Tidak Pernah Kapok, Sukmawati Kembali Lecehkan Agama Islam - Jurnal Ummah
Load more

Tidak Pernah Kapok, Sukmawati Kembali Lecehkan Agama Islam

Sukmawati Soekarnoputri kembali berulah dengan mengeluarkan pernyataan yang dianggap menghina dan melecehkan Nabi Muhammad SAW.
"Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Sukarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,"
JAKARTA -- Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri dilaporkan ke polisi. Pelaporan itu disangkalkan dengan tuduhan pasal penodaan agama terkait ucapannya yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dan Soekarno, Presiden RI pertama.

Dalam keterangan tertulisnya, organisasi Korlabi selaku pendamping pelapor kasus tersebut menganggap ucapan Sukmawati sudah jelas secara terang menyinggung agama Islam saat menghadiri suatu diskusi, belum lama ini.

"Kami Korlabi mendampingi Ibu Ratih atas nama pribadi/muslimah dengan melaporkan Sukmawati atas dugaan penghinaan kepada Nabi Muhammad dengan apa yang dikatakan oleh Sukmawati, yaitu membandingkan Sukarno dengan Nabi Muhammad," kata Sekjen Korlabi Novel Bamukmin dalam keterangannya, Sabtu 16 Oktober 2019.

Ucapan Sukmawati itu dinilai sebuah penistaan terhadap agama. Pihak pelapor meminta polisi segera mengusut laporan tersebut, dengan melakukan proses hukum terhadap Sukmawati segera dilakukan. Ia juga berharap, masyarakat pun tetap tenang atas kejadian ini.

"Maka dengan kemauan Bu Ratih yang merasa nabinya dibandingkan dengan Sukarno, maka kami dari Korlabi mendampingi beliau agar tidak terjadi gejolak di masyarakat dan cukup urusan ini kami serahkan kepada pihak kepolisian yang sudah punya pimpinan yang baru untuk segera memprosesnya agar hukum tegak demi keadilan bagi seluruh bangsa Indonesia," terang Novel.

Laporan terhadap Sukmawati teregister di Kepolisian Daerah Metro Jaya dengan nomor LP/7363/XI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum, 15 November 2019. Sukmawati dilaporkan atas tuduhan penistaan agama Pasal 156a KUHP.

Adapun ucapan Sukmawati itu dilontarkan pada saat dirinya menghadiri sebuah diskusi bertajuk 'Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme' pada Senin (11/11).

Dalam diskusi itu, awalnya Sukmawati berbicara tentang perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan RI dari jajahan Belanda. Kegiatan itu sendiri dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2019. Sukmawati kemudian melontarkan pertanyaan kepada forum.

"Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Sukarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini," tanya Sukmawati dalam video yang viral.

Forum hening. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya itu. Dia pun lalu melontarkan kembali pertanyaan itu kepada forum yang dihadiri sejumlah mahasiswa.

"Di abad 20, yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia itu Nabi Yang Mulia Muhammad atau Ir Sukarno? Tolong jawab, silakan anak-anak muda, saya mau tahu jawabannya, ayo jawab, nggak ada yang berani? Saya mau yang laki-laki, kan radikalis banyaknya laki-laki," lanjutnya.

Seorang mahasiswa kemudian berdiri. Sukmawati pun menanyakan identitas mahasiswa yang akan menjawab pertanyaannya itu.

"Saya Muhammad Takim Maulana, mahasiswa UIN Syarief Hidayatullah Jakarta Selatan. Memang benar pada awal ke 20 yang berjuang itu Ir Sukarno, nah...," ucapan Takim langsung dipotong Sukmawati.

"Oke, setop. Hanya itu yang Ibu mau tanya," ucapnya.

Dia kemudian meminta mahasiswa lain menjawabnya. Kali ini ada mahasiswa asal Papua yang menjawab 'Soeharto', yang kemudian mengundang gelak tawa para hadirin.

Sukmawati pun melanjutkan pidatonya. Menurutnya, adalah hal yang wajar apabila kita menghormati para pejuang terdahulu.

"Memangnya kita nggak boleh menghargai, menghormati, orang-orang mulia di awal-awal, pokoknya abad modern? Apakah suri teladan itu hanya Nabi? Ya, oke, nabi-nabi, tapi pelajari perjalanan sejarah, ada revolusi industri. Apakah kita tidak boleh menghargai seperti Thomas Jefferson, Thomas Alva Edison, orang-orang mulia untuk kesejahteraan manusia," kata Sukmawati.

Saat dikonfirmasi, Sukmawati mengaku saat diskusi itu dirinya melemparkan pertanyaan terkait sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Kala itu, ia bermaksud, bahwa banyak generasi muda saat ini banyak meninggalkan sejarah.

Adapun tujuan pertanyaan soal itu, menurut Sukmawati, adalah ingin mengetahui apakah generasi muda paham dengan sejarah Indonesia atau tidak.

“Ya bertanya, saya ingin tahu jawabannya seperti apa, fakta sejarahnya, pada mengerti enggak sejarah Indonesia? Terus dijawab mahasiswa itu insinyur Soekarno,” ujar Sukma, saat dihubungi VIVAnews, Jumat, 15 November 2019.

Maka dari itu, Sukmawati menegaskan tidak ada maksud untuk melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW atau membandingkannya dengan proklamator negeri ini. Dia menjelaskan, pertanyaan itu konteksnya terkait kemerdekaan Republik Indonesia di awal abad ke-20. Sementara para Nabi sudah meninggal pada saat itu.

“Ibu hanya bertanya, menurut fakta sejarah di abad 20 di mana pastinya kan nabi sudah tidak ada. Selama ini kan saya agak merasa generasi muda tahu sejarah kemerdekaan yang berdarah-darah enggak sih, itu yang saya ingin tahu juga. Saya mau bertanya saja, di awal abad 20,” tuturnya.

MUI: Sukmawati Sengaja Melecehkan Nabi Muhammad SAW


Sekjen Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Tengku Zulkarnain menyebut Sukmawati sengaja melecehkan Nabi Muhammad. Untuk itu, dia mendesak kepolisian agar segera menangkap Sukmawati.

"Secara akal dan bahasa, ngapain dia bawa-bawa baginda Nabi di abad 20 bagi NKRI? Bukankah nabi sudah wafat 14 abad yang lalu? Ini unsur kesengajaan melecehkan nabi. Tangkap!" begitu cuit Zulkarnain lewa akun Twitternya, Minggu (17/11).

Zulkarnain menambahkan, jika Kapolri Jenderal Idham Azis tidak mengusut kasus Sukmawati, maka umat Islam mesti memberikan sanksi sosial kepada orang ini.

"Berikan sanksi sosial kepadanya, termasuk tidak menyalatkan mayatnya jika mati adalah sebuah pelajaran bagi penista agama yang lain, " pungkasnya.

Pernyataan Sukmawati Soekarnoputri yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden pertama Sukarno menuai kontroversi dan turut diperbincangkan di media sosial. Tagar #TangkapSukmawati pun menguasai topik di Twitter hari ini.

Tidak Pernah Kapok, Sukmawati Sering Menghina Islam

Sukmawati Soekarnoputri diketahui bukan sekali ini saja melakukan tindakan yang dianggap melecehkan agama Islam. Sebelumnya, Sukmawati tersandung masalah hukum. Ia dikecam usai membacakan puisi berjudul 'Ibu Indonesia' dalam pagelaran 29 tahun Anne Avantien Berkarya, Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, 29 Maret 2018 lalu.

Pangkal permasalahan berada di isi puisi tersebut yang menyinggung adzan serta cadar yang merupakan identitas penganut agama Islam. Bagaimana tidak, Sukma membandingkan 'kidung' dengan 'azan' dan 'cadar' dengan 'tusuk konde'.

Praktis, puisi itu menuai reaksi, baik pro dan kebanyakan kontra. Hingga akhirnya berujung pada pelaporan ke polisi.

Sukmawati dilaporkan oleh seorang pengacara bernama Denny Adrian Kushidayat dan politisi Partai Hanura, Amron Asyhari. Denny mengaku mewakili umat Islam dalam membuat laporan karena menilai Sukmawati melalui puisi yang ditulisnya melecehkan dan menghina umat Islam. Kedua orang itu membuat laporan ke Polda Metro Jaya pada 3 April 2018.

Seorang pengacara bernama Azam Khan juga melaporkan Sukmawati ke Bareskrim Polri. Azam melapor bersama AAB (Aliansi Anak Bangsa) dan TPUA (Tim Pembela Ulama Aktivis). Barang bukti dibawa adalah puisi dalam bentuk tangkapan layar dan video saat puisi tersebut dibacakan Sukmawati. Pasal disangkakan adalah tindak pidana penistaan agama UU Nomor 1 tahun 1946, tentang KUHP 156 dan atau 156a.

Selain itu laporan juga dilayangkan Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur ke Polda Jatim pada Selasa (3/4). Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jatim, Rudi Tri Wahid, mengatakan laporannya mewakili Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU).

Setelah mendapat kecaman dari berbagai kalangan, khususnya umat Islam di seluruh Indonesia, Sukmawati menggelar jumpa pers di Warung Daun, Cikini, Rabu (4/4), dengan berurai air mata, ia meminta maaf kepada umat Islam. Selanjutnya pada Kamis (5/4), Sukmawati mendatangi Kantor MUI di Jakarta Pusat. Hasil dari pertemuan itu, Ketua MUI, KH Ma'aruf Amien pun mengimbau umat Islam agar Sukmawati.

Bukannya meredam, permintaan maaf Sukma malah membuatnya semakin dikecam. Presidium Alumni (PA) 212 menggelar aksi unjuk rasa yang dinamakan Aksi Bela Islam pada Jumat (6/4). PA 212 menilai Sukmawati menistakan agama Islam melalui puisinya. Unjuk rasa digelar mulai dari Masjid Istiqlal menuju Gedung Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat.

Aksi unjuk rasa juga berlangsung di Solo, Jawa Tengah. Peserta aksi berasal dari FPI, MMI, LUIS, JAS, dan Laskar Hizbullah. Aksi dipusatkan depan Mapolresta Solo itu digelar oleh Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS). Mereka meminta kepolisian untuk segera memproses Sukmawati.

Aneh, Polisi Hentikan Kasus Penistaan Agama yang Dilakukan Sukmawati.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta mengatakan akan membentuk tim khusus untuk menyelidikinya agar proses penyelidikan berjalan dengan cepat.

Pada pertengahan April, Bareskrim Polri mengambil alih penanganan kasus dugaan penodaan agama yang dilakukan Sukmawati Soekarnoputri. Penanganan diambil alih Bareskrim Polri lantaran laporan terhadap Sukmawati dilakukan di beberapa tempat. Setidaknya ada sekitar 18 laporan kepolisian yang telah diterima.

Setelah hampir tiga bulan, polisi kemudian menghentikan penyelidikan terhadap dugaan penistaan agama yang dilakukan Sukmawati dengan menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyelidikan (SP3). Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal menyatakan, berdasarkan hasil penyelidikan, tak ditemukan perbuatan melawan hukum atau perbuatan pidana.

"Sehingga perkara tersebut tidak dapat dinaikkan atau ditingkatkan ke tahap penyidikan. Maka kasus tersebut di-SP3," ujar Iqbal dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (17/6).

Iqbal mengatakan dalam kasus dugaan penistaan agama ini polisi menerima 30 laporan dari Bareskrim dan Polda seluruh jajaran. Pasal yang dilaporkan yaitu Pasal 156 KUHP, Pasal 156a KUHP, Pasal 16 UU No 40/2008, Pasal 45a ayat 2 UU No 19/2016 tentang Perubahan UU No 11/2008 tentang ITE jo Pasal 28 ayat 2 UU No 11/2008 ttg ITE.

Namun, walau begitu banyak laporan yang datang dari masyarakat, Polri tetap tidak bisa menyeret Sukmawati ke meja hukum. Banyak pihak yang menganggap bahwa ada kekuatan besar berada di belakang Sukmawati, sehingga terus kebal dari jeratan hukum. Bahkan banyak masyarakat yang menganggap rezim pemerintahan Jokowi yang selama ini dianggap memusuhi Islam, berada di belakang diberhentikannya kasus hukum penistaan agama yang menjerat Sukmawati.(ju)

Tags

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Shares ShareTweet
advertisement centil

Jurnalummah.com adalah portal berita dan informasi seputar dunia Islam dari dalam dan luar negeri.Seluruh materi dalam situs Jurnalummah.com bebas copy untuk keperluan non-komersial dan referensi, dengan mencantumkan sumbernya (Jurnalummah.com). Anda bisa turut berpastisipasi dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Editor Picks

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER