammad SAW. (Gambar: Istimewa)
Tokoh utama Alawi masa ini adalah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, juga terdapat Habib Abdurahman bin Abdullah Bilfaqih, Habib Muhsin bin Alwi al-Saqqaf, Habib Husain bin Syaikh Abu Bakar bin Salim, Habib Hasan bin Soleh al-Bahar, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi.

4. Sayyid (mulai dari awal abad XIV ).

Di antara para tokoh tahap ini ialah Imam Ali bin Muhammad al-Habsyi, Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Allamah Abu Bakar bin Abdurahman Syahab, Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Husain bin Hamid al-Muhdhar.

Sejarawan Hadramaut Muhammad Bamuthrif mengatakan bahwa Alawiyin atau qabilah Ba’alawi dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika.

Jauh sebelum itu, yaitu pada abad-abad pertama hijriah julukan Alawi digunakan oleh setiap orang yang bernasab kepada Imam Ali bin Abi Thalib, baik nasab atau keturunan dalam arti yang sesungguhnya maupun dalam arti persahabatan akrab. Kemudian sebutan itu (Alawi) hanya khusus berlaku bagi anak cucu keturunan Imam al-Hasan dan Imam al-Husein.

Dalam perjalanan waktu berabad-abad akhirnya sebutan Alawi hanya berlaku bagi anak cucu keturunan Imam Alwi bin Ubaidillah. 


Alwi adalah anak pertama dari cucu-cucu Imam Ahmad bin Isa yang lahir di Hadramaut. Keturunan Ahmad bin Isa yang menetap di Hadramaut ini dinamakan Alawiyin diambil dari nama cucu beliau Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa yang dimakamkan di kota Sumul.

Sejarah Masuknya Para Habaib ke Nusantara

Bangsa Arab telah sejak berabad lamanya melakukan perniagaan dengan berbagai negara di dunia, yang menciptakan jalur-jalur perdagangan dan komunitas-komunitas Arab baru di berbagai negara.

Dalam berbagai sejarah dinyatakan bahwa kaum Arab yang datang ke Indonesia merupakan koloni Arab dari daerah sekitar Yaman dan Persia. 


Namun, yang dinyatakan berperan paling penting dan ini diperlihatkan dengan jenis madzhab yang ada di Indonesia, dimungkinkan adalah dari Hadramaut. Dan orang-orang Hadramaut ini diperkirakan telah sampai ke Indonesia semenjak abad pertengahan (abad ke-13) sesudah adanya huru-hara di Baghdad.

Tujuan awal kedatangan mereka adalah untuk berdagang sekaligus berdakwah, dan kemudian berangsur-angsur mulai menetap dan berkeluarga dengan masyarakat setempat.

Walaupun masih ada pendapat lain seperti menyebut dari Samarkand (Asia Tengah), Champa atau tempat lainnya, tampaknya itu semua adalah jalur penyebaran para Mubaligh dari Hadramawt yang sebagian besarnya adalah kaum Sayyid (Syarif).

Para sayyid Alawiyin menyebarkan da’wah Islamiyah di Asia Tenggara melalui dua tahap, pertama hijrah ke India. Kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke Asia Tenggara melalui pesisir India.

Di antara yang hijrah ke India adalah syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota Kanur, dan salah seorang Habaib lainnya adalah Syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Ahmadabad dan Surat.

Peta penyebaran agama Islam di kawasan Nusantara. (Gambar: istimewa)
Ia hijrah atas permintaan kakeknya Syarif Syech bin Abdullah Alaydrus. Begitu pula keluarga Abdul Malik yang diberi gelar ‘Azhamat Khan’.
 
Dari keluarga inilah asal keturunan penyebar Islam di Jawa yang disebut dengan Wali Songo. Kemudian dari India, mereka melanjutkan perjalanannya ke Indonesia, yaitu daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.

Menurut Prof. Dr. Hamka, sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia hingga mencapai Filipina.


Para habaib ini memiliki andil dan jasa besar dalam penyebaran agama Islam di seluruh Nusantara. Penyebar Islam dan pembangun kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh.

Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanau dan Sulu. Di Aceh para keturunan habaib seperti Sultan
Iskandar Muda, dan diteruskan oleh para Sayyid dari keluarga Jamalullail, secara turun temurun menjadi raja Aceh yang membantu penyebaran agama Islam secara cepat di wilayah tersebut.


Kerajaan Pontianak di Kalimantan pernah diperintah bangsa sayid Al-Qadri. Kerajaan Siak oleh keluarga sayid Bin Syahab. Kerajaan Perlis (Malaysia) dirajai oleh keluarga sayid Jamalullail. 

Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak, Tun Tuanku Haji Bujang berasal dari keluarga Alaydrus. 

Kedudukan mereka di negeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi ulama.

Para habaib yang datang dari Hadramaut umumnya berasal dari keturunan Isa al-Muhajir dan al-Faqih al-Muqaddam.

Sejumlah keluarga atau fam keturunan Rasulullah SAW yang terdapat di Indonesia dan banyak kita kenal saat ini diantaranya seperti: keluarga Alatas, Assaqaf, Alkaf, Bafaqih, Alaydrus, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Al-Haddad, Bin Smith, Bin Syahab, Al-Qadri, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Basyaiban, Ba’abud, Al-Zahir, Bin Yahya dan lain-lain.

Menurut keterangan almarhum sayid Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab, dzurriyat Nabi Muhammad SAW telah berkembang jadi 199 keluarga besar di seluruh dunia.


Sedangkan Rabithah Alawiyah, organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad SAW, mendata ada 151 marga segaris keturunan Nabi yang masih ada di dunia, termasuk Indonesia.
Para ulama sembilan atau biasa disebut Wali Songo, merupakan para pendakwah keturunan Nabi Muhammad SAW yang memiliki andil besar dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. (Foto: Istimewa)
Dari marga ini, ada sejumlah nama yang kurang dikenal seperti Al Tuwainah, Al bin Sumaithon atau Al Quthhan.

Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad bin Isa al-Muhajir bin Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far al-Shaddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain al-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib. 

As-Sibthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari Fathimah binti Rasulullah saw.

Orang-orang Arab Hadramaut mulai datang secara massal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir abad 18, dan mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820 hingga tahun 1870. 


Sedangkan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal. Perberhentian mereka yang pertama adalah Aceh. Dari sana mereka menyebar ke Palembang, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan wilayah Nusantara lainnya.

Kebanyakan para Habaib ini menempuh jalan Thariqah. Diantaranya thariqah As-Sadah Al-Ba’Alawi adalah suatu tarekat sufi Islam Sunni yang terkenal, yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Ali Ba’alawi, dan sanad keilmuannya tersambung kepada Nabi.


Tarekat ini kemudian semakin berkembang pesat di tangan Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Tarekat tersebut akhirnya menyebar ke berbagai negara diantaranya Yaman, India, Pakistan, Indonesia, Malaysia dan negara-negara lainnya di dunia.

Di Kemudian hari, keluarga Ba’alawi ini masuk ke wilayah Nusantara seiring gelombang penyebaran Islam ke bumi Nusantara. Apalagi saat itu, Nusantara menjadi objek kunjungan dagang, melalui Bandar Malaka.

Jalur yang kedua melalui ulama sufi, yakni Syaikh Abu Madyan Syu’aib dimana sanad mata rantai keilmuannya juga akhirnya tersambung sampai Rasulullah SAW. 

Para sejarawan barat meyakini, Islam bercorak sufistik itulah yang membuat penduduk nusantara yang semula beragama Hindu dan Buddha menjadi sangat tertarik. 


Tradisi dua agama asal India yang kaya dengan dimensi metafisik dan  spiritualitas itu dianggap lebih dekat dan lebih mudah beradaptasi dengan tradisi thariqah yang dibawa para wali.

Di kalangan Habaib selain dipercaya memperoleh sanad kelimuan dan thariqah melalui jalur nasab (keturunan), atau marga. Mereka juga berburu sanad (mata rantai keilmuan) ke ulama dan habaib yang lebih senior dan berbobot baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Peran Habaib dalam Membantu Kemerdekaan Indonesia

Selain sebagai pendakwah para habib juga banyak berperan dalam membantu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, banyak catatan sejarah yang seakan dihilangkan dan ditutupi mengenai sumbangsih para habib dalam dan membantu pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sultan kerajaan Pontianak, Kalimantan, Sultan Hamid II, merupakan seorang habaib yang menciptakan
lambang negara Garuda Pancasila pada pertama kali. (Foto: istimewa)
Salah satu catu contohnya adalah pada sosok keluarga Al-Qadri yang merupakan pendiri kerajaan Pontianak. salah satu keturunan habib di kerajaan tersebut, yakni Sultan Hamid II, merupakan tokoh yang menciptakan lambang negara Garuda Pancasila. Tak hanya itu saja dia juga menyerahkan wilayah kekuasaanya menyatu dengan negara Indonesia.

Padahal kalau Sultan Hamid II mau, dia bisa berkuasa menjadikan kerajaannya negara mandiri yang merdeka, karena dia adalah tokoh elit negara Republik Indonesia Serikat. Belanda pasti mau menyokong dan membantunya.

Di Jakarta, pada hari Jumat,  9 Ramadhan 1364 H, bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945, Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi membantu menyebarkan dan mensosialisasikan berita mengenai kemerdekaan Indonesia kepada umat Islam.

Kepada Jamaah yang hadir pada shalat Jumat di Masjid Kwitang, Jakarta, Habib Ali menyampaikan bahwa Indonesia telah merdeka dan menyeruka agar pesan tersebut di sebarkan ke seluruh pelosok negeri.

Habib Ali juga memerintahkan agar seluruh umat Islam memasang bendera negara Indonesia yang berwarna merah dan putih di rumah dan kampungnya masing masing. Habib Ali menegaskan, “Umat Islam harus memahami, apa yang diumumkannya pada hari ini diberitahukan kepada yang tidak mengetahuinya”.

Kabar tentang pengumuman Habib Ali Kwitang cepat menyebar di kalangan masyarakat Jakarta, khususnya para ulama dan Habaib. 


Guru Mansur dari Jembatan Lima yang mendengar akan Maklumat dari sang guru langsung membuat bendera Merah Putih dan langsung dipasang di atas menara masjidnya.

Al-Habib Ali bin Husein Al-Atthas pula tidak ketinggalan ikut memasang bendera merah dan putih di depan kediamannya. Begitu pula Al-Habib Salim bin Jindan yang memasang bendera di depan rumahnya. Sampai- sampai banyak masyarakat yang bertanya kepada Habib Salim.

” Ya Habib Salim gerangan apa dan kenapa bendera warna merah putih kau kibarkan di depan rumahmu ?”

Menjawab Habib Salim, “” Apa kalian tak dengar kabar bahwa ini negeri telah merdeka. Ketahuilah ini negeri telah merdeka dan lambang dari kemerdekaannya adalah bendera Merah Putih ini. Sudah kalian jangan banyak tanya lagi. Lekas kalian buat bendera Merah dan Putih lalu pasang dirumah kalian. Kalau ada yang tanya, bilang kalau negeri ini sudah Merdeka “.

Karena banyaknya masyarakat Jakarta yang tiba-tiba memasang bendera Merah Putih di rumahnya membuat gusar penjajah Jepang yang masih belum rela menerima kemerdekaan Indonesia.  


Para tentara Jepang pun diturunkan untuk mengambil bendera Merah Putih dari masyarakat khususnya di kediaman para tokoh agama Islam.

Tak ketinggalan penggeledahan dilakukan di rumah Habib Ali Kwitang. Habib Ali enggan untuk menurunkannya hingga Habib Ali pun ditahan. Begitu pula kepada Guru Mansur yang diminta menurunkan bendera dari menara masjid.

Para habib di wilayah Batavia yang banyak membantu kemerdekaan Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda dan Jepang. (Foto: Istimewa)
Tetapi Guru Mansur mempertahankannya hingga diberondongkannya peluru ke menara masjid. Tapi Guru Mansur tetap pada pendiriannya yang pada akhirnya Guru Mansur pun ikut ditahan oleh Jepang.

Pihak Jepang pun kewalahan karena makin banyaknya orang yang ditahan. Mengakibatkan tidak cukupnya ruang tahanan. Lalu dengan sangat terpaksa pihak Jepang membebaskan masyarakat yang di dalamnya ada juga para Alim Ulama dan Habaibnya.

Di berbagai pelosok Nusantara, para habaib dari berbagai latar belakang, juga banyak membantu upaya kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda dan Jepang.

Bahkan, sebelum Indonesia merdeka, persisnya pada 4 Oktober 1934 di Semarang, lima tahun setelah Sumpah Pemuda 1928, sejumlah kaum muda keturunan Arab yang diantaranya banyak yang merupakan keturunan habaib, menyatakan mendukung gagasan tanah air Indonesia dan tidak lagi mengaitkan dengan asal-usulnya yaitu Hadramaut, Yaman.

Di Indonesia, umat Islam sangat menghormati dan mencintai para habaib. Selain sebagai keturunan Rasulullah SAW, ulama dan pendakwah, para habaib yang sudah meninggal, di masa dulu banyak yang merupakan tokoh masyarakat, raja dan pemimpin di berbagai pelosok Nusantara. 


Karena itulah, sebagai bentuk penghormatan, makam para habaib selalu ramai diziarahi. Hari wafatnya pun selalu diperingati, yakni dengan acara ‘haul’. 

Sejarah membuktikan, para keturunan Rasullah SAW dan para pengikutnya telah lama berkiprah dan menyatu dalam diri bangsa Indonesia. 

Dan ini memperkuat tesis Prof. Dr. Buya Hamka bahwa Islam di Indonesia dibawa langsung dari Arab, bukan dari China atau Gujarat seperti teori konspirasi para orientalis kolonial Barat. (ju)

*Artikel ini dilansir dari sejumlah laman Islam dan situs berita lainnya

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER